Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Penetapan Darurat I, Mengenai Keadaan Di Syria     |       Himbauan Bagi WNI (terbaru)     |       Selamat datang di website KBRI Damascus     |       Kunjungi Website Portal Kemlu     |       

Profil Negara dan Kerjasama

Suriah

PROFIL NEGARA DAN KERJASAMA BILATERAL
Sejak terpilihnya kembali Presiden Bashar Al-Assad (untuk masa jabatan kedua kalinya 2007-2008) tanggal 19 Juli 2007, Suriah masih berada dalam situasi dikucilkan oleh negara Barat. Hal ini disebabkan oleh kebijakan Suriah yang dianggap mengancam kepentingan Barat di kawasan, dengan mendukung kelompok perlawanan Hizbullah di Lebanon dan Hamas yang berada di Damaskus. pengucilan ini juga disebabkan oleh kasus terbunuhnya mantan PM Lebanon Rafiq Hariri tahun 2005, di mana Suriah dituding berada di belakang peristiwa tersebut. Sementara itu pengucilan Suriah ini justru mendapat dukungan dari negara-negara Arab “moderat” (Arab Saudi, Jordan, Mesir, Kuwait, UAE) yang terlihat ketika terjadi agresi Israel terhadap Lebanon pada musim panas tahun 2006 (akibat penculikan dua serdadu militer Israel oleh Hizbullah). Keadaan ini diperkeruh dengan munculnya kemelut politik di Lebanon yang berlarut-larut, dan bahkan ditambah lagi dengan adanya kecaman Presiden Bashar Al- Assad pada pidato pembukaan Konggres Federasi Wartawan Suriah pasca kemenangan Hizbullah tanggal 15 Agustus 2006 yang mengatakan negara-negara Arab moderat bersikap “setengah banci” dengan menyalahkan Hizbullah bukannya Israel. Oleh karena itu hubungan Suriah dengan negara-negara Arab “moderat” khususnya Saudi Arabia dan Mesir menjadi kurang harmonis. Selain faktor-faktor tersebut di atas pengucilan Suriah juga dikarenakan adanya kedekatan hubungan Suriah-Iran yang dianggap sebagai pihak asing yang ikut campur urusan internal Arab serta mendukung kelompok perlawanan Hizbullah dan Hamas. Pada tanggal 29-30 Maret 2008, Suriah menjadi Tuan Rumah penyelenggaraan KTT Liga Arab ke-20. Meskipun penyelenggaraan KTT ini sempat diboikot oleh Saudi Arabia, Mesir dan Lebanon karena Suriah dianggap menghambat penyelesaian kemelut politik di Lebanon, namun akhirnya semuanya bisa berjalan dengan lancar. Momentum penting ini digunakan sebaik-baiknya oleh Suriah untuk mengirim pesan pada dunia internasional bahwa Suriah mampu berperan di kawasan dan tidak seharusnya dikucilkan. Pesan itu tertuang dalam Deklarasi Damaskus hasil KTT Liga arab ke-20 yang memuat komitmen untuk mempertahankan solidaritas dan persatuan dunia Arab guna mewujudkan perdamaian secara adil dan menyeluruh di kawasan. Suriah sebagai pimpinan baru Liga Arab bertekad untuk menunjukkan iktikad baiknya untuk menyatukan sikap dan langkah menghadapi tantangan masa depan bangsa Arab. Selama menjabat sebagai ketua Liga Arab, Suriah terus konsisten untuk memperkokoh solidaritas antar negara-negara Arab dengan mengobarkan semangat nasionalisme Arab guna mewujudkan perdamaian menyeluruh di kawasan Timur Tengah. Suriah juga membuktikan pada dunia internasional akan peran pentingnya bagi proses penyelesaian konflik politik di Lebanon yang berlarut-larut (18 bulan). Atas prakarsa Qatar yang mendapat dukungan Suriah, akhirnya pada tanggal 21 Mei 2008 semua faksi Lebanon berhasil mencapai kesepakatan untuk menghentikan pertikaian mereka melalui dikeluarkannya Kesepakatan Doha (Doha Accord) yang isinya antara lain adalah memilih Jenderal Michel Sulaiman menjadi Presiden Lebanon. Kesepakatan ini mendapat respons positif dunia internasional khususnya Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy yang menekankan agar kesepakatan tersebut segera dilaksanakan, maka pada tanggal 10 Juni 2008 Michel Sulaiman secara resmi dilantik menjadi Presiden Lebanon. Pada bulan Juli 2008, Presiden Bashar Al-Assad selaku Ketua Liga Arab mengadakan