Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Selamat Datang di site KBRI Caracas     |       Kunjungi Portal Kemlu     |       

Profil Negara dan Kerjasama

Venezuela

REPUBLIK BOLIVAR VENEZUELA
 
Nama Negara.
Republik Bolivariana Venezuela (República Bolivariana de Venezuela).
Ibu Kota.
Caracas.
Perbedaan Waktu dengan Jakarta.
11,5 jam lebih lambat daripada Jakarta.
Letak Geografis.
Amerika Selatan.
Luas Wilayah.
912.050 km2 .
Organisasi Kewilayahan.
23 Negara Bagian, 1 capital district dan 1 federal dependency (11 gugus kepulauan).
Jumlah penduduk.
28.047.938 (2011).
Bentuk Negara.
Federal.
Bentuk Pemerintahan.
Republik Federal.
Kepala Negara/Kepala Pemerintahan.
Presiden Nicolas Maduro Moros (hasil Pemilu tanggal 14 April 2013).
Menteri Luar Negeri
Elias Jaua Milano.
Menteri Energi dan Perminyakan merangkap Presiden Petróleos de Venezuela, S.A (PDVSA).
Rafael Ramírez Carreño.
Parlemen.
Unikameral (National Assembly). Terdiri dari 165 kursi.
Bahasa Nasional.
Spanyol.
Lagu Kebangsaan.
Gloria al bravo pueblo (Glory to the Brave Nation).
Hari Kemerdekaan.
5 Juli 1811 (dari Spanyol).
Mata Uang.
Bolivares Fuerte (Bs). Nilai tukar US$ 1 = 6,3 Bolivares Fuerte (sejak 8 Pebruari 2013; devaluasi ke-5 dalam 12 tahun).
GDP (PPP).
2012 : US$ 402 milyar.
2011 : US$ 380,2 milyar.
GDP per kapita (PPP).
2012 : US$ 13,200.
2011 : US$ 12.800.
Komposisi GDP.
Pertanian 3,7%; Industri 35,3%; Jasa 61%.
Tingkat inflasi.
2012 : 20,9%.
2011 : 26,1%.
Tingkat Pengangguran
8% (2012).
Hutang Luar Negeri.
US$ 63,74 milyar (2012); US$ 89,6 milyar (2011).
Pertumbuhan Ekonomi.
5,6% (2012).
Sumber Alam Utama.
Minyak bumi, gas alam, biji besi, emas, bauksit, bahan mineral, air.  Sekitar 90% ekspornya merupakan minyak bumi dengan total produksi rata-rata 2,4 juta barel/hari (2011) atau ke-14 terbesar di dunia. Cadangan minyak bumi: 209,4 milyar (2012) atau ke-tiga terbesar di dunia. Cadangan gas: 5,5 trilyun Kubik meter (2012) atau ke-sembilan terbesar di dunia.
Nilai Ekspor.
US$ 92,6 milyar.
Nilai Impor.
US$ 56,7 milyar.
Produk Ekspor Terbesar.
Minyak bumi, Bauksit, Aluminium, bahan tambang, produk kimia, pertanian dan industri dasar.
Negara Tujuan Ekspor Terbesar.
Amerika Serikat (40%), China (10%), India (5,5%), Kuba (4%) (2012).
Produk Impor Terbesar.
Produk pertanian, peternakan, bahan mentah, mesin dan peralatan mesin, peralatan transportasi, bahan konstruksi, peralatan kedokteran, farmasi, kimia, besi dan produk besi.
Negara Asal Impor Terbesar.
Amerika Serikat (28%), China (15%), Brasil (10%).
Kebijakan Perdagangan.
Kontrol devisa yang ketat. Melarang pembukaan rekening Dolar AS.
Kebijakan Investasi.
Nasionalisasi (Pemerintah sebagai pemilik saham mayoritas untuk seluruh investasi asing, minimal 50%).
Keikutsertaan dalam Organisasi Internasional.
ALBA,  PetroCaribe, PBB, Caricom (Pengamat), CELAC, CDB, FAO, G-15, G-24, G-77, IADB, IAEA, IBRD, ICAO, ICRM, IDA, IFAD, IFC, IFRCS, IHO, ILO, IMF, IMO, IMSO, Interpol, IOC, IOM, IPU, ITSO, ITU, ITUC, LAES, LAIA, LAS (Pengamat), Mercosur (Asosiasi), MIGA, NAM, OAS, OPANAL, OPCW, OPEC, PCA, RG, UNASUR, UNCTAD, UNESCO, UNHCR, UNIDO, Union Latina, UNWTO, UPU, WCO, WFTU, WHO, WIPO, WMO, WTO.

 

  

HUBUNGAN BILATERAL
Pembukaan Hubungan Diplomatik. 
10 Oktober 1959.
Kunjungan Kepala Negara/Pemerintahan.
-       Kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid ke Caracas pada tanggal 25-28 September 2000 dalam rangka menghadiri KTT OPEC.
-       Kunjungan Presiden Hugo Chavez ke Jakarta pada tanggal 30-31 Mei 2001 dalam rangka menghadiri KTT G-15.
Perjanjian Bilateral yang telah ditandatangani.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Ditandatangani pada SKB ke-3 RI-Venezuela, tanggal 11 Juni 2013 di Bali.
 
 
 
 
 
 
 
1.    Persetujuan antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Bolivar Venezuela mengenai Kerjasama Ekonomi dan Teknik (1991);
2.    Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda dan Pencegahan Penghindaran Pajak atas Penghasilan antara RI dan Republik Venezuela (P3B) (1997);
3.    MoU mengenai Pembentukan Forum Konsultasi Bilateral (1997);
4.    Perjanjian Kerjasama di Bidang Pers antara LKBN ANTARA dengan Kantor Berita Venezuela, VenPres (1997);
5.    Perjanjian Kerjasama Perbankan  antara Bank Indonesia (BI) dan Bank Central Venezuela (BCV) (1997).
6.    Persetujuan antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Bolivar Venezuela mengenai Kerjasama Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan (2000);
7.    MoU Pembentukan Komisi Bersama Tingkat Tinggi RI-Venezuela (2001).
8.    Agreement Between The Government of the RI and The Government of the Bolivarian Republic of Venezuela on Visa Exemption for Diplomatic and Service Passports.
9.    MoU between The Ministry of People’s Power for Foreign Affairs of the Bolivarian Republic of Venezuela and the Ministry of Foreign Affairs of the RI for Cooperation on Diplomatic Training and Education.
 
Perjanjian Bilateral dalam Pembahasan (berdasarkan prioritas).
 
