Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

HOTLINE KBRI Colombo : +94-77-277312 (Untuk Pengaduan & Perlindungan BHI/WNI di Sri Lanka & Maladewa)     |       Selamat datang di Website KBRI Colombo merangkap Maladewa     |       

Tips

Potensi Ekonomi Luar Negeri

A. Tinjauan Ekonomi Sri Lanka
 
Perekonomian  Sri Lanka walaupun  mulai terpengaruh oleh krisis ekonomi global pada kwartal ketiga  di tahun 2008, namun demikian masih mampu mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. Angka pertumbuhan ekonomi tertinggi Sri Lanka yang pernah dicapai sejak tahun 1978 mencapai 7,6% pada tahun 2006, sedangkan IMF memprediksikan hanya 3,2 s/d 3,5% untuk tahun 2009. Namun, Pemerintah Sri Lanka merasa yakin bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 6% masih bisa dipertahankan untuk tahun 2009 setelah bebas dari teroris. Sementara itu angka pertumbuhan GDP ditahun 2008 mencapai 6,5% dengan perkiraan rata-rata untuk tahun 2009-2013 akan turun menjadi 5,4%.
 
Pada tahun 2008 pemerintah berhasil meningkatkan income per capita rakyat yang pada tahun 2004 sebesar US.$.1.000 menjadi US.$.2000. Pembangunan infrastruktur secara besar-besaran pada tahun 2008 dibidang pelabuhan laut di Colombo dan Matara serta Galle, Bandara di  Matara, proyek pembangkit tenaga listrik di beberapa kota, jalan raya, jembatan layang dll, telah ikut berperan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi di Sri Lanka. Tahun 2009 akan menjadi tahun penuh tantangan bagi Sri Lanka berkenaan dengan krisis keuangan global. Namun, diperkirakan kebijakan “paket bantuan pemerintah” dapat meningkatkan besarnya proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2009.
 
Sehubungan pertimbangan kemungkinan dampak negatif/kerugian yang diperoleh Sri Lanka dari krisis keuangan dan ekonomi dunia, maka pertumbuhan ekonomi Sri Lanka telah direvisi sampai  pada tingkat 5-5,5% di tahun 2009. Namun, keberhasilan implementasi paket bantuan ekonomi yang saat ini telah diberikan oleh pemerintah, diharapkan akan membantu mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi sekitar 6% di tahun 2009.
 
Kebijakan moneter ketat yang diterapkan oleh pemerintah Sri Lanka yang diikuti dengan pengetatan kredit dan devisa dalam menghadapi krisis ekonomi global ditahun 2008 tampaknya membuahkan hasil yang cukup memuaskan, diantaranya mampu mengendalikan angka inflasi.  Angka inflasi yang terus naik sejak Juni 2007 sampai Juni 2008 mencapai 28,2%, sedangkan dalam bulan Desember 2008 turun menjadi 14,4%. Dengan menurunnya harga BBM dan harga bahan pangan di pasar internasional, angka inflasi berhasil ditekan menjadi 10,7% dalam bulan Januari 2009.
 
Pemerintah Sri Lanka berharap angka inflasi dapat ditekan lebih lanjut menjadi 8% atau 9% pada pertengahan tahun 2009.
 
Sektor investasi menyumbangkan 29,2% dari GDP. Sri Lanka mengijinkan invsetasi 100% asing dibidang jasa, perbankan, keuangan, asuransi, stock brokering, pembangunan jalan raya, supplai air minum, transportasi massa, telekomunikasi, teknologi informasi dan pendirian kantor cabang/ penghubung. Namun demikian hal tsb harus memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari instansi terkait.  Investasi industri dibidang lainnya yang bersifat terbatas juga harus dilihat secara case by case bila saham kepemilikannya melebihi 49%. Pemerintah melarang investasi dibidang non banking money, lending, pawn brokering, retail trade, coastal fishing dan pembukaan universitas-universitas swasta.
 
Namun demikian  pengadaan kursus-kursus untuk memperoleh gelar kesarjanaan universitas asing (affliliated universities) diperkanankan beropersi di Sri Lanka.
Pemerintah Sri Lanka berhasil menarik investor asing untuk proyek-proyek besar dan bantuan pinjaman berhasil diperoleh dari RRC, Iran, Jepang, India, Pakistan, AS, Perancis, Australia, Belanda, Denmark, Swedia, Hungaria, Spanyol, Inggris, Korea Selatan, Saudi Arabia dan Kuwait.
 