kunjungan resmi ke Perancis guna menghadiri pembentukan Uni Mediteranian yang disponsori Perancis selaku Presiden EU. Kunjungan Presiden Assad ke Perancis ini menandai berakhirnya era pengucilan Barat terhadap Suriah. Dalam kunjungannya ke Perancis tersebut Presiden Assad juga mengadakan pertemuan segi empat dengan Presiden Sarkozy, Emir Qatar dan Presiden Michel Sulaiman di mana disepakati upaya normalisasi hubungan bilateral Suriah-Lebanon. Hal ini ditindak lanjuti oleh kunjungan Presiden Lebanon, Mitchel Sulaiman ke Damaskus 13-14 Agustus 2008 yang menyepakati pembukaan Hubungan Diplomatik Suriah-Lebanon dengan pembukaan perwakilan di kedua negara setingkat Kedutaan Besar. Hubungan Suriah dengan negara-negara Barat mulai membaik sejak pertengahan 2008 setelah dirintis oleh kunjungan Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy ke Damaskus bulan September 2008 yang berhasil memulihkan hubungan baik Suriah-Lebanon. Pada saat kunjungan Sarkozy ke Suriah juga telah dilakukan pertemuan segi empat (Presiden Sarkozy, PM Toyib Erdogan, Emir Qatar dan Presiden Assad) untuk membahas upaya untuk menciptakan stabilitas regional dan proses perdamaian di Timur Tengah. Selanjutnya tanggal 21 Mei 2008 Suriah menyatakan menerima tawaran PM Turki Recep Tayyib Erdogan untuk menjadi mediasi penyelenggaraan perundingan tidak langsung (indirect peace talk) antara Suriah-Israel. Pihak Suriah mengatakan bahwa proses perundingan tersebut merupakan penjajakan untuk mengetahui sejauh mana kesungguhan Israel untuk mewujudkan perdamaian di Timur Tengah. Berkat kesungguhan Turki sebagai mediator maka perundingan damai Suriah-Israel ini telah berhasil mencapai tahapan ke-4. Namun demikian pada tanggal 27 Desember 2008 Israel melakukan serangan terhadap Jalur Gaza, sehingga secara sepihak Suriah menyatakan membekukan perundingan damai Suriah-Israel. Munculnya pemerintah baru di Israel di bawah pimpinan PM Benyamin Netanyahu yang berhaluan keras semakin membuat proses perundingan damai Suriah-Israel semakin suram. Perkembangan penting yang terjadi di Suriah pasca era pengucilan adalah semakin banyaknya kunjungan pejabat tinggi negara Barat/EU ke Suriah yang dimulai sejak kunjungan Presiden Nicolas Sarkozy September 2008, hingga kunjungan Menlu Inggris, David Miliband tanggal 17-18 November 2008. Sementara itu serangkaian kunjungan pejabat Senator dan Parlemen AS yaitu Harold Bierman (Februari 2009); Stephen F Linch (Maret 2009); Senator John Kerry; Adam Smith dan Utusan Khusus Presiden Barack Obama untuk perdamaian Timur Tengah George Mitchell (Juni 2009) menunjukkan pengakuan AS dibawah Presiden Obama terhadap peran penting Suriah bagi diwujudkannya perdamaian di Timur Tengah. Dalam pada itu ketika terjadi agresi militer Israel terhadap Gaza yang berakibat krisis kemanusiaan, Suriah (selaku Ketua Liga Arab) menyerukan pentingnya digelar pertemuan KTT Darurat Liga Arab di Qatar dalam waktu secepatnya. Meskipun mendapat penolakan dari beberapa negara Arab moderat yang disponsori oleh Mesir, Arabia Saudi dan Kuwait namun akhirnya KTT tetap bisa diselenggarakan pada tanggal 16 Januari 2008 dengan perubahan nama menjadi “KTT Gaza” yang dihadiri oleh 13 negara dari 22 negara anggota Liga Arab. KTT Gaza tersebut bahkan sempat digagalkan oleh sekelompok negara Arab moderat melalui diselenggarakannya KTT Liga Arab di Syarm Sheikh (KTT tandingan) tanggal 13 Januari 2009 namun juga tidak memenuhi qorum karena hanya dihadiri oleh 7 negara Arab moderat. Hal ini menggambarkan adanya perpecahan diantara negara Arab akibat krisis Gaza. Barulah kemudian pada tanggal 20 Januari 2009, KTT Ekonomi Liga Arab diselenggarakan di Kuwait diikuti oleh 17 negara Arab (memenuhi qorum), yang juga membahas masalah krisis di Gaza. Dalam KTT tersebut tanpa diduga Raja Saudi, Abdullah