 
1.     MoU on Mechanism for Political Consultation.
2.     Agreement on Tourism Cooperation between the Bolivarian Republic of Venezuela and the RI.
3.     MoU between the Government of the RI and the Government of the Bolivarian Republic of Venezuela on Cooperation in Drug Demand Reduction and Combating Illicit Trafficking in Narcotic Drugs, Psychotropic Substances and Precursors.
4.     MoU between the Ministry of Energy and Petroleum of the Bolivarian Republic of Venezuela and the Ministry of Energy and Mineral Resources of the RI  on Cooperation and Information Exchange in the Field of Energy.
5.     Air Transport Agreement between the Government of the RI and the Bolivarian Republic of Venezuela
6.     Agreement of Cooperation Between the Government of the RI and the Bolivarian Republic of Venezuela for the Prevention and Combat of International Crimes and Organized Delinquency/
7.     Persetujuan Peningkatan dan Perlindungan atas Penanaman Modal RI-Venezuela.
8.     MoU on Sport Cooperation between the Ministry of Youth and Sport of the RI and the Ministry of Education and Sport of the Bolivarian Republic of Venezuela.
Kerjasama Saling Dukung.
-       Executive Board ECOSOC for the period of 2012-2014.
-       Indonesia’s candidature in the Executive Board UNESCO for the period of 2011-2015 with Venezuela candidatures in the Board of Governors IAEA for the period 2013-2015.
Permintaan Dukungan.
-       RI sebagai tuan rumah 82nd Annual Meeting of International Commission on Large Dams (ICOLD) 2014.
-         Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap DK PBB periode 2019-2020.
-         Indonesia sebagai anggota Dewan HAM.
-           Keanggotaan RI di ICAO dan IMO.
Ekspor Indonesia ke Venezuela (data Institut Statistik Nasional).
2012 : US$ 65,578,421.
 
Impor Indonesia dari Venezuela
2011 : US$  458,837 (didominasi oleh produk kimia dan peralatan listrik).
 
Produk Ekspor Indonesia
Plastik dan karet, mesin dan elektronik, kertas, produk kayu, produk tekstil, alas kaki/sepatu.
Investasi Indonesia di Negara Akreditasi
PT. Pertamina menunda pembelian 32% saham Petrodelta, anak perusahaan Grup Harvest (AS) senilai US$ 725 Juta. Petrodelta memiliki blok minyak di Orinoco yang sangat potensial.
Investasi Negara Akreditasi di Indonesia
-
Kerjasama di bidang Pertanian
-
Kerjasama di bidang Energi
-
Kerjasama di Bidang Perhubungan
-
Jumlah WNI di wilayah akreditasi
1,554 (Desember 2012), 54 WNI di Caracas dan 1,500 WNI di Trinidad dan Tobago yang sebagian besar merupakan ABK.
Permasalahan WNI di negara Akreditasi
Terpidana narkoba, ABK yang ditelantarkan perusahaan penangkap ikan.
Kerjasama Sosbud
Dharmasiswa (14 orang periode 2003-2011).
Mekanisme peningkatan hubungan
SKB ke-1 (2002), SKB ke-2 (2005) dan SKB ke-3 (Juni 2013).
Isu-isu Bilateral  
Pemerintah Venezuela memprioritaskan untuk menempatkan Duta Besar di Jakarta yang kosong sejak 2006.
Isu Terkini
Pemilu tanggal 14 April 2013 memilih Nicolas Maduro dari Partido Socialista Unido de Venezuela (PSUV) sebagai Presiden Venezuela. Ia menang tipis (270,000 suara) mengalahkan Henrique Capriles Radonski dari partai oposisi Mesa de la Unidad Democratica (MUD).
 
 
PERKEMBANGAN DALAM NEGERI VENEZUELA
 
A.   POLITIK
 
Dalam Negeri
 
Presiden Hugo Chavez wafat pada tanggal 5 Maret 2013 di RS Militer Carlos Arvelo setelah kembali dari Havana pada tanggal 18 Pebruari 2013 pasca operasi kanker keempat kalinya dalam dua tahun terakhir. Dikabarkan Chavez menderita komplikasi infeksi paru-paru pasca operasi pada tanggal 11 Desember 2012.
 
Wakil Presiden Eksekutif Nicolas Maduro menyampaikan bahwa Chavez meninggal pada pukul 16:25. Ia mengumumkan hari berkabung selama tujuh hari dan memberikan kesempatan bagi rakyat Venezuela untuk melihat jenazah Chavez yang disemayamkan di Akademi Militer sebelum dimakamkan pada tanggal 8 Maret 2013. Namun, mengingat antusiasme rakyat yang sangat tinggi, Maduro memperpanjang hingga tujuh hari guna memberikan kesempatan bagi rakyat memberikan penghormatan terakhir kepada Chavez. Jenazah Chavez juga akan dibalsem dan ditempatkan di Museum Sejarah Militer agar dapat dilihat oleh rakyat.   
 
Upacara pemakaman pada tanggal 8 Maret 2013 diganti menjadi upacara penghormatan kepada jenazah Chavez dan dihadiri oleh 30 Kepala Negara dari 55 delegasi negara-negara yang datang. Di antaranya, Presiden Kuba Raul Castro, Presiden Iran Mahmoud Amadinejad, para Kepala Negara ALBA, CELAC, pendeta Jesse Jackson yang turut membacakan doa dan Sean penn sahabat Chavez.  Pada sore harinya, Wapres Maduro dilantik sebagai Acting Presiden oleh Mahkamah Agung hingga ditetapkannya Pemilu dalam kurun waktu 30 hari.
 
Pelantikan ini segera mendapat protes keras dari Henrique Capriles Radonski yang berasal dari partai oposisi Mesa de la Unidad Democratica (MUD) yang menantang Chavez pada Pemilu bulan Oktober 2012. (catatan: Pemilu tersebut dimenangkan oleh Chavez dengan perolehan suara 55% dan Radonski hanya memenangkan 44,3% suara).
 
Capriles menuduh pelantikan tersebut sebagai “constitutional fraud” dan “illigitimate”. Hal ini disebabkan Mahkamah Agung juga menetapkan bahwa Maduro dapat maju sebagai capres tanpa harus menanggalkan jabatan Acting Presidennya.
 