Dalam 3 tahun terakhir berhasil dikumpulkan bantuan pembangunan sebesar US.$.1 miliyard. Disamping itu Worl Bank dan ADB telah menyetujui pledge bantuan untuk proyek pembangunan sebesar US.$.1.700 juta. Board of Investment of Sri Lanka (BOI) menyatakan bahwa Foreign Direct Investment (FDI) mengalami kenaikan 21% ditahun 2008 dibandingkan FDI dalam kurun waktu yang ditahun 2007 dari US.$.734 juta menjadi US.$.889 juta. Dari jumlah tsb, US.$.661 juta dihasilkan dari proyek-proyek infrastruktur (telkom dan jaringannya US.$.550 juta, proyek listrik US.$.87,8 juta dan perumahan/perkantoran US.$.19,8 juta), US.$.189 juta dari sektor manufaktur (tekstil dan garment serta kulit US.$.72,2 juta dan dari industri kimia, petroleum dan plastic sebesar US.$.39,9 juta) dan US.$.39 juta dari jasa dan pertanian.
 
Untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi diatas 6%, Pemerintah Sri Lanka terus menempuh kebijakan ekonomi untuk membuka pasarnya terhadap pasar internasional dan investasi asing. Sri Lanka masih membutuhkan dukungan dana internasional untuk pembangunan ekonomi dan infrastruktur. Board of Investment Sri Lanka menyampaikan bahwa investasi asing di tahun 2008 mencapai US$.1 milyar, terjadi peningkatan signifikan dibanding tahun 2007 yang mencapai US$.734 juta.
 
B. Potensi Produk Indonesia di Sri Lanka
 
Pertumbuhan ekonomi Sri Lanka dalam dua tahun terakhir telah mengalami peningkatan sejak Pemerintah Sri Lanka berhasil membebaskan Sri Lanka dari gerilyawan Macan Tamil. Kondisi ini diharapkan dapat mendorong dan menggerakan perkembangan ekonomi Sri Lanka yang pada gilirannya menciptakan peluang-peluang baru dalam hubungan ekonomi perdagangan Sri Lanka dengan negara-negara lain.
 
Faktor situasi keamanan dalam negeri Sri Lanka masih menjadi tantangan atau hambatan pada perekonomian Sri Lanka dan kondisi ini setidak-tidaknya telah mempengaruhi volume perdagangan kedua negara. Nilai perdagangan bilateral tahun 2007 tercatat US$ 456.596.900 turun 3,13% dibandingkan tahun 2006 yang bernilai US$ 471.341.500. Sementara nilai perdagangan untuk periode Januari-September 2008 adalah US$ 233.681.000.
 
Berdasarkan data dari Departemen Perdagangan RI dan BPS, volume neraca perdagangan Indonesia-Sri Lanka sejak 2002 sampai pertengahan tahun 2008 cenderung meningkat dan surplus untuk Indonesia. Nilai ekspor Indonesia tahun 2008 adalah US$ 353.593.700,- dan impor US$ 44.125.600,-
Kedua negara tampaknya terus berupaya untuk meningkatkan perdagangan bilateral. Ekspor utama Indonesia ke Sri Lanka, antara lain, masih didominasi pada aneka produk kertas, bahan baku tekstil seperti yarn, denim dan fabric, produk ban kendaraan bermotor, car batterey, electricity parts, semen dan clinker, produk dari plastik, produk dari kaca, teh, palm oil, margarine, produk perikanan, makanan ternak, produk kimia, garment, tekstil dll. Sementara itu impor utama Indonesia antara lain tepung terigu, teh, produk dari kaca, karung goni, yarn dan fabric, dan batu berharga.
 
Berdasarkan data dari beberapa importer Sri Lanka, nilai impor 10 importir Sri Lanka untuk komoditi kertas tercatat sebesar US$ 2 juta per bulan, ban Indonesia menguasai 25% pasar di Sri Lanka, furniture dari jati mendominasi pasar Sri Lanka. Yang menarik adalah bahwa PT Peruri bekerjasama dengan Epic Lanka telah membuat kerjasama untuk mencetak Paspor Sri Lanka sekitar 3 juta paspor dan impor ikan sebesar 50 ton per bulan untuk konsumsi ikan Sri Lanka.
Produk ekspor dari Indonesia di Sri Lanka dimaksud, harus bersaing dengan produk semacam dari negara ASEAN lainnya disamping harus menghadapi persaingan dengan produk yang lebih murah yang berasal dari India atau China. Apalagi Sri Lanka telah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan beberapa negara seperti India.
 
