Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Sukseskan Promosi Indonesia di Mesir dalam Yalla Indonesia, September 2014     |       HOTLINE KBRI Cairo +2010 2222 9989 / +2010 1518 5795     |       KBRI Cairo menghimbau seluruh WNI di Mesir untuk senantiasa menjaga diri dan memperhatikan kondisi keamanan Mesir terkini serta memperhatikan imbauan yang dikeluarkan KBRI Cairo     |       Selamat Datang di Situs Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo, Mesir     |       

Profil Negara dan Kerja Samanya dengan Indonesia

Mesir; Profil Negara dan Kerja Samanya dengan Indonesia

I. PROFIL NEGARA

 

Nama Resmi

:

Republik Arab Mesir (Jumhuriyat Misr al-Arabiyah)

Bentuk Negara

:

Republik

Ibukota

:

Cairo

Luas Wilayah

:

1.002.450 km2

Lagu Kebangsaan

:

Beladi Beladi

Populasi

:

85,927,940 (9 Februari 2014) sumber: Central Agency for Public Mobilization and Statistics (CAPMAS) Mesir 

http://www.capmas.gov.eg/

Agama

:

Islam (90%), Kristen Koptik (9%), lainnya (1%)

Bahasa Resmi

:

Arab

Mata Uang

:

Pound Mesir, USD 1=LE 6.99 (Februari 2014)

Hari Nasional

:

23 Juli (Hari Revolusi)

Kepala Negara

:

Adli Mansour (Presiden Sementara Masa transisi Sejak 3 Juli 2013)

Kepala Pemerintahan

:

Perdana Menteri. Dr. Hazim el-beblawy

Menteri Luar Negeri

:

H.E. Amb. Nabil Fahmy

PDB

:

USD 534,14 miliar (2012),

USD 551,44 miliar (2013)

PDB Per Kapita

:

USD 3.111,87 (2012)

USD 3.113,84 (2013)

Pertumbuhan ekonomi

:

2,2% (2012)
1,8 % (2013)

Cadangan Devisa

:

USD 17,03 milyar (Des 2013)

Angka pengangguran

:

12,3% dari total angkatan kerja (2012)

3% dari total angkatan kerja (2013)

Komoditas Ekspor Utama

:

Minyak mentah dan produk-produk petrolium, katun, tekstil, produk-produk metal, chemical, produk pertanian (buah-buahan)

Komoditas Impor Utama

:

Mesin dan peralatan , makanan, bahan kimia, produk kayu, BBM

Keikutsertaan dalam Organisasi Internasional

:

ABEDA, ACCT, AFDB, AFESD, AMF, AU, BSEC (observer), CAEU, COMESA, EBRD, FAO, G-15, G-24, G-77, IAEA, IBRD, ICAO, ICC, ICCT (signatory), ICRM, IDA, IDB, IFAD, IFC, IFRCS, IHO, ILO, IMF, IMO, IMSO, Interpol, IOC, IOM, IPU, ISO, ITSO, ITU, LAS, MIGA, MINURCAT, MINURSO, MONUC, NAM, OAPEC, OAS (observer), OIC, OIF, OSCE (partner), PCA, UN, UNAMID, UNCTAD, UNESCO, UNHCR, UNIDO, UNMIL, UNMIS, UNOMIG, UNRWA, UNWTO, UPU, WCO, WFTU, WHO, WIPO, WMO, WTO

Website Resmi

:

www.egypt.gov.eg




 

 

II. HUBUNGAN BILATERAL RI – MESIR

Bidang Politik

Mesir merupakan salah satu negara pertama yang memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Republik Indonesia pada 18 November 1946. Kurang dari setahun kemudian, tepatnya pada 10 Juni 1947, secara resmi kedua negara membuka hubungan diplomatik melalui penandatanganan Perjanjian Persahabatan (Treaty of Friendship and Cordiality), yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan perwakilan RI di Cairo pada 1949.


Sejak menjalin hubungan diplomatik, kedua negara senantiasa menjaga hubungan yang baik dan erat secara politis. Hubungan yang baik dan akrab tersebut ditandai antara lain dengan intensitas kunjungan pejabat antara kedua negara, kesamaan pandangan dalam berbagai isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama, dan koordinasi serta saling dukung dalam pencalonan masing-masing di berbagai organisasi dan forum internasional.