Berdasarkan Pasal 233 Konstitusi Venezuela yang telah diamandemen oleh Chavez pada tahun 1999, terdapat dua interpretasi, yakni:
 
(i)    Presiden Chavez merupakan Presiden terpilih pada Pemilu Oktober 2012. Ia harus diambil sumpahnya sebagai Presiden pada tanggal 10 Januari 2013. Mengingat Chavez tidak bisa diambil sumpahnya pada tanggal tersebut (masih berada di Havana), maka pemerintahan dijalankan sementara oleh Ketua Parlemen seraya menentukan tanggal Pemilu dalam waktu 30 hari. Argumentasi ini diajukan oleh oposisi.
 
(ii)   Sedangkan Maduro dari partai pemerintah, Partido Socialista Unido de Venezuela (PSUV) menganut azas kesinambungan pemerintahan, yakni bahwa Presiden Chavez merupakan presiden yang terpilih kembali, sehingga pemerintahan berjalan sebagaimana biasa tanpa perlu upacara pengambilan sumpah presiden.
 
Pemilu Venezuela telah diselenggarakan pada tanggal 14 April 2013. Rakyat Venezuela memilih Nicolas Maduro dari Partido Socialista Unido de Venezuela (PSUV) sebagai Presiden Venezuela. Ia menang tipis (270,000 suara) mengalahkan Henrique Capriles Radonski dari partai oposisi Mesa de la Unidad Democratica (MUD).
 
Saat ini, Henrique Capriles menjabat sebagai Gubernur Propinsi Miranda untuk kedua kalinya. Dalam pemilu Gubernur di 23 Propinsi pada tanggal 16 Desember 2012, pihak oposisi hanya menang di tiga Propinsi, yakni Miranda, Lara dan Amazonas. Pesaing Capriles di Miranda adalah Elias Jaua (PSUV) yang kemudian menjadi Menteri Luar Negeri (catatan: sebelumnya, Elias Jaua menjabat sebagai Wapres dan Nicolas Maduro sebagai Menlu). PSUV juga menang di Propinsi Zulia yang merupakan pusat industri dan selama ini menjadi basis terkuat pihak oposisi setelah Miranda (dengan ibukotanya Caracas). 
 
Sebelum menjalani operasi kanker di Kuba, Chavez menunjuk Nicolas Maduro sebagai Wapres Eksekutif dengan mandat menjalankan tugas-tugas kepresidenan. Penunjukan Maduro ini sudah dapat diduga. Hal ini mengingat Maduro merupakan loyalis Chavez yang paling setia. Ia berasal dari rakyat dan pernah menjadi supir bis serta telah terbiasa berorganisasi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Chavez mempercayakan pemerintahan ke tangan Maduro.
 
Selain itu, Maduro juga dapat diterima oleh pemerintah Kuba yang selama ini mendukung Chavez. Ditambah pula dengan portfolio sebagai Menteri Luar Negeri yang pernah dijabatnya, Maduro dapat diterima di kalangan internasional, khususnya di ALBA, CELAC dan organisasi kawasan lainnya.
 
Di bawah Chavez, Venezuela didorong untuk menjadi negara komunal. platform 2013-2019 memandatkan terbentuknya 30.000 satuan sosial. Dalam negara komunal rakyat akan memiliki kepemilikan secara teritorial, politik, ekonomi, budaya dan lingkungan, serta keamanan dan pertahanan. Untuk itu, dalam periode tahun 2013-2016 pemerintah telah menargetkan terbentuknya 21,000 Dewan Komunal yang melibatkan 8,821,296 penduduk. Sedangkan pada program tahun 2017-2019, ditargetkan setiap tahunnya terbentuk 2,699 dewan komunal.
 
Terkait dengan pelaksanaan Pemilu, Carter Center di Amerika Serikat mengakui bahwa Komisi Pemilu Venezuela, CNE, merupakan salah satu lembaga pemilu paling independen dan alat penghitung suara yang merupakan buatan Venezuela merupakan yang tercanggih di dunia. Sistem penghitungan suara yang terkomputerisasi ini mencakup 17 proses audit dan melibatkan pihak oposisi, sehingga upaya manipulasi sekecil apapun akan dapat terdeteksi secara dini. Hal ini menjadikan proses pemilu dan hasilnya di Venezuela sangat kredibel, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
 
Luar Negeri
 
Dalam banyak aspek, kebijakan luar negeri Venezuela selama 14 tahun di bawah Chavez (1999-2013) sangat berbeda dengan polugri Venezuela di masa sebelumnya, khususnya terhadap AS.
 
Chavez memformulasikan ulang polugri Venezuela untuk mewujudkan integrasi Amerika Latin baik politik, ekonomi dan sosial sebagaimana dicita-citakan oleh Simon Bolivar. Dalam hal ini, ia memainkan kartu “minyak bumi” untuk meluaskan pengaruh.
 
Maduro menekankan bahwa sejak pemerintahan Presiden Chavez pada tahun 1999, telah terjadi pergeseran kebijakan dalam negeri dan luar negeri Venezuela ke arah komitmen terhadap kemerdekaan dan cita-cita Simon Bolivar, di mana Venezuela memiliki kesempatan untuk mengonsolidasikan Amerika Latin dan Karibia atas dasar emansipasi dan persaudaraan.
 
 
Polugri Venezuela difokuskan pada Alternativa Bolivariana para las Americas (ALBA) dan Petrocaribe yang memberikan skema khusus pembelian minyak Venezuela oleh negara-negara di Karibia. Venezuela juga menjalin hubungan erat dengan negara-negara yang ingin memerdekakan diri seperti Abkhazia, Sahara Barat dan Palestina. Bahkan Kedubes Palestina di Caracas telah dicanangkan oleh pemerintah Palestina untuk menjadi pusat diplomasinya di benua Amerika (termasuk Amerika Utara).
 
Pemerintah Venezuela juga menyatakan solidaritasnya kepada Argentina atas kepemilikan Kepulauan Malvinas, Georgia Selatan dan Sandwich Selatan yang masih di bawah kontrol pemerintah Inggris sejak tahun 1833. Hal ini merupakan perwujudan tekad Chavez yang menentang segala bentuk imperialisme sebagaimana dicita-citakan oleh Simon Bolivar. Pemerintah Venezuela meminta pihak yang bersengketa mematuhi resolusi Majelis Umum PBB yang mengharuskan pemerintah Inggris bernegosiasi untuk mencari solusi damai dan tepat untuk menyelesaikan permasalah kepulauan di Amerika Selatan.
 
Venezuela memiliki masalah perbatasan dengan:
-       Guyana; di sekitar sungai Orinoco.
-       Kolombia; di Teluk Venezuela dan gerilyawan FARC di perbatasan.
-        Guyana dan Barbados yang menuduh batas maritim yang disepakati oleh Venezuela-Trinidad dan Tobago memasuki perairan mereka.
-       Dominika, St. Lucia, St. Kitts & Nevis dan St. Vincent & the Grenadines yang memprotes kepemilikan Pulau Avez sehingga ZEEnya mencakup negara mereka.
 