Dalam upaya meningkatkan kontak dagang antara pengusaha Sri Lanka dan Indonesia, Sri Lanka-Indonesia Business Council (SLIBC) yang dibentuk sejak tahun 1991 dibawah naungan Ceylon Chamer of Commerce dan beranggotakan para pengusaha Sri Lanka yang memiliki hubungan dan kontak dagang dengan partner di Indonesia, telah turut aktif mempromosikan perdagangan kedua negara. Selama beberapa kali SLIBC telah mengirimkan delegasi ke Indonesia untuk mengikuti pameran dagang dan melakukan pertemuan dengan KADIN RI di Jakarta serta secara langsung “one to one Business Meeting” dengan para pengusaha Indonesia yang berminat melebarkan sayap usaha di Sri Lanka. Di samping itu, sejak pertengahan tahun 2009, Indonesia-Sri Lanka Business Council yang berkedudukan di Jakarta, sudah diaktifkan kembali untuk mendukung peningkatan hubungan ekonomi perdagangan kedua negara.

C. Potensi Investasi di Sri Lanka
 
Sri Lanka setelah sukses membebaskan diri dari teroris LTTE di wilayah Utara dan Timur, berupaya keras mengundang para investor menanamkan modalnya di Sri Lanka terutama untuk bergabung membangun kembali wilayah bekas perang yang membutuhkan pendanaan sekurang-kurangnya USD 4-5 milyar untuk tahap awal pembangunan. Pemerintah akan menjalankan promosi ekspor dan mendirikan special economy zone di Trincomalee dan Kilinochchi yang pernah dikuasai LTTE.  Investment Promotion Enterprise Development and Media Minister, Mr. Anura Priyadarshana Yapa menyatakan bahwa di kedua wilayah tsb terdapat potensi besar terutama di sektor pertanian, pariwisata, perikanan dan konstruksi. Sementara pabrik semen dan pabrik kertas yang terhenti akibat konflik dapat ditinjau kembali untuk diaktifkan. Sri Lanka telah memberikan fasilitas tax holiday selama 15 tahun kepada perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di luar wilayah Western Province, khususnya di wilayah Timur dan Utara yang selama tiga dekade terakhir tidak terlihat adanya pembangunan dikarenakan perang etnik.Sementara itu, di wilayah Jaffna, pemerintah telah mencabut larangan aktivitas perikanan. Para investor juga ditawarkan untuk membuka universitas. Sri Lanka juga menawarkan potensi market yang cukup besar sebagai pintu ekspor ke India dan Pakistan setelah Sri Lanka menandatangani free trade agreement dengan India dan Pakistan.
 
Dalam kaitan tsb, Menteri Anura Priyadarshana Yapa menyatakan bahwa Jepang telah menunjukkan minatnya untuk membantu Sri Lanka membangun kembali wilayah-wilayah tsb dan misi investasi Sri Lanka telah melakukan rangkaian perjalanan antara lain ke Italia, USA, Kanada, Belgia, Singapura dan Thailand. Satu perusahaan Malaysia telah menunjukkan minatnya untuk membangun hotel di Mullaittivu (bekas wilayah LTTE). Diinformasikan bahwa perusahaan-perusahaan Malaysia telah cukup berpengalaman di sektor telekomunikasi, konstruksi dan pertanian Sri Lanka, maka mereka memiliki keuntungan untuk meluaskan bisinis-nya di wilayah-wilayah bekas konflik.
 
Tercatat 18 proyek yang dikerjakan oleh investor Malaysia di Sri Lanka dan investor utama adalah Dialog Telekom (dimiliki oleh Telekom Malaysia)-perusahaan jaringan telepon seluler, Merbok MDF Lanka yang memproduksi MDF boards,  Tritel Service yang merupakan public pay phone system, Naratha Agro-Industries yang menanam oil seeds dan memproduksi hydrogenated edible oil,  Wincon Development (Ceylon) Ltd yang terlibat di sektor proyek konstruksi perumahan untuk pegawai pemerintah dan Northern Power Company cabang perusahaan Malaysia yang membangun pembangkit listrik berkapasitas 36 Megawatt di Chunnakam, Jaffna.
 
