Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Sukseskan Promosi Indonesia di Mesir dalam Yalla Indonesia, September 2014     |       HOTLINE KBRI Cairo +2010 2222 9989 / +2010 1518 5795     |       KBRI Cairo menghimbau seluruh WNI di Mesir untuk senantiasa menjaga diri dan memperhatikan kondisi keamanan Mesir terkini serta memperhatikan imbauan yang dikeluarkan KBRI Cairo     |       Selamat Datang di Situs Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo, Mesir     |       

Profil Negara dan Kerjasama

Mesir

Mesir; Profil Negara dan Kerja Samanya dengan Indonesia
I. PROFIL NEGARA


Nama Resmi

:

Republik Arab Mesir (Jumhuriyat Misr al-Arabiyah)

Bentuk Negara

:

Republik

Ibukota

:

Cairo

Luas Wilayah

:

1.002.450 km2

Lagu Kebangsaan

:

Beladi Beladi

Populasi

:

80,869,364 (2011) sumber: Central Agency for Public Mobilization and Statistics (CAPMAS) Mesir

Agama

:

Islam (90%), Kristen Koptik (9%), lainnya (1%)

Bahasa Resmi

:

Arab

Mata Uang

:

Pound Mesir, USD 1=LE 5.95 (September 2011)

Hari Nasional

:

23 Juli (Hari Revolusi)

Kepala Negara

:

Ketua Dewan Tertinggi Angkatan Bersejata, Marsekal Hussein Tantawi (pemerintahan transisi).

(semenjak mundurnya Hosni Mubarak pada 11 Februari 2011, Ketua Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata Mesir/Supreme Council of Armed Forces (SCAF), Marsekal Hussein Tantawi, memegang tampuk pimpinan pemerintahan transisi hingga terpilihnya Presiden yang baru

Kepala Pemerintahan

:

Perdana Menteri/PM Essam Sharaf (pemerintahan transisi)

(Kabinet pemerintahan transisi saat ini dipimpin oleh PM Dr. Essam Sharaf, hingga terbentuknya pemerintahan yang baru)

Menteri Luar Negeri

:

H.E. Amb. Mohamed Kamel Amr

Sistem Politik

:

(Setelah mundurnya Mubarak, Mesir hingga saat ini tengah menjalani masa transisi pemerintahan dan mencari bentuk sistem politik yang baru. Berbagai pihak mengharapkan sistem politik yang demokratis. Baik kekuatan politik liberal/sekular maupun kekuatan politik berbasis agama kini mendapatkan ruang gerak yang jauh lebih luas. Hingga akhir Agustus 2011, setidaknya pemerintahan transisi telah mengesahkan sebanyak 19 partai politik)

Partai yang memerintah

:

(Belum dapat ditentukan, hingga terlaksananya Pemilu Parlemen, yang direncanakan dilaksanakan pada November 2011)

GDP

:

EGP 1.206,6 miliar/USD 202,7 miliar (2009-2010),
EGP 1.228,3 miliar/USD 206,4 miliar (2010/2011)

GDP Per Kapita

:

EGP 15.500/USD 2.605 (2009-2010)
EGP 15.780/USD 2.652 (2010-2011)

Pertumbuhan ekonomi

:

5,1% (2009-2010)
1,8 % (2010-2011)

Cadangan Devisa

:

USD 25,01 miliar (September 2011)

Angka pengangguran

:

12% dari total angkatan kerja

Komoditas Ekspor Utama

:

Minyak mentah dan produk-produk petrolium, katun, tekstil, produk-produk metal, chemical, produk pertanian (buah-buahan)

Komoditas Impor Utama

:

Mesin dan peralatan , makanan, bahan kimia, produk kayu, BBM

Keikutsertaan dalam Organisasi Internasional

:

ABEDA, ACCT, AFDB, AFESD, AMF, AU, BSEC (observer), CAEU, COMESA, EBRD, FAO, G-15, G-24, G-77, IAEA, IBRD, ICAO, ICC, ICCT (signatory), ICRM, IDA, IDB, IFAD, IFC, IFRCS, IHO, ILO, IMF, IMO, IMSO, Interpol, IOC, IOM, IPU, ISO, ITSO, ITU, LAS, MIGA, MINURCAT, MINURSO, MONUC, NAM, OAPEC, OAS (observer), OIC, OIF, OSCE (partner), PCA, UN, UNAMID, UNCTAD, UNESCO, UNHCR, UNIDO, UNMIL, UNMIS, UNOMIG, UNRWA, UNWTO, UPU, WCO, WFTU, WHO, WIPO, WMO, WTO

Website Resmi

:

www.egypt.gov.eg

 
II. HUBUNGAN BILATERAL RI – MESIR
Bidang Politik
Mesir merupakan salah satu negara terkemuka dan pertama yang memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Republik Indonesia pada 18 November 1946. Kurang dari setahun kemudian, tepatnya pada 10 Juni 1947, secara resmi kedua negara membuka hubungan diplomatik melalui penandatanganan Perjanjian Persahabatan (Treaty of Friendship and Cordiality), yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan perwakilan RI di Cairo pada 1949.