Menteri Luar Negeri Guyana, Carolyn Rodrigues-Birkett mempresentasikan keinginan Guyana untuk memperpanjang batas landas kontinen tambahan 150 mil laut di New York. Pada bulan Maret 2012, Venezuela mengajukan keberatan kepada Komisi Hukum Laut PBB atas pengajuan perpanjangan batas landas kontingen dari pihak Guyana. Menurut pemerintah Venezuela, permohonan Guyana yang meminta perpanjangan batas landas kontingen tersebut, tidak sesuai dengan isi dari Perjanjian Jenewa tentang sengketa perbatasan. Namun demikian, pihak Guyana menegaskan bahwa tidak ada sengketa teritorial kedua negara, karena sesuai Keputusan Arbitrase tahun 1899 kedua negara telah menetapkan batas darat antara kedua negara, sehingga Perjanjian Jenewa yang digunakan pihak Venezuela tidak relevan.
 
Mendiang Presiden Chavez mengisyaratkan bahwa Venezuela dalam waktu dekat akan keluar dari keanggotaannya di Komisi HAM Inter-Amerika (IACHR). Menlu Maduro saat menghadiri pertemuan negara-negara Non Blok di Mesir menegaskan bahwa Venezuela tengah mempelajari Perjanjian San Jose dan akan keluar dari Komisi HAM Inter-Amerika dan Pengadilan HAM Inter-Amerika karena dianggap hanya mencampuri urusan dalam negeri Venezuela. Perjanjian San Jose atau Konvensi HAM Amerika merupakan dasar pembentukan Komisi HAM Inter-Amerika dan Pengadilan HAM Inter-Amerika. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) pada tanggal 22 November 1969 di San Jose, Costa Rica. Venezuela telah meratifikasi Perjanjian San Jose sejak 23 Juni 1977.
 
 
B.   EKONOMI
 
Berdasarkan data Bank Sentral Venezuela (BCV), pertumbuhan GDP Venezuela sebelum Chavez (1986-1999) hanya sebesar 1,4%. Pada periode 1999-2003, perusahaan minyak negara PDVSA masih dikelola oleh pihak oposisi. Penguasaan PDVSA ini digunakan oleh pihak oposisi  yang berupaya menggulingkan pemerintah melalui mogok kerja di PDVSA pada tahun 2002-2003. Hal ini berdampak sangat serius terhadap penerimaan negara, sehingga menyebabkan resesi.
 
Pemerintah kemudian mengambil alih PDVSA dan menghentikan mogok kerja yang berakibat fatal terhadap perekonomian tersebut, sehingga GDP dapat tumbuh rata-rata 3,2 % per tahunnya (periode 2004-2012).
 
Secara umum, tingkat pengangguran juga turun dari sekitar 14,5% sebelum Chavez berkuasa (1999) menjadi sekitar 7,8% pada tahun 2011. Tingkat kemiskinan akut juga turun sekitar 70%. Koefisien Gini yang mengukur ketidakadilan pendapatan merupakan yang terendah di kawasan bersama Uruguay, yakni 0,397% (turun dari 0,5%). Brazil merupakan yang tertinggi di kawasan. Pengeluaran untuk sektor sosial meningkat dua kali lipat dari 11,3% GDP (1998) menjadi 22,8% GDP (20011). Jumlah penerima pensiun meningkat dari 500,000 (1999) menjadi lebih dari 2 juta orang (2011).
 
Pada tanggal 8 Pebruari 2013, pemerintah secara resmi mengumumkan devaluasi Bolivares Fuerte (BsF) dari 4,3 menjadi 6,3 BsF untuk 1 USD (kelima kalinya dalam 12 tahun terakhir). Pihak oposisi menuduhnya sebagai langkah putus asa pemerintah yang kekurangan mata uang dólar AS. Oposisi memprediksi devaluasi akan meningkatkan biaya impor, menyebabkan harga-harga melambung dan mendorong inflasi. Peningkatan harga barang akan diikuti lagi oleh devaluasi, begitu seterusnya sehingga kepercayaan terhadap BsF berkurang dan rakyat memilih untuk menyimpan mata uang dólar AS dan akhirnya mengarah kepada krisis neraca pembayaran.
 
Namun demikian, meskipun memiliki dampak inflasi, devaluasi diharapkan dapat memicu produksi dalam negeri dan produknya bersaing dengan produk impor. Juga dengan devaluasi, harga dólar semakin mahal dan mengurangi “capital flight”, sehingga pemerintah dapat menahan dólar di dalam negeri.
 
Selain devaluasi, pada tanggal 19 Maret 2013, transaksi pembelian devisa melalui perdagangan surat berharga (SITME) yang dikelola Bank Sentral Venezuela (BCV) digantikan oleh Sistema Complementario de Administracion de Divisas (SICAD). Melalui sistem ini, perusahaan yang terdaftar di pemerintah dan memiliki ijin impor untuk produk-produk penting seperti makanan, alat kesehatan dan konstruksi dapat membeli dólar AS melalui lelang.
 
Sistem ini melengkapi Comision de Administracion de Divisas (CADIVI) yang bertugas mengatur lalu lintas devisa sejak diterapkannya kontrol devisa pada tahun 2003.
 
Ekspor minyak mentah dan produk turunan minyak Venezuela ke AS pada Januari 2012 menurut Departemen Energi AS turun sebesar 27,1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011. Dari total ekspor minyak Venezuela ke AS, sebesar 91% adalah minyak mentah dan 9% adalah produk turunannya. Penurunan terbesar terjadi pada minyak mentah, yaitu sebesar 683 ribu bph atau mengalami pengurangan sebesar 268 ribu bph jika dibandingkan periode yang sama tahun 2011. Menurut Kementerian Energi dan Perminyakan Venezuela, penurunan tersebut disebabkan adanya prioritas pengiriman ke China dan India. Ekspor minyak ke China saat ini telah mencapai 460 ribu bph dengan target 1 juta bph pada tahun 2015.
 
Berdasarkan laporan OPEC, produksi minyak Venezuela pada April 2012 mengalami kenaikan sebesar 2,8% dibandingkan bulan yang sama tahun 2011. Pada April 2012, produksi minyak Venezuela rata-rata 2,37 juta barel per hari sedangkan pada April 2011 hanya sebesar 2,31 juta barel per hari. Dengan demikian, Venezuela menduduki peringkat ke 6 diantara negara-negara OPEC dalam volume produksi minyak. Kenaikan produksi minyak Venezuela ini berkaitan dengan komitmen pemerintah untuk mengejar kuota OPEC yaitu sebesar 3,1 juta bph.
 