Sementara itu, Chairman Board of Investment Sri Lanka (BOI), Mr. Dhammika Perera menyampaikan bahwa 52 investor asing telah menunjukkan ketertarikannya untuk melakukan investasi di Sri Lanka pasca konflik dengan LTTE dan BOI merencanakan untuk mengimplementasikan sejumlah mega proyek dalam waktu dekat ini. Permintaan investasi sebagian besar adalah pada sektor pertanian berskala besar, perkebunan buah-buahan dan sayuran, peternakan (dairy farming), perikanan, food processing, pabrik tekstil/benang, perhotelan, IT training, container services, warehousing dan freight. Sri Lanka telah menarik investasi asing sebesar Rs. 17,640 juta dalam lima bulan pertama tahun 2009 dan telah membuka kesempatan kerja bagi 2800 tenaga kerja. Beberapa investor asing lainnya juga menunjukkan ketertarikannya di sektor Bio fertilizer, barang-barang elektronik dan alat-alat listrik, marine/fishing, produk PVC, produk karet, garment, trading house dan rumah sakit. Selanjutnya, Mr. Dhammika Perera menyampaikan bahwa 98 proyek telah disetujui antara bulan Januari – May 2009 di mana 52 investor asing tsb diharapkan menanamkan investasi sekitar Rs. 28,533.90 juta dan membuka 3415 lapangan kerja baru. Sebagian besar investasi asing adalah di wilayah Distrik Colombo, sementara 8 investasi di wilayah Porpinsi North-East dan Eastern yaitu di Trincomale, Ampara dan Baticaloa yang akan membuka 615 kesempatan kerja baru. 16 proyek diperuntukkan di Distrik Gampaha dengan nilai investasi sebesar Rs. 26,728.43 juta yang akan membuka 1193 kesempatan kerja baru. Investasi dimaksud diharapkan dapat membuka 8704 kesempatan kerja baru. 15 proyek telah diluncurkan di Sri Lanka dan BOI menargetkan USD 1 milyar dari direct foreign investment pada tahun 2009. Sementara itu, BOI juga akan meluncurkan 6 program promosi untuk tahun 2009 yang akan diselenggarakan di:
  • India difokuskan pada IT, infrastruktur, industri skala menengah/educational and vocational training yang direncanakan pada bulan September
  • USA difokuskan pada IT, manufacture healthcare dan export-oriented service yang direncanakan pada akhir Juli
  • UK/Irlandia difokuskan pada IT/IT-enabled services dan BPO, 
  • Malaysia difokuskan pada infrastruktur, IT, electronic, sektor light engineering yang direncanakan pada bulan Oktober
  • Thailand/Singapore difokuskan pada real estate, healthcare, elektronik, food processing, export-oriented services dan gems and jewellery yang sudah diimplementasikan
  • Timur Tengah.
The BOI juga menargetkan 8 mega proyek termasuk membangun Economic Zone di Trincomalee dan Kilinochchi. Di samping itu, BOI juga mengharapkan implementasi pembangkit listrik tenaga LNG (LNG power plant) di Kerawalapitiya dengan kapasitas 488 MW. Proyek lainnya adalah membangun off-sight campus universitas asing, airport di Distrik Hambantota, pabrik pengilangan minyak, hotel-hotel di wilayah Kalpitiya, Pasikudah dan Nilaveli, rumah sakit di wilayah Utara dan tambang pasir. The BOI menargetkan investasi 4 proyek kemitraan publik dan swasta yaitu Colombo South Harbour Project sekitar USD 450 juta, Malabe IT Park sekitar USD 80 juta, SIP Water and Waste Water Facility sekitar USD 7,5 juta dan Henegama Knowledge Centre sekitar USD 100 juta dan segera diimplementasikan di tahun 2009.
 
Upaya yang dilakukan oleh Sri Lanka untuk menarik para investor asing pada tahun ini adalah merupakan moment yang tepat sehubungan berakhirnya konflik dengan teroris LTTE telah menciptakan iklim yang kondusif bagi upaya rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah bekas konflik dan upaya membangun kembali Sri Lanka (the Rising Sri Lanka). Upaya tsb juga diarahkan untuk mengantisipasi tingkat penangguran yang memprihatinkan di Sri Lanka. Menurut Census and Statistics Department of Sri Lanka,  pada awal kuartal tahun 2009, tingkat pengangguran Sri Lanka menunjukkan grafik meningkat. Total jumlah pengangguran adalah 450.000 orang atau meningkat 40.000 orang dibandingkan periode yang sama tahun 2008. Akibat krisis keuangan global, 60.000 peluang kerja di sektor apparel hilang pada awal kuartal pertama tahun 2009 akibat merosotnya demand dan krisis keuangan tsb telah menciptakan 96.000 pengangguran.
Untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi diatas 6%, Pemerintah Sri Lanka terus menempuh kebijakan ekonomi untuk membuka pasarnya terhadap pasar internasional dan investasi asing. Sri Lanka masih membutuhkan dukungan dana internasional untuk pembangunan ekonomi dan infrastruktur. Board of Investment Sri Lanka menyampaikan bahwa investasi asing di tahun 2008 mencapai US$.1 milyar, terjadi peningkatan signifikan dibanding tahun 2007 yang mencapai US$.734 juta.
 
