Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

layanan email PPLN Paramaribo : ppln.paramaribo@kbri-paramaribo.sr     |       layanan email kbri : indonemb@sr.net     |       layanan email konsuler : konsuler@kbri-paramaribo.sr     |       

Profil Negara dan Kerjasama

Suriname

HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA - SURINAME
  1. POLITIK

  2. Hubungan bilateral Indonesia - Suriname sudah dimulai sejak bulan Agustus 1951, ketika Suriname masih berada dibawah pemerintahan penjajah Belanda, dengan membuka kantor perwakilan pada tingkat Komisariat di Paramaribo. Kantor komisariat tersebut sejak tahun 1958 - 1964 ditutup akibat merenggangnya hubungan antara Indonesia dan Belanda. Pada tahun 1964 pemerintah Indonesia membuka kembali perwakilannya di Suriname pada tingkat Konsulat Jenderal. Hubungan Indonesia - Suriname meningkat sejak tahun 1975 setelah Suriname memperoleh kemerdekaan dari Belanda, dengan pembukaan perwakilan R.I pada tingkat Kedutaan Besar.

    Hubungan baik ke dua negara ditandai dengan saling kunjung antara ke dua pemimpin. Pada tanggal 11-14 Mei 1994, Presiden Suriname Ronald Venetiaan melakukan kunjungan ke Indonesia dan Presiden Indonesia Soeharto melakukan kunjungan balasan ke Suriname pada tahun 1995. Pada tanggal 14-17 Oktober 1997 Presiden Suriname Wijdenbosch berkunjung ke Indonesia atas undangan Presiden Soeharto. Pada bulan Maret 2001, Menteri Sosial dan Kesejahteraan Rakyat Suriname Paul Salam Somohardjo berkunjung ke Indonesia. Pada tanggal 13-15 November 2001 delegasi DPR-RI dipimpin Soetardjo Soerjoguritno mengadakan kunjungan ke Suriname, dan pada bulan Agustus 2002 delegasi Parlemen Suriname berkunjung ke Indonesia. Selain itu, Pemerintah Indonesia pernah menyumbang dana untuk pemilu Suriname tahun 2000 sebesar US$ 20 ribu.

    Kerjasama antara ke dua negara juga dipererat dengan penyelenggaraan Sidang I Komisi Bersama (Joint Commission) Indonesia - Suriname diadakan di Paramaribo pada tanggal 3-5 April 2003 dan Sidang II diadakan di Yogyakarta pada tanggal 22 November 2004. Komisi Bersama telah membahas berbagai bidang kerjasama yang dapat memberi manfaat kepada ke dua belah pihak, diantaranya di bidang perdagangan dan UKM (Usaha Kecil Menengah), investasi, pertanian, perikanan, komunikasi dan informasi, sosial budaya, pendidikan, pemuda dan olah raga, serta pertahanan dan keamanan. Sementara itu, penyelenggaraan Sidang III Komisi Bersama diadakan di Paramaribo pada tanggal 14-16 Mei 2007. Sidang IV Komisi Bersama diadakan di  Soloakan pada tanggal 9-10 November 2009.