Laporan OPEC juga menyebutkan bahwa Venezuela berada di peringkat keempat sebagai negara pengekspor minyak ke China. Menurut Menteri Perminyakan, Rafael Ramirez, dari total ekspor ke China, sebanyak 230.000 bph dikhususkan untuk pembayaran hutang. Sejak tahun 2008 hingga akhir tahun 2011, Venezuela mendapat pinjaman dari China sebesar USD 38 milyar. Dari pendapatan sebesar US$ 27,8 milyar dari hasil ekspor minyak ke China, sebesar USD 10,4 milyar akan digunakan untuk pembayaran hutang.
 
Menurut Komisi Administrasi Devisa (CADIVI), alokasi devisa untuk impor bahan pangan mencapai 23,1% dari total alokasi devisa untuk impor yang mencapai USD 5,2 milyar. Hal ini menjadikan sektor pangan sebagai penerima alokasi devisa terbesar. Jumlah alokasi devisa untuk impor bahan pangan meningkat sebesar 16,6 % dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011. Produk pangan yang diimpor antara lain jagung, minyak kedelai, minyak sayur, susu bubuk, susu formula, produk susu bayi, malt dan telur.
 
CADIVI juga mengungkapkan turunnya alokasi devisa untuk sektor kesehatan terkait dengan rencana Kementerian Perdagangan menetapkan prioritas impor obat-obat tertentu yang persediaannya terbatas. Penurunan alokasi tersebut mengakibatkan banyaknya penundaan pembayaran terhadap pemasok internasional. 
 
Berdasarkan laporan Bank Sentral Venezuela (BCV), tingkat produksi industri swasta pada awal tahun 2012 hanya mengalami kenaikan sebesar 0,4%. Kecilnya tingkat kenaikan tersebut disebabkan penurunan di industri makanan, pakaian, kimia, kulit dan produksi kayu. Faktor-faktor yang menyebabkan turunnya produksi industri swasta antara lain nilai mata uang Bolivares yang over-valued menyebabkan impor lebih murah daripada memproduksi barang-barang tersebut di dalam negeri dan rendahnya investasi untuk memperbaharui peralatan dan permesinan. Menurut lembaga think tank Datanalisis, nilai tukar resmi yang realistis setidaknya berada pada angka 1 USD = Bs 7,8, sedangkan nilai tukar resmi saat ini 1 USD = Bs. 6,3.
 
Pada sektor publik, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Bs. 20,6 milyar atau sebesar USD 4 milyar untuk penyesuaian gaji para pekerja pemerintah yang berjumlah 3.903.408 orang.
 
Penjualan di jaringan toko eceran kebutuhan pokok pangan milik pemerintah, Mercal, pada tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 9,74% dibandingkan tahun 2010. Menteri Urusan Pangan, Felix Osorio, menyatakan bahwa penurunan tersebut disebabkan oleh penutupan 3,000 outlet Mercal. Jaringan toko ini sangat membantu masyarakat menengah ke bawah untuk mendapatkan produk makanan bersubsidi. Tapi, banyak konsumen yang terpaksa beralih berbelanja ke supermarket akibat kekosongan produk, penjatahan pembelian barang, serta antrian panjang di Mercal.
 
Pada Mei 2012, beberapa negara bagian di Venezuela mengalami pemadaman listrik bergilir seperti pada tahun 2009 dan 2010. Pemadaman listrik secara bergilir paling dirasakan di negara bagian Carabobo dan Aragua di mana terdapat banyak pabrik sektor manufaktur. Musim kemarau berkepanjangan mengakibatkan PLTA Guri - yang merupakan sumber utama pasokan listrik di Venezuela – tidak dapat beroperasi secara optimal. Menurut kalangan pengamat dan pengusaha, krisis pasokan listrik juga disebabkan rendahnya investasi pemerintah, sehingga tidak ada pembaruan baik di sisi pembangkit, distribusi maupun transmisi listrik.
 
Menurut Institut Statistik Nasional (INE), tingkat kemiskinan telah berkurang drastis dari 70,8% (1996) menjadi 21% (2010). Sedangkan kemiskinan ekstrim dari 40% (1996) menjadi 7,3% (2010). Angka pengangguran turun dari 20% menjadi 7,9% selama periode kepemimpinan Chavez (1999-2013).
 
Menurut BCV, kenaikan perekonomian Venezuela sebesar 5,6% pada tahun 2012 merupakan yang tertinggi dalam 15 triwulan terakhir. Sektor yang mengalami kenaikan paling besar adalah konstruksi sebesar 29,6% dan lembaga keuangan dan asuransi sebesar 27,7%. Produksi makanan, minuman dan tembakau turun sebesar 6,9%. Tingginya pertumbuhan ekonomi dalam triwulan I terutama didorong oleh belanja pemerintah yang cukup besar yang disalurkan kepada proyek-proyek konstruksi perumahan rakyat.
 
Berdasarkan data INE selama tahun 2012, nilai impor Venezuela mencapai US% 10,1 milyar, mengalami kenaikan sebesar 138% dari tahun 2011. Porsi terbesar adalah untuk impor bahan pangan yang mencapai 13,9% dari total impor atau setara dengan US$ 1,4 milyar. Impor bahan pangan yang meningkat disebabkan oleh menurunnya produksi makanan dan minuman di Venezuela.
 
Menurut ECLAC, pertumbuhan ekonomi didorong oleh kebijakan moneter dan fiskal yang agresif dalam bentuk konsumsi swasta dan publik yang meningkat tajam. Konsumsi publik yang ekspansif dibiayai dari penjualan minyak yang harganya masih relatif tinggi (US$ 105/barrel) dan dari pinjaman luar negeri.
 
Terkait dengan nasionalisasi perusahaan asing, pemerintah Venezuela melakukan ekspropiasi berbagai perusahaan asing sejak tahun 2007. Menurut data International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID), hingga saat ini tercatat sekitar 20 tuntutan kepada pemerintah Venezuela yang diajukan oleh perusahaan asing.  Namun, baru satu tuntutan yang diajukan melalui ICSID, yakni oleh perusahaan Perancis, Saint-Gobain Performance Plastics Europe. Tuntutan Saint-Gobain dimaksud adalah tuntutan pertama terhadap Venezuela di lembaga ICSID sejak Venezuela menyatakan menarik diri dari ICSID pada 26 Januari 2012.
 