Kunjungan Chairman & Director General of Board of Investment Sri Lanka (BOI), Mr. Dhammika Perera ke Indonesia tanggal 28 Juni – 5 Juli 2009 mendampingi Senior Advisor to the President of Sri Lanka, Hon. Basil Rajapaksa, diharapkan dapat menarik investor Indonesia ke Sri Lanka setelah dijadualkan memberikan presentasi di KADIN dan mengunjungi beberapa perusahaan Indonesia sebagaimana ketertarikannya terhadap investor dari Indonesia terutama di bidang makanan, perikanan (canned fish), pertanian, sugar cane, motor bike & autoparts, dan pengembangan properti.
Di bidang investasi, memang nilainya belum begitu besar. Namun, perkembangan dari tahun ke tahun tampak cukup menggembirakan. Sejumlah pengusaha Indonesia juga telah mengivestasikan modalnya dan membuka kantor cabang di Sri Lanka, antara lain PT. Jembo Cable yang memproduksi kabel listrik, Indorama Group Ltd yang memproduksi bahan tekstil, PT Ateja yang membuka kantor cabang di Colombo dengan promosi produksi bahan-bahan untuk seat covers dll, PT Kalbe Farma yang membuka kantor cabang di Colombo untuk mempromosikan obat-obatan dan farmasi serta PT. Dexa Farma dalam bidang yang sama.  Sedangkan investasi Sri Lanka di Indonesia antara lain PT. Agro Indomas dan PT. Agro Indo Lestari yang bergerak dalam perkebunan-palm oil di Kalimantan, Arlene J Geddes Wild Flower di Tapos yang bergerak dalam tanaman obat-obatan/herbal, Coco Supreme Tbk yang bergerak dalam bidang pengolahan kelapa/kopra, Premadasa Jeweller Co. di Bali yang bergerak dibidang emas, permata dan batu-batuan berharga, Stretchline Tbk di Tangerang yang bergerak dibidang tekstil, Haleys Group (PT Mapalus Makawanua Charcoal) di Sulawesi Utara, Serendib (trading company) di Jakarta, Indorama di bidang textile/garment. Di samping itu, peluang terbuka di sektor konstruksi (jalan raya/tol, jembatan, kereta api), infrastruktur, property, jasa perbankan dan kesehatan. 

D. Agenda Pameran di Sri Lanka
  1. The National Development Exhibition (“Deyata Kirula”), setiap tahun di Bandaranaike Memorial International Conference Hall (BMICH), Colombo 7, tanggal 4-8 Februari 2009
  2. Pameran Dagang Gabungan India, Pakistan dan Iran, setiap Tahun, di Sri Lanka Exhibition & Convention Centre (SLECC), Colombo (Gedung Pameran Internasional Colombo), awal April 2009 selama 1 minggu
  3. Education Worldwide India-Colombo/International Education Fair, waktu tidak tentu, tempat Bandaranaike Memorial International Conference Hall/BMICH, Colombo 7, tanggal 5-6  Juni 2009
  4. Image Today Colombo Photo & Video Expo, pelaksaana setiap 2 tahun, tempat BIMCH, tanggal 2-4 Oktober 2009
  5. Office Today Colombo/Office Equipment, Furniture, Corporate Gifts and Stationery Expo., pelaksanaan tidak tentu, tempat BIMCH, tanggal 2-4 Oktober 2009
  6. The Sri Lanka Construction Trade Fair, pelaksanaan setiap tahun , tempat BIMCH, 30 Oktober – 1 November 2009
  7. OFFICE TODAY COLOMBO, waktu tidak tentu, tempat BIMCH, tanggal 2-4 Oktober  2009
  8. COLOMBO INTERNATIONAL YARN & FABRIC SHOW, pelaksanaa setiap tahun,
  9. Sri Lanka Exhibition & Convention Centre (SLECC), Colombo 2, tanggal 11-13 Pebruari 2009
  10. Agri Livestock and Fisheries SMEDEX 2009 , pelaksanaan setiap tahun, Bandaranaike Memorial International Conference Hall (BMICH), Colombo 7, tanggal 20-22 November 2009
  11. TEXTECH SRI LANKA INTERNATIONAL EXPO, pelaksanaan setiap tahun,
    Sri Lanka Exhibition & Convention Centre (SLECC), Colombo 2, 11-13 Februari 2010
E. Link ke Instansi Setempat Yang Terkait (Departemen Perdagangan, Kamar Dagang, dsb)
 