Bin Abdul Aziz dalam sambutannya menyerukan kepada para pemimpin Arab untuk mengakhiri sengketa diantara mereka dan mengupayakan rekonsiliasi Arab. Semangat rekonsiliasi ini mendapat sambutan baik dan ditindak lanjuti oleh pertemuan antara Raja Saudi Arabia, Presiden Bashar Al-Assad, Presiden Mesir, Emir Qatar, Emir Kuwait, Raja Jordan dan Raja Bahrain (7 negara). Sejak pertemuan tersebut hubungan bilateral Suriah-Saudi dan Suriah-Mesir menjadi semakin membaik. Selama dua tahun sejak periode kedua kepemimpinan Presiden Bashar Al-Assad, situasi politik dalam negeri Suriah relatif stabil. Pemerintah terus mengupayakan pembenahan kebijakan dalam negeri khususnya di sektor peningkatan kesejahteraan rakyat termasuk perumahan melalui dikeluarkannya berbagai kebijakan di bidang hukum khususnya terkait sanksi bagi penyelundupan barang kebutuhan pokok rakyat. Presiden Assad juga melakukan reshuffle Kabinet secara bertahap guna terus meningkatkan kinerja pemerintah melalui penunjukan menteri-menteri yang dianggap memiliki kapabilitas dan berlatar belakang pendidikan setingkat Doktor. Sejak 2003-2009 telah dilakukan 5 kali reshuffle kabinet (terakhir adalah tanggal 23 April 2009). Kebijakan tersebut dilakukan guna mengantisipasi era ditandatanganinya Kesepakatan Partnership Suriah-EU yang draft perjanjiannya telah diparaf bulan Desember 2008 dan diharapkan bisa ditandatangani pada awal tahun 2010. Walaupun situasi di dalam negeri relatif stabil, namun berbagai aksi gangguan keamanan yang dipicu oleh pihak-pihak asing untuk merusak citra Suriah masih juga terjadi. Peristiwa tersebut antara lain ledakan bom mobil di daerah Kafarsuseh, Damaskus pada bulan Februari 2008 yang menewaskan Imad Mugniyeh, Sayap kanan Militer Hizbullah; bulan Agustus 2008 insiden penembakan terhadap Jenderal Muhammad Sulaiman, penasehat militer Presiden di Bidang Persenjataan dan Pendanaan; Ledakan bom bunuh diri di dekat gedung intelijen Suriah, 27 September 2008 yang menewaskan 17 warga sipil; insiden bersenjata antara aparat keamanan dengan kelompok teroris di Kamp Pengungsi Palestina, Yarmouk tanggal 9 Oktober 2008; serangan udara militer AS di propinsi Boukamal (perbatasan Suriah-irak) yang menewaskan 8 warga sipil. Oleh karena itu pemerintah Suriah juga terus melakukan peningkatan kebijakan di bidang keamanan antara lain dengan memperkuat Aparat Pemberantas Teroris dan memperketat penjagaan di daerah perbatasan Suriah-Lebanon dan Suriah-Irak. Untuk tahun 2009, posisi penting Suriah di kawasan semakin diakui oleh berbagai pihak baik negara sekawasan maupun Barat (AS dan EU). Berlangsungnya Konferensi tingkat menteri luar negeri (KTM) negara anggota OKI ke-20 di Damaskus tanggal 22-25 Mei 2009, semakin memperkuat prestise Suriah di kancah internasional. Selain itu hasil kunjungan pejabat AS ke Suriah yang membuahkan dibebaskannya sebagian sanksi ekonomi AS kepada Suriah juga merupakan hasil positif pemerintah Suriah di tahun 2009. Sementara itu membaiknya hubungan Suriah-Lebanon mendapat respon positif dari negara Barat/EU. Walaupun hubungannya dengan Irak mengalami gangguan akibat insiden bom di Bagdad bulan Agustus 2009 dan Irak telah menuding Suriah terlibat di belakangnya sehingga kedua negara saling manarik Duta Besarnya, namun hubungannya dengan negara Arab moderat semakin membaik khususnya dengan Saudi Arabia. Di sisi lain hubungan dengan Iran dan Turki sebagai mitra strategisnya juga tetap berlangsung baik bahkan Suriah telah menawarkan diri untuk menjembatani konflik Iran-AS/Barat ( antara lain dengan melibatkan Turki).


Wisma Duta

PPLN DAMASKUS


static4


APEC


facebook KBRI Damascus


twitter KBRI Damascus

running1static2running2running3running4
running5running7running8running9running10
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Syarat dan Ketentuan