Di sektor perumahan, pemerintah meluncurkan penjualan obligasi tahap pertama yang disebut Surat Berharga Bolivarian untuk Perumahan (Valores Bolivarianos para la Vivienda), senilai BsF. 5,8 milyar untuk membiayai program Mision Vivienda (rencana pembangunan perumahan rakyat).
 
Berdasarkan 2012 Cost of Living Survey yang dilakukan lembaga konsultan Mercer, Caracas merupakan kota termahal ketiga di benua Amerika setelah Sao Paolo dan Rio de Janeiro. Secara global, Caracas menempati peringkat ke-29 (naik 22 poisisi dibandingkan tahun 2011). Beberapa aspek yang menyebabkan lonjakan ranking Caracas dalam daftar kota termahal di dunia adalah adanya kontrol devisa, tingkat inflasi yang mendekati 30%, 95% bahan kebutuhan pangan dan konstruksi diimpor, kurangnya jumlah dan variasi produk barang kebutuhan di pasar, serta pemberlakukan kontrol dan peraturan ketat yang mempengaruhi pasar real estate.
 
 
C.   SOSIAL BUDAYA DAN PENERANGAN
 
 
            Caracas masih termasuk dalam kota dengan tingkat kriminalitas tertinggi di Amerika Latin dengan tingkat pembunuhan rata-rata 13 orang per 100 orang setiap bulannya atau sekitar 1,200 orang selama tiga bulan. Meskipun sebagian pembunuhan tersebut terjadi di daerah kumuh “barrios” dan disebabkan juga oleh perang antar geng narkoba, namun hal tersebut meningkatkan resiko terhadap tindak kejahatan. Terlebih pemerintah kesulitan untuk mengontrol jumlah peredaran senjata api.
 
         Secara kuantitatif, jumlah kasus penculikan dengan motif ekonomi, khususnya terhadap para diplomat, telah menurun dibandingkan tahun 2012. Tahun 2012 ditandai dengan penculikan dan perampokan diplomat Meksiko (tiga kali) dan Guatemala. Polisi juga menjadi sasaran kejahatan, termasuk pembunuhan. Motif pembunuhan terhadap polisi adalah untuk mengambil senjata api yang dimilikinya. Banyak polisi yang bertempat tinggal di wilayah kelas bawah/miskin (barrios) di mana tingkat kejahatannya sangat tinggi.
 
Modus operandi penculikan kilat biasanya kelompok penculik yang terdiri dari tujuh orang dan berusia remaja menculik korban untuk dimintakan uang tebusan atau dikuras tabungannya di ATM. Para penjahat juga menyasar korban ketika masuk ke apartemen dan menyandera seisi apartemen atau bahkan seluruh gedung apartemen.  
 
Menurut survei yang dilakukan oleh Institut untuk Ekonomi dan Kedamaian yang berbasis di Chile menyatakan bahwa Venezuela merupakan negara kedua paling tidak aman di Amerika Latin setelah Kolombia (perang antar geng narkoba). Survei tersebut menyurvei 158 negara di dunia dengan indikator belanja militer, konflik internal, keamanan sosial, aksi teror dan terorisme, hubungan dengan negara tetangga dan penghargaan terhadap hak asasi manusia. Sementara itu, dalam 14 tahun terakhir angka kejahatan di Venezuela naik hingga 223%.
 
         Maskapai penerbangan Venezuela, Conviansa, juga dilarang melakukan penerbangan ke wilayah Eropa terkait dengan semakin banyaknya kasus kecelakaan pesawat terbang maskapai tersebut. Selain Conviansa, maskapai penerbangan Venezuela lainnya, yaitu Estellar Latinoamerica dan Aerotuy, masuk ke dalam daftar maskapai yang akan diawasi secara ketat.
 
Menurut survei LSM Meksiko, Dewan Rakyat untuk Keamanan dan Kesejahteraan Umum (DRKKU), mengenai negara bagian/administrasi paling berbahaya di dunia, tiga negara bagian di Venezuela tercatat sebagai daerah paling berbahaya di dunia tahun 2012. Ketiga negara bagian tersebut adalah distrik ibukota Caracas (peringkat ke-3), negara bagian Miranda (peringkat ke-10), dan negara bagian Carabobo (peringkat ke-16).
 
Sebelum Chavez berkuasa, hanya ada lima TV swasta yang mengontrol 90% pasar media di Venezuela. Salah seorang bos media yang terlibat kudeta terhadap Chavez pada tahun 2002, Gustavo Cisneros, memilii 60 perusahaan media di 40 negara dan hampir 30,000 pekerja. Kerajaan medianya menjangkau 500 juta orang di dunia. Stasiun TV miliknya, Venevision, menjangkau 67% pemirsa Venezuela.
 
Korporasi media yang berada di tangan segelintir elite, mengontrol lebih dari 80% frekuensi TV dan radio Venezuela. Empat kelompok media, Cisneros group, 1BC, Camero dan Zuloaga-Mezerhane, mendominasi gelombang udara. TV negara hanya menjangkau 5,4$% pemirsa. Dari tujuh koran nasional, lima yang dikuasai oleh oposisi dan hanya satu yang bersimpati kepada Chavez. 
 
Pada tahun 2004, Parlemen Venezuela mensahkan UU Tanggung Jawab Sosial TV dan Radio, dan mendistribusikan secara adil frekuensi dari monopoli segelintir orang ke media komunitas dan independen. Chavez meresmikan beroperasinya 30 TV komunitas dan radio. Pada tahun 2007, Chavez tidak memperpanjang lisensi RCTV, media yang terlibat kudeta tahun 2002. Lisensinya dialihkan kepada saluran TV publik baru, Tves, yang menyiarkan kesenian, kebudayaan dan pendidikan.
 
Pada tahun 2009, Komisi Telekomunikasi Nasional Venezuela (CONATEL) kembali menutup 32 stasiun TV dan radio swasta yang habis ijinnya, melanggar peraturan atau enggan membayar iuran wajib. Lisensi mereka dialihkan kepada TV dan radio komunitas. Sesuai prinsip redistribusi kekayaan, Chavez mendistribusikan ijin dan frekuensi yang notabene milik publik, dari monopoli segelintir pemilik modal ke media komunitas dan independen. Pada tahun 1998, frekuensi siaran dikuasai oleh 331 stasiun radio komersial dan 11 stasiun radio FM milik publik. Juga terdapat 36 stasiun TV swasta dan delapan stasiun TV publik. Pada tahun 2012, terdapat 449 stasiun radio swasta, 83 stasiun radio publik dan 247 stasiun radio komunitas. Juga terdapat 67 stasiun TV komersial, 13 stasiun TV publik dan 38 stasiun TV komunitas.
 