  1. The Official Website of the Government of Sri Lanka: www.Priu.gov. lk
  2. The Ministry of Foreign Affairs: www.slmfa.gov.lk
  3. Ministry of Trade, Marketing, Development, Co-operatives and Consumer Services :www.commerce.gov.lk
  4. Board of Investment :www.boi.lk , www.investsrilanka.com
  5. The Ceylon Chamber of Commerce, :www.chamber.lk
F.  Hal-hal Khusus Yang Harus Diperhatikan Para Pebisnis Dalam Melakukan Hubungan Dagang Dengan Pengusaha Setempat
 
Peluang
Produk ekspor Indonesia mempunyai daya saing yang cukup baik dari segi kualitas dan harga. Sebagai contoh adalah produk furniture (jati) Indonesia dan produk kertas yang sudah dikenal oleh masyarakat Sri Lanka.
 
Posisi Sri Lanka juga memberikan kesempatan bagi produk Indonesia untuk dipasarkan di kawasan Asia Selatan dan Timur Tengah. Sri Lanka terikat perjanjian perdagangan bebas dengan India dan Pakistan dimana dalam kerangka tersebut, produk ekspor Indonesia dapat masuk kepasaran India dan Pakistan melalui Sri Lanka.
 
Penyelesaian konflik di propinsi Timur dan kemungkinan di Propinsi Utara pada tahun 2009, membuka peluang di sektor infrastruktur, konstruksi dan transportasi yang akan diharapkan dapat mendorong pembangunan ekonomi Sri Lanka. Hal ini merupakan peluang bagi pengusaha Indonesia untuk lebih aktif dalam melakukan hubungan dagang dengan pengusaha Sri Lanka.
 
Perkembangan makro ekonomi Sri Lanka yang mulai menunjukkan kegembiran seperti meningkatnya pertumbuhan ekonomi sampai sekitar 6%, meningkatnya income per cápita Sri Lanka dari USD 1000 menjadi USD 1650 pada tahun 2008, penurunan tingkat inflasi yang kini mencapai sekitar 10% serta paket-paket bantuan pemerintah untuk sektor ekonomi, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi produk-produk Indonesia di pasar Sri Lanka. Ditambah sampai saat ini, dalam beberapa hal, Sri Lanka masih tergantung dari impor sehubungan sektor produksi masih belum pulih dan terkendala sebagai akibat pengaruh konflik internal.

Hambatan
 
Minimnya animo/minat pengusaha Indonesia untuk menjajaki kesempatan ekspor ke Sri Lanka. Berdasarkan pengamatan dan pembicaraan langsung dengan para pengusaha di Indonesia mengenai keengganan mereka untuk melakukan aktivitas ekonomi dengan/di Sri Lanka, alasan yang diberikan adalah situasi keamanan yang belum membaik di Sri Lanka.
Status Sri Lanka yang masih dikategorikan sebagai negara yang memerlukan calling visa oleh Indonesia telah berpengaruh pada jumlah kunjungan warga Sri Lanka ke Indonesia.
 
Regime fiskal untuk beberapa produk impor yang tinggi dan situasi moneter Sri Lanka yang masih belum stabil.
Kebijakan proteksi industri dalam negeri Sri Lanka terutama untuk sektor garment, tekstil, teh, footwear, sehingga penerapan bea masuk dan pajak yang cukup tinggi.
Image buruk para pengusaha Asia Selatan masih cukup melekat, sehingga diperlukan kehatian-hatian dalam transaksi perdagangan dan sistem pembayaran.


Gedung KBRI Colombo

Online Visa


Aplikasi Paspor


Lapor Diri


Indonesian Diaspora Network


Wonderfull Indonesia

PPLN Colombofb group colombofb groub Maldivesrunning9
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Syarat dan Ketentuan