  3. EKONOMI / PERDAGANGAN

  4. Kebutuhan dalam negeri Suriname sebagian besar dipenuhi melalui impor, karena sektor produksi kurang berkembang. Kondisi ini merupakan potensi bagi sasaran eskpor komoditi Indonesia sekalipun penduduknya hanya 492.829 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 1,3 % per tahun. Hubungan Perdagangan antara Indonesia dan Suriname menurut Biro Pusat Statistik ke dua negara, paling tinggi sekitar US$ 5 juta (tahun 2000). Namun, apabila dikaitkan dengan jumlah penduduk Suriname yang kurang dari setengah juta orang, nilai perdagangan antara ke dua negara cukup signifikan.
    Hubungan perdagangan ke dua negara masih relatif kecil. Tahun 2000, ekspor Indonesia sebesar US$ 4,8 juta dan impor sebesar US$ 9 ribu. Tahun 2001, ekspor Indonesia mencapai US$ 1,6 juta dan impor sebesar US$ 91 ribu. Tahun 2002, ekspor Indonesia US$ 1,2 juta dan impor US$ 88 ribu. Tahun 2003, ekspor Indonesia mencapai US$ 2,08 juta. Komoditi ekspor Indonesia ke Suriname adalah tekstil, pakaian jadi, furniture, peralatan rumah tangga, peralatan plastik, sepatu, makanan, bumbu, dan alat musik. Sedangkan dari Suriname berupa pupuk dalam bentuk crude, buah-buahan  segar dan kering.

    Hubungan perdagangan ke dua negara masih dihadapkan pada berbagai hambatan, diantaranya masih kurangnya kontak langsung antar pengusaha Indonesia-Suriname, jauhnya jarak, belum adanya hubungan pelayaran langsung, dan adanya saingan dari negara-negara di kawasan Karibia, Amerika Selatan, Afrika, dan Asia (terutama Jepang, Cina, India). Biasanya para pengusaha Suriname melakukan kontak dagang langsung ke Indonesia sambil memanfaatkan masa liburan.

    Peluang untuk meningkatkan hubungan perdagangan ke dua negara adalah usaha makanan khas Indonesia (Jawa) yang cukup baik. Ada fanatisme kalangan Suriname keturunan Jawa terhadap produk Indonesia. Pangsa pasar tradisional produk Indonesia masih cukup besar. Ada keinginan mengambil tenaga kerja asal Indonesia, yang dipandang cukup rajin dan tidak banyak menuntut. Suriname merupakan negara anggota CARICOM yang penting, dan memiliki kedudukan strategis dalam pemasaran produk Indonesia di kawasan Karibia. Posisi negara ini menjadi lebih penting mengingat masih banyak produk Indonesia yang masuk ke kawasan Karibia melalui negara ketiga.

    Sementara itu, investasi Suriname ke Indonesia masih belum memungkinkan. Lebih dimungkinkan adalah investasi Indonesia ke Suriname, terutama di bidang perkayuan. Satu-satunya investasi Indonesia adalah di bidang kehutanan oleh NV Musa Indo Suriname sejak tahun 1992. Namun sejak tahun 2001 terhenti karena kehabisan dana.

    Neraca Perdagangan Indonesia-Suriname
    (dalam ribuan US$)

    Tahun Ekspor Impor Saldo Volume
    2000 4.856.073 8.790 +4.847.283 4.864.863
    2001 1.645.500 90.574 +1.554.926 1.736.074
    2002 1.734.953 88.714 +1.646.239 1.823.667
    2003 2.089.000 0 +2.089.000 2.089.000
    2004 3.250.909 544 +3.250.365 3.251.453


    Sebagai tindak lanjut dari salah satu kesepakatan yang dicapai pada Sidang I Komisi Bersama Indonesia-Suriname di bidang budidaya perikanan, pada akhir Maret 2004, Indonesia telah mengirim seorang tenaga ahli perikanan Syaifuridjal M.Ed (Departemen Kelautan dan Perikanan) untuk memberikan pelatihan budidaya ikan air tawar, khususnya ikan gurame, di Suriname. Pelatihan tersebut dianggap sukses, sehingga Suriname meminta tambahan masa pelatihan dari 3 bulan menjadi 4 bulan (sampai akhir Agustus 2004).

  5. SOSIAL BUDAYA

  6. Bidang sosial budaya memberikan kontribusi yang sangat penting dalam meningkatkan hubungan bilateral Indonesia - Suriname di berbagai bidang. Melalui pendekatan sosial budaya, diharapkan dapat mempermudah hubungan di bidang lainnya. Berbagai upaya terus dilaksanakan, antara lain, pegelaran seni budaya tradisional, penyelenggaraan kursus bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, kursus tari, ngadi busono, kursus wayang dan karawitan. Selain di Paramaribo, kursus juga diselenggarakan di luar kota, seperti Nickerie, Saramacca, dan Tamanredjo. Peserta dan alumni kursus-kursus ini telah mencapai ratusan orang dari berbagai kalangan yang tersebar di seluruh Suriname.

    Kegiatan sosial budaya juga dilaksanakan melalui berbagai event, yang diselenggarakan atas kerjasama dengan pemerintah setempat maupun dengan berbagai organisasi kemasyarakatan non-pemerintah, antara lain VHJI (Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie/Persatuan Mengenang Imigrasi Warga Jawa di Suriname), Indra Maju, Putri Mardi Bekso, Kartika Budaya, Jot Dancer dan organisasi budaya masyarakat Suriname dari etnik lainnya.

    KBRI juga aktif memenuhi undangan-undangan dari pemerintah Suriname untuk mengisi atraksi seni budaya Indonesia pada berbagai kesempatan, seperti acara-acara pengumpulan dana oleh organisasi sosial yang dipimpin oleh Ibu Negara, Ny. Liesbeth Venetiaan.

    Di samping itu Suriname juga aktif mengirimkan siswa untuk dapat mengikuti berbagai program pendidikan dan pelatihan (diklat) di Indonesia, seperti program dharmasiswa, beasiswa pasca sarjana GNB, dan bantuan guru seni-budaya.

  7. PENERANGAN

  8. Dalam upaya pemberdayaan informasi dan promosi, telah terjalin kontak yang baik antara KBRI dan media massa setempat. Di suriname terdapat 4 surat kabar berbahasa Belanda dan 1 harian berbahasa Inggris, 13 stasiun televisi (8 menggunakan bahasa Belanda, 3 bahasa Jawa dan 2 bahasa India), 18 stasiun radio (10 menggunakan bahasa Belanda, 5 bahasa India, dan 3 bahasa Jawa).

    Kontak ini terus ditingkatkan melalui kerja sama di berbagai kegiatan dalam upaya mempromosikan citra positif Indonesia, penyebaran informasi pembangunan poleksosbudpenhankam Indonesia dan publikasi kegiatan-kegiatan misi dan diplomasi yang diselenggarakan oleh KBRI.

    Pengisian acara siaran warta berita berbahasa Indonesia di Radio Pertjajah Luhur (FM Stereo 95,3) program Indonesia Menyapa setiap hari Minggu pk.07.00 - 08.00. Bahan siaran dipersiapkan oleh KBRI Paramaribo. Pembaca berita dilakukan secara bergiliran oleh ibu-ibu DWP-KBRI Paramaribo dan mulai dicoba lulusan terbaik peserta kursus Bahasa Indonesia (WN Suriname keturunan Jawa.

  9. PERTAHANAN DAN KEAMANAN

  10. Pada Sidang II Komisi Bersama Indonesia – Suriname, telah disepakati bidang kerjasama Pencegahan Kriminal. Indonesia mengundang anggota polisi Suriname untuk mengikuti Sespimpolri tahun 2006. Seorang perwira polisi Inspector of Police 1st Class Suriname yang telah terpilih untuk mengikuti program tersebut untuk program Februari – Oktober 2006, karena sesuatu hal tidak jadi berpartisipasi, namun tetap dialokasikan untuk tahun ajaran 2007.

    Dalam bidang hankam, sesuai dengan hasil Sidang II Komisi Bersama, Indonesia menawarkan kepada Suriname untuk mengirimkan perwira AD untuk mengikuti Seskoad. Pihak Suriname telah mengirimkan Mayor Lesley Paul Nojodipo sebagai peserta Seskoad untuk tahun 2007.


Gedung KBRI Paramaribo
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Syarat dan Ketentuan