 
 
HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA – VENEZUELA
 
 A.    KERJASAMA DI BIDANG POLITIK
 
1.     Hubungan diplomatik Indonesia-Venezuela diresmikan pada tanggal 10 Oktober 1959. Indonesia menempatkan Duta Besar yang pertama di Caracas pada bulan Januari 1977, sedangkan Venezuela menempatkan Duta Besarnya yang pertama di Jakarta pada bulan Mei 1981. Para Duta Besar LBBP RI tersebut, yakni: (i) Ferdy Salim (1977-1980), (ii) H. Achmad Kusumanegara (1983-1986), (iii) Brigjen Joedo Sembono ((1986-1990), (iv) Amin Rianom (1995-1998), (v) Ghaffar Fadyl (1999-2002), (vi) Cornelis Manopo (2004-2007), (vii) Alfred T. Palembangan (2008-2011), dan (viii) Prianti Gagarin Djatmiko- Singgih (Pebruari 2012-sekarang). Sedangkan Kuasa Usaha a.i Kedutaan Besar Republik Bolivariana Venezuela di Jakarta saat ini adalah Darwin Tovar yang menggantikan Mrs. Elena Cziky sejak Juni 2012.
 
2.     Sidang Komisi Bersama (SKB) pada tingkat Menteri untuk meningkatkan hubungan kedua negara telah dilaksanakan sebanyak tiga kali. SKB I dilaksanakan pada tanggal 18-19 Juli 2002 di Caracas, SKB II dilaksanakan pada tanggal 5-6 September 2005 di Bandung dan SKB III pada tanggal 11 Juni 2013 di Bali. Ketiga SKB tersebut telah berhasil mengidentifikasikan dan meningkatkan berbagai bidang kerjasama antara Indonesia dengan Venezuela.
 
3.     Kelompok Persahabatan Parlemen Venezuela-Indonesia (GAPVI) dibentuk pada tanggal 22 Mei 2001. Pembentukan ini didasarkan pada semakin meningkatnya hubungan kedua negara baik di tingkat bilateral maupun di forum multilateral. Pada tanggal 17-22 September 2006, Grup Kerjasama Antar Parlemen (GKSB) RI-Venezuela telah berkunjung ke Venezuela.
 
4.     Pada tanggal 25-26 Agustus 2008, Delegasi Komisi X DPR RI telah berkunjung ke Venezuela untuk mempelajari dan memperoleh informasi terkait proses perubahan bendera dan lambang negara yang dilakukan oleh Pemerintah Venezuela pada tahun 2006. Hasil kunjungan ini dijadikan acuan bagi penyusunan RUU Perubahan Lambang Negara, Bahasa, Bendera dan Lagu Kebangsaan Indonesia.
5.     Pada tanggal 9-13 Mei 2011, Delegasi GKSB RI-Venezuela telah melakukan kunjungan ke Venezuela. Kunjungan balasan dari Parlemen Venezuela (GAPVI) dilakukan pada tanggal 26-30 Maret 2012.
 
6.     Terdapat sembilan Perjanjian Bilateral yang telah ditandatangani oleh kedua negara:
 
·          Persetujuan antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Bolivar Venezuela mengenai Kerjasama Ekonomi dan Teknik (1991);
·          Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda dan Pencegahan Pengelakan Pajak dan Penghindaran Pajak atas Penghasilan antara RI dan Republik Venezuela (P3B) (1997);
·          MoU mengenai Pembentukan Forum Konsultasi Bilateral (1997);
·          Perjanjian Kerjasama Perbankan  antara Bank Indonesia (BI) dan Bank Central Venezuela (BCV) (1997);
·          Perjanjian Kerjasama di Bidang Pers antara LKBN ANTARA dengan Kantor Berita Venezuela, VenPres (1997);
·          Persetujuan antara Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Bolivar Venezuela mengenai kerjasama Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan dan Pendidikan (2000);
·          MoU Pembentukan Komisi Bersama Tingkat Tinggi RI-Venezuela (2001);
·          Perjanjian Bebas Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik dan Dinas (2013);
·          MoU Pelatihan dan Pendidikan Diplomat antar Kemlu (2013).
 
Mekanisme Saling Dukung
 
7.     Venezuela telah memberikan dukungannya secara unilateral untuk pencalonan indonesia pada ECOSOC periode 2012-2014.
 
8.     Kerja sama saling dukung terkini antara kedua negara adalah :
 
-       Pencalonan Venezuela pada anggota Dewan HAM periode 2011-2014 dengan pencalonan Indonesia pada anggota Dewan HAM periode 2013-2015.
 
-       Pencalonan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020 yang pemilihannya akan berlangsung pada SMU PBB di New York tahun 2018.
 
Indonesia mengharapkan dukungan Venezuela untuk pencalonan Indonesia di berbagai organisasi internasional  sebagai berikut :
 
-       Pencalonan Indonesia sebagai anggota ICAO (2013-2016).
-       Pencalonan Indonesia sebagai anggota IMO (2013-2015).
 
 
B.    KERJASAMA DI BIDANG EKONOMI
 
POTENSI DAN PELUANG KERJASAMA EKONOMI VENEZUELA - INDONESIA.
 
1.      Terdapat beberapa komoditi Indonesia yang diminati oleh importir setempat, yaitu sepeda motor, sepeda, benang, kertas, alat kesehatan, sepatu olahraga dan bahan-bahan konstruksi. Dapat dijajaki juga mengenai importasi 4 komoditi ikonik yang menjadi arahan Wamendag, yaitu sektor turisme, kuliner, meubel dan fashion ke Venezuela.
 
2.      Saat ini pasar ban Venezuela diramaikan oleh produksi pabrik Goodyear, BF Goodrich, Bridgestone dan Michelin. Meskipun perusahaan-perusahaan tersebut telah memiliki nama besar, namun pasar yang disasar oleh perusahaan tersebut adalah kendaraan bermotor roda empat dan kendaraan berat. Sedangkan untuk kendaraan roda dua dan sepeda, masih terbuka peluang bagi produsen lainnya meramaikan pasar ban Venezuela.
 
3.      Untuk komoditi kertas, seiring adanya kelangkaan kertas tissue sanitasi, terdapat  peluang jangka pendek, dimana apabila kebutuhan dalam negeri kita mencukupi dan masih terdapat ketersediaan yang cukup sementara jumlah produksi cukup besar, kiranya dapat ditawarkan ekspor kertas tissue sanitasi Indonesia ke Venezuela. Kebutuhan Venezuela yang cukup besar akan kertas, juga dapat dilihat sebagai suatu peluang bagi pelaku industri kertas Indonesia untuk membuka investasinya di Venezuela.
 
4.      Di bidang turisme, meskipun alasan klise terkait jarak yang jauh antara Indonesia-Venezuela, namun masih terdapat peluang untuk menarik minat wisatawan Venezuela untuk berkunjung ke Indonesia. Di Venezuela sendiri terdapat kelas masyarakat kalangan atas yang memiliki banyak uang dan tidak mempermasalahkan mahal atau murah untuk tujuan wisata. Dalam hal ini, pangsa pasar yang dapat dituju antara lain pasangan yang baru menikah, dengan menawarkan wisata bulan madu di berbagai tujuan wisata di Indonesia, dengan destinasi utama yaitu Bali. Wisata lainnya yang dapat ditawarkan adalah wisata laut, khususnya bawah air, dengan Taman Nasional Bawah Laut Raja Ampat dan Bunaken serta Derawan sebagai daerah tujuan, serta penikmat ombak yang ingin berselancar dengan daerah tujuan Nias dan Lombok. Tidak juga tertutup kemungkinan pengembangan ekoturisme di berbagai daerah yang memiliki habitat unik seperti Orang Utan di berbagai Taman Nasional di Kalimantan, pendidikan Gajah di Lampung, habitat Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, serta kehidupan Komodo di Pulau Komodo.

Perkembangan Ekspor Venezuela ke Indonesia
 
      Nilai ekspor non-migas Venezuela ke Indonesia dari tahun 2008 s/d 2012 mengalami turun naik yang sangat signifikan. Pada tahun 2010 nilai ekspor Venezuela mencapai sebesar USD. 5.794.864 dan pada tahun 2011 hanya mencapai sebesar USD. 459.837 atau mengalami penurunan sebesar 92%. Sementara pada tahun 2010 ekspor Venezuela ke Indonesia mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2009 yaitu sebesar 1566%, tercatat total ekspor tahun 2009 hanya sebesar USD.347.718.
TOTAL EKSPOR IMPOR  ANTARA VENEZUELA-INDONESIA
2009-2012
FOB US$
 
KETERANGAN
TAHUN
2009
2010
2011
2012
 
Ekspor Venezuela ke Indonesia
 
347.718,00
 
5.794.864,00
 
 
459.837,00
 
40,762.00
 
Impor Venezuela dari Indonesia
79.122.061,26
71,613,400.94
89.886.178,76
84,270,348.08
            Sumber : INE
 
PRODUK EKSPOR VENEZUELA KE INDONESIA TAHUN 2012
No.
Keterangan
Jumlah US$
1.              
Produk kimia
34,684.00
2.        
Peralatan listrik
5,478.00
3.        
Textil
600
 
Total
40,762.00
              Sumber : INE
 
 
      Pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2012, tujuh pengusaha Venezuela telah membukukan transaksi senilai US% 26 juta atau transaksi terbesar dari peserta Amerika Latin dan ketujuh terbesar dari sekitar 130 negara seluruh peserta TEI.
 
C.    KERJASAMA DI BIDANG SOSIAL DAN BUDAYA
 
13.  Indonesia dan Venezuela telah menandatangani Perjanjian Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan, dan Pendidikan pada tanggal 19 September 2000 di Caracas, yang berlaku mulai Pebruari 2005.
 
14.  Sejak tahun ajaran 2003/2004 hingga 2012/2013 terdapat 16 warga negara Venezuela yang telah berpartisipasi dalam Beasiswa Darmasiswa untuk mempelajari Bahasa Indonesia, seni musik dan tarian tradisional Indonesia pada berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Beberapa alumni yang mempelajari seni tari di Indonesia turut mengembangkan seni tari dengan mendirikan grup tari “Indovez” dan sering tampil di acara-acara KBRI.
 
15.  Venezuela telah memberikan dana bantuan sebesar US$ 2 juta yang digunakan untuk membangun “Politeknik Indonesia Venezuela” di Aceh yang diresmikan pada tanggal 12 Agustus 2009.
 
16.  Pada tanggal 7-9 Juni 2012, telah diadakan Festival Gastronomi Indonesia di Restoran Amapola, Caracas. Festival tersebut menghidangkan makanan khas Indonesia yang disajikan oleh koki Tamara Rodriguez dan koki Irina Pedrozo, serta menampilkan beberapa tarian Indonesia.
 
17.  KBRI juga menyelenggarakan Resepsi 17 Agustus 2012 yang dipadukan dengan upaya promosi batik, di antaranya melalui peragaan busana yang melibatkan model-model terkenal di Caracas.
 
18.  Selain itu, KBRI bekerjasama dengan Grupo Amistad Parlamentaria Venezuela-Indonesia (GAPVI) menyelenggarakan promosi di Propinsi Valencia melalui seminar ekonomi-politik dan gala budaya.
 
19.  Promosi budaya juga dilakukan melalui keikutsertaan di pameran pariwisata FITVEN, bazaar internasional di “Escuela Campo Alegre” dan bazaar Asosiacion de Damas Diplomaticas (ADD).
 
 
D.    KERJASAMA DI BIDANG KONSULER
 
20.  Kedua negara telah menandatangani Perjanjian Pembebasan Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik dan Dinas pada SKB ke-3, tanggal 11 Juni  2013 di Bali.
 
21.  Berdasarkan data KBRI Caracas per Maret 2013, terdapat 1,554 warga negara Indonesia yang tinggal di Venezuela dan wilayah akreditas (sekitar 1,500 ABK di Trinidad dan Tobago).
 
 
PENDING MATTERS
 
1.     Dubes Venezuela di Jakarta.
 
-       Sejak tahun 2007, pemerintah Venezuela selalu menempatkan pejabat setingkat Kuasa Usaha ad interim pada Kedutaan Besar Venezuela di Jakarta. Penempatan Dubes Venezuela telah menjadi prioritas pemerintahan baru di bawah Maduro, khususnya sejak Menteri Luar Negeri dijabat oleh Elias Jaua.
 
-       Kiranya penempatan Dubes Venezuela tersebut dapat dikaitkan dengan keinginan Venezuela untuk menjadi observer di ASEAN. Hal ini terutama guna meningkatkan keterwakilan Venezuela baik secara bilateral maupun saat menjadi observer ASEAN.
 
 


Gedung KBRI Caracas


AVISO SECCIÖN CONSULARES


Darmasiswa 2014

running1running2running3running4running5
running6running7running8running9running10
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Syarat dan Ketentuan