Dalam hal pertukaran kunjungan antar pejabat, hampir seluruh Presiden RI, pernah melakukan kunjungan kenegaraan atau kunjungan kerja ke Mesir. Sepanjang 2008-2013, terdapat sejumlah pejabat tinggi Indonesia yang berkunjung ke Mesir, antara lain Ketua DPR RI, Marzuki Alie, Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud M.D.; Utusan Khusus Presiden RI, Sofyan Djalil; Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Abu Rizal Bakrie; Kepala Badan Standardisasi Nasional, Dr. Bambang Setiadi; Menlu RI (2009), N. Hassan Wirajuda; Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah, Dr. Alwi Shihab; dan Wakil Menteri Perhubungan/Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Kemenko Perekonomian, Bambang Susantono, Ketua DPR-RI, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan, beberapa menteri dan anggota DPR, serta sejumlah misi kemanusiaan dari LSM Indonesia ke Jalur Gaza. Selain itu, Menlu RI Dr. R.Marty Natalegawa pada April 2011, Mei 2012 dan juga beserta Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada Januari 2013 juga telah melakukan kunjungan ke Cairo, Mesir.


Sementara itu dari pihak Mesir, Presiden Hosni Mubarak terakhir kali berkunjung ke Indonesia pada tahun 1983, sementara kunjungan Presiden Morsi tidak dapat terlaksana karena perubahan politik di Mesir. Adapun pejabat tinggi Mesir yang pernah berkunjung ke Indonesia antara lain Menteri Luar Negeri Mesir Ahmed Aboul Gheit, dalam rangka menghadiri KTT Asia-Afrika dan peringatan Golden Jubilee KAA di Jakarta dan Bandung pada April 2005; dan Menteri Kerja Sama Internasional, Faiza Aboul Naga, dalam rangka Pertemuan Puncak D-8 di Bali pada Mei 2006 dan Sidang Komisi Bersama (SKB) V Indonesia-Mesir di Jakarta pada tahun 2007. Sedangkan pada tahun 2009, pejabat tinggi Mesir yang berkunjung ke Indonesia adalah Asisten Menteri Luar Negeri Urusan Asia, Muhamed el-Zorkany, dalam rangkaian lawatan­nya ke beberapa negara Asia guna mendorong peningkatan hubungan Mesir dengan negara-negara di kawasan ini.


Untuk memperkuat hubungan di berbagai bidang, kedua negara telah menyepakati pem­bentukan forum Konsultasi Bilateral di tingkat Pejabat Senior Kementerian Luar Negeri masing-masing sejak tahun 2001 dengan ditandatanganinya MoU on Consultation. Per­temuan Konsultasi Bilateral telah dilaksanakan sebanyak lima kali, tiga kali di Indonesia, (di Bali, 19–20 Juli 2004 dan di Jakarta, 14 Agustus 2006 serta 22 Januari 2013) dan dua kali di Mesir (di Cairo, 9–10 Mei 2005 dan 29 Oktober 2008). Melalui forum tersebut, kedua negara membahas ber­bagai isu hubungan dan kerja sama bilateral serta melakukan pertukaran pandangan tentang berbagai isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama.


Tahun 2011 dan 2013 merupakan momentum bersejarah dalam perkembangan politik di Timur Tengah, termasuk di Mesir. Revolusi yang digerakkan oleh rakyat Mesir berawal pada 25 Januari 2011, menuntut pengunduran diri Presiden Mubarak. Unjuk rasa yang berlangsung selama kurang lebih 18 hari, berakhir dengan pengunduran diri Mubarak pada 11 Februari 2011, dan Pemerintahan Transisi Mesir diambil alih oleh DewanTertinggi Angkatan Bersenjata Mesir (Supreme Council of the Armed Forces/SCAF), dengan Ketua Dewan Tertinggi, Marsekal Hussein Tantawi, sebagai Pimpinan. Sementara Revolusi 30 Juni 2013 membuat Presiden terpilih Mohamed Morsi dan Ikhwanul Muslimin tidak lagi memegang kekuasaan di Mesir. Presiden ad interim Adly Mansour kemudian menjalankan proses transisi yang didahului dengan penyelenggaraan referendum amandemen konstitusi pada 14-15 Januari 2014 untuk kemudian disusul dengan Pemilu Legislatif dan Presiden.


Dalam kaitannya dengan perkembangan politik tersebut, dalam hal ini Mesir menilai bahwa proses reformasