GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN KENYA

 

Beberapa pihak memperkirakan bahwa Kenya akan menjadi “African Tiger”. Salah satu langkah nyata menjadikan Kenya sebagai negara industri baru di Afrika adalah pencanangan “Vision 2030” yang didasarkan 3 (tiga) pilar yaitu pertumbuhan ekonomi, pembangunan sosial dan kedewasaan sistem demokrasi.

 

Untuk mendukung program ini, salah satu kebijakan yang akan diterapkan adalah Look East Policy. Intinya, Kenya ingin mengadopsi berbagai keberhasilan negara di Asia selain China, India, Jepang, dan Korea Selatan yang selama ini telah memiliki hubungan perdagangan yang baik. Salah satunya adalah dengan negara-negara di Asia Tenggara.

 

Gedung Pencakar Langit di Kawasan Pusat Bisnis Nairobi

 
Guna mencapainya, Kenya masih terkendala pada minimnya infrastruktur yang baik misalnya jalan aspal yang baik, kualitas sumberdaya manusia yang umumnya berpendidikan rendah, pejabat Kenya yang belum sepenuhnya pro rakyat, tingginya korupsi, serta mudahnya pejabat Kenya mengubah kebijakan ekonomi dan perdagangan sehingga memicu kekacauan sistem dan ketidakpastian di kalangan pengusaha dan investor.

 

Untuk mendukung pencapaian Vision 2030 maka mulai tahun 2008 Pemerintah menggalakkan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran khususnya di bidang konstruksi jalan, sarana telekomunikasi dan pembangkit tenaga listrik. Hal ini merupakan peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan oleh pebisinis Indonesia.

 

Kenya adalah negara agraris di mana sekitar 80% penduduknya bergantung pada sektor pertanian terutama produk hortikultura (khususnya bunga segar), kopi, teh, jagung (sebagai makanan pokok), tebu, kapas, tembakau, dairy products, serta hides & skins. Sedangkan penyumbang devisa utama Kenya berasal dari ekspor hortikultura, bunga segar, teh, kopi dan industri pariwisata.

 

Walaupun memperoleh devisa cukup besar dari ekspor, tetapi Kenya tetap bergantung pada impor berbagai produk misalnya consumer goods, alat dan kendaraan bermotor, dan minyak bumi.

 

Sektor pariwisata yang merupakan penyumbang devisa terbesar kedua sempat mengalami penurunan drastic akibat krisis awal tahun 2008. Pada akhir tahun 2007, sekitar 2 juta wisatawan asing berkunjung ke Kenya dan menghasilkan devisa sebesar KShs 65 milyar atau sekitar US$ 1 milyar (catatan: kurs waktu itu adalah US$ 1- Ksh 65). Namun kerusuhan pasca Pemilu Desember 2007 mengakibatkan jumlah wisatawan asing anjlok sekitar 54 persen pada awal tahun 2008. Saat ini Kenya terus memulihkan sektor pariwisatanya yang sempat terganggu akibat kondisi keamanan yang kurang baik.

 

Beberapa tahun terakhir, industri di sektor jasa khususnya teknologi informasi, media massa, jasa keuangan (bank dan pasar modal), dan transportasi telah mengukuhkan Kenya sebagai pemain utama di tingkat regional.

 

Setelah pertumbuhan ekonomi anjlok pada tahun 2008 menjadi 1,7% dan pertumbuhan ekonomi yang tetap lemah pada tahun 2009 dan berada pada angka 1,8% sebagai akibat imbas resesi ekonomi global, Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 semakin membaik dengan angka seputar 4%, serta akan terus tumbuh melampaui angka 5% pada tahun 2011-2013. Perbaikan ini didorong antara lain oleh meningkatnya volume perdagangan dan ekspansi investasi. Namun hambatan yang perlu diwaspadai adalah masih buruknya infrastruktur.

 

Beberapa sumber informasi penting mengenai Kenya dapat diakses dari beberapa website di bawah ini:

 

Pemerintah Kenya                                   :    www.kenya.go.ke

Kenya Investment Authority                     :    www.investmentkenya.com

Export Promotion Council                        :    www.epckenya.org

Kenya Wildlife Service                             :    www.kws.org

Kenya Tourist Board                                :    www.magicalkenya.com

Media

Kenya Broadcasting Corporation (KBC)  :    www.kbc.co.ke

Daily Nation                                              :    www.nation.co.ke  

The Standard                                           :    www.standardmedia.co.ke   

 

Hubungan Bilateral

 

Hubungan diplomatik Indonesia dengan Kenya dibuka pada bulan Juli 1979 yang ketika itu dirangkap oleh KBRI Dar Es Salaam, Tanzania. KBRI Nairobi secara resmi dibuka di Nairobi pada bulan April 1982. Secara politis hubungan antara kedua negara berlangsung dengan baik dalam prinsip saling menghormati, tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing, dan dalam banyak fora internasional,  khususnya dalam kerangka kerjasama Selatan-Selatan dan Gerakan Non-Blok (GNB) saling dukung, utamanya  dalam posisi maupun pencalonan keanggotaan kedua negara pada berbagai organisasi/badan internasional.

Hubungan bilateral RI-Kenya memasuki era baru dengan ditandatanganinya MoU Pembentukan Komisi Bersama (Joint Commission) antara RI dan Kenya oleh Menlu kedua negara pada tanggal 19 Juni 2008 di Nairobi, Kenya. Komisi Bersama merupakan forum untuk memperluas dan memperdalam bidang-bidang kerjasama serta untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh kedua negara.

 

Pertemuan Pertama Komisi Bersama RI-Kenya dilaksanakan di Jakarta pada 2-4 Desember 2008. Beberapa bidang kerjasama telah diidentifikasi meliputi ekonomi, perdagangan, sosial budaya dan kerjasama teknik. Untuk peningkatan people-to-people contact telah dilakukan kerjasama pendidikan diplomat (diplomat Kenya dididik di Pusdiklat Kemlu RI), pelatihan para petani dan tenaga perikanan Kenya oleh tenaga ahli perikanan Indonesia,  pendidikan para siswa Kenya di Indonesia baik untuk program gelar (S-2) dan program jangka pendek (kursus dan peningkatan ketrampilan), penjajagan bidang kerjasama hukum dan pertahanan (kunjungan Komisi Penerapan Konstitusi dan Lemhanas Kenya ke Jakarta tahun 2012).

Yang saat ini sedang didorong secara intensif adalah kemungkinan untuk membuka kantor perwakilan diplomatik Kenya setingkat Kedutaan Besar di Jakarta. Selama ini Indonesia masih dirangkap oleh Kedutaan Kenya di Kuala Lumpur.

 

Hubungan Ekonomi dan Potensi Perdagangan

 

Menurut data Kementerian Perdagangan RI, total nilai perdagangan RI-Kenya pada tahun 2012 (hingga bulan November) adalah USD 238,39 juta (ekspor USD 252,7 juta dan impor USD 14,31 juta) dan Indonesia surplus USD 238,39 juta. Neraca perdagangan RI-Kenya cenderung terus meningkat seiring dengan upaya Indonesia dalam memperluas pasar non tradisional di Afrika, dan kebijakan pemerintah Kenya untuk menerapkan “Look East Policy” membuka peluang besar perningkatan kerja sama perdagangan kedua negara.

 

5 Komoditas ekspor utama Indonesia* yaitu meliputi:

1.       Palm oil, refined, bleached & deodor ised (rbd) (HS: 1511909010) senilai US$ 91,47 juta

2.       Crude palm oil (HS: 1511100000) senilai US$ 50,4 juta

3.       Oth industrial monocarboxylic fatty acid (HS: 3823199000) senilai US$ 15,76 juta

4.       Hydrogenated fats in flakes of ground- nut, soya beans, palm oil or coconuts (HS: 1516202100) senilai US$ 7,59 juta

5.       Multiple/cabled yarn cont>=85% by weight of acrylic/modacrylic staple fbrs (HS: 5509320000) senilai US$ 6,98 juta

 

5 Komoditas impor utama dari Kenya* yaitu meliputi:

1.       Black tea (fermented), in packing > 3 kg other than leaf (HS: 0902409000) senilai US$ 6,1 juta

2.       Tanned/crust skins of sheep/lamb, without wool on, in the wet state (HS: 4105100000) senilai US$ 2,78 juta

3.       Other plants, in cut, crushed or powdered form, used for pharmacy (HS: 1211901400) senilai US$ 1,44 juta

4.       Cotton, not carded/combed (HS: 5201000000) senilai US$ 1,22 juta

5.       Other sacks and bags, including cones (HS: 4819400000) senilai US$ 762 ribu.

*data Kemdag hingga November 2012

 

Beberapa komoditas potensial yang diperkirakan memiliki potensi pasar yang cukup besar di Kenya antara lain consumer goods (snacks, biscuit, mie instant, bumbu, minuman instan, makanan dalam kaleng, obat nyamuk, sabun cuci, dll), electrical instruments (lampu/neon, kabel, battery), kosmetik (sabun mandi, shampoo, parfum, deodorant), suku cadang kendaraan bermotor (ban mobil dan accumulator), construction materials (semen, clinker, keramik, pipa, kaca, handel pintu), furniture, household items (tableware, kitchenware, accessories, baik dari bahan plastik dan non-plastik).

Sementara impor utama Indonesia dari Kenya antara lain meliputi soda ash, teh dan produk teh, kulit (hides & skin), kapas,  dan bahan tumbuhan untuk obat-obatan.

 

Di samping perdagangan, Kenya juga sangat potensial untuk dijadikan sebagai mitra kerja sama dan sebagai basis produksi (investasi) dan distribusi barang dan jasa untuk pasar Afrika Timur. Beberapa peluang kerja sama yang bisa dijajaki adalah kerjasama antara maskapai penerbangan nasional Indonesia dengan Kenya Airways yang memiliki jaringan hampir ke seluruh kota di Afrika, kerja sama pengelolaan Taman Nasional, kerja sama promosi pariwisata, investasi di bidang food processing dengan bahan baku lokal (banyak produk pertanian yang belum diproses lebih lanjut), dan investasi di bidang pembangunan perumahan, hotel dan industrial park.