Sejak menjalin hubungan diplomatik, kedua negara senantiasa menjaga hubungan yang baik dan erat secara politis. Hubungan yang baik dan akrab tersebut ditandai antara lain dengan intensitas kunjungan pejabat antara kedua negara, kesamaan pandangan dalam berbagai isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama, dan koordinasi serta saling dukung dalam pencalonan masing-masing di berbagai organisasi dan forum internasional.

Dalam hal pertukaran kunjungan antarpejabat, hampir seluruh Presiden RI, pernah melakukan kunjungan kenegaraan atau kunjungan kerja ke Mesir. Sepanjang 2008-2010, terdapat sejumlah pejabat tinggi Indonesia yang berkunjung ke Mesir, antara lain Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud M.D.; Utusan Khusus Presiden RI, Sofyan Djalil; Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Abu Rizal Bakrie; Kepala Badan Standardisasi Nasional, Dr. Bambang Setiadi; Menlu RI (2009), N. Hassan Wirajuda; Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah, Dr. Alwi Shihab; dan Wakil Menteri Perhubungan/Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Kemenko Perekonomian, Bambang Susantono, Ketua DPR-RI, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, beberapa menteri dan anggota DPR, serta sejumlah misi kemanusiaan dari LSM Indonesia ke Jalur Gaza. Selain itu, Menlu RI Dr. R.Marty Natalegawa pada April  2011dan Presiden RI Periode 1998-1999 Prof. Dr. B.J.Habibie pada Juni 2011 juga melakukan kunjungan ke Cairo, Mesir.
Sementara itu dari pihak Mesir, Presiden Hosni Mubarak terakhir kali berkunjung ke Indonesia pada tahun 1983. Adapun pejabat tinggi Mesir yang pernah berkunjung ke Indonesia antara lain Menteri Luar Negeri Mesir Ahmed Aboul Gheit, dalam rangka menghadiri KTT Asia-Afrika dan peringatan Golden Jubilee KAA di Jakarta dan Bandung pada April 2005; dan Menteri Kerja Sama Internasional, Faiza Aboul Naga, dalam rangka Pertemuan Puncak D-8 di Bali pada Mei 2006 dan Sidang Komisi Bersama (SKB) V Indonesia-Mesir di Jakarta pada tahun 2007. Sedangkan pada tahun 2009, pejabat tinggi Mesir yang berkunjung ke Indonesia adalah Asisten Menteri Luar Negeri Urusan Asia, Muhamed el-Zorkany, dalam rangkaian lawatan­nya ke beberapa negara Asia guna mendorong peningkatan hubungan Mesir dengan negara-negara di kawasan ini.
Untuk memperkuat hubungan di berbagai bidang, kedua negara telah menyepakati pem­bentukan forum Konsultasi Bilateral di tingkat Pejabat Senior Kementerian Luar Negeri masing-masing sejak tahun 2001 dengan ditandatanganinya MoU on Consultation. Per­temuan Konsultasi Bilateral telah dilaksanakan sebanyak empat kali, dua kali di Indonesia, (di Bali, 19–20 Juli 2004 dan di Jakarta, 14 Agustus 2006) dan dua kali di Mesir (di Cairo, 9–10 Mei 2005 dan 29 Oktober 2008). Melalui forum tersebut, kedua negara membahas ber­bagai isu hubungan dan kerja sama bilateral serta melakukan pertukaran pandangan tentang berbagai isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama.
Awal tahun 2011 merupakan momentum bersejarah dalam perkembangan politik di Timur Tengah, termasuk di Mesir. Revolusi yang digerakkan oleh rakyat Mesir berawal pada 25 Januari 2011, menuntut pengunduran diri Presiden Mubarak. Unjuk rasa yang berlangsung selama kurang lebih 18 hari, berakhir dengan pengunduran diri Mubarak pada 11 Februari 2011, dan Pemerintahan Transisi Mesir diambil alih oleh DewanTertinggi Angkatan Bersenjata Mesir (Supreme Council of the Armed Forces/SCAF), dengan Ketua Dewan Tertinggi, Marsekal Hussein Tantawi, sebagai Pimpinan. Dalam kaitannya dengan perkembangan politik tersebut, dalam hal ini Mesir menilai bahwa proses reformasi dan demokratisasi Indonesia yang berawal pada tahun 1998 merupakan contoh nyata yang dapat menjadi rujukan Mesir dalam menjalani masa demokratisasi saat ini. Hal ini nampak pada upaya Mesir menggandeng Indonesia untuk melakukan sharing of experience proses transisi menuju demokrasi, yang dituangkan dalam berbagai bentuk dialog bilateral, seminar maupun workshop.

Sejak Januari hingga September 2011, tercatat sejumlah permintaan sharing of experience dari berbagai kalangan di Mesir kepada Indonesia, antara lain dari kantor Information and Decision Support Centre (IDSC), Egyptian Council for Foreign Affairs (ECFA), United Nations Development Programs (UNDP), National Democratic Institute (NDI) Cairo,  dan American University in Cairo (AUC). Tercatat pula sejumlah kunjungan pejabat/tokoh Indonesia ke Mesir dalam rangka dukungan terhadap proses demokratisasi di Mesir, diantaranya kunjungan Menlu RI Dr. R.M. Marty M. Natalegawa pada 14 April 2011; Ketua National Institute for Democratic Governance (NIDG) Letjen.(Purn.) Agus Widjojo pada 17-21 April 2011; Deputi Sekretaris Wapres Bidang Politik Dr. Dewi Fortuna Anwar pada 9-10 Mei 2011; Ketua MPR RI periode 1999-2004 Prof.Dr. Amien Rais; serta Presiden RI periode 1998-1999 Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie. Selain itu, Indonesia dan Mesir juga bekerja sama dalam penyelenggaraan berbagai seminar dan workshop dalam rangka sharing of experience tersebut, antara lain:

  • IPD Workshop on Egypt-Indonesia Dialogue on Democratic Transition,Jakarta, 25–26 Mei 2011;
  • Pertemuan Kelompok Ahli (PKA) mengenai Perubahan di Timur Tengah: Pengaruh dan Interdependensinya dalam Tatanan Global, Jakarta, 30 Mei 2011;
  • partisipasi Indonesia pada Forum Internasional mengenai Pathways of Democratic Transitions: International Experiences, Lessons Learnt, and the Road Ahead, Cairo, 5–6 Juni 2011;
  • IPD Workshop on Building Electoral Democracy in Egypt: Lessons Learned From the Indonesian Experience, Cairo, 25-26 Juli 2011.

Dalam konteks hubungan bilateral Indonesia-Mesir dan kaitannya dengan isu Timur Tengah, pada prinsipnya Indonesia memiliki posisi yang sama dengan Mesir tentang perlunya penyelesaian konflik Arab-Israel sesuai dengan resolusi-resolusi PBB yang relevan dan kesepakatan-kesepakatan yang pernah dicapai oleh pihak-pihak yang bertikai. Dalam kaitan ini, Indonesia mendukung tuntutan penarikan diri Israel dari seluruh tanah Arab yang didudukinya pada perang tahun 1967. Indonesia juga mengakui peran penting dan strategis Mesir dalam proses perdamaian Timur Tengah, khususnya dalam penyelesaian masalah-masalah Palestina-Israel, terlebih mengingat bahwa secara geografis Mesir berbatasan langsung dengan sebagian wilayah Palestina, yakni Jalur Gaza. Selain itu, Indonesia mendukung berbagai upaya dan peran Mesir dalam penyelesaian masalah Palestina, termasuk upaya rekonsiliasi antarfaksi Palestina dan pemulihan kembali perundingan damai Palestina-Israel. Lebih dari sekadar dukungan, Indonesia berkomitmen untuk ikut berperan aktif dan berkontribusi secara komplementer terhadap berbagai upaya pemajuan proses perdamaian Timur Tengah, termasuk upaya yang dilakukan Mesir.



KBRI Kairo


Visa

Layanan Kekonsuleran


PPLN Kairo Mesir


Atase Pendidikan dan Kebudayaan Cairo


BKPM


Himbauan WNI di Mesir

running1running2running3running8running9
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Syarat dan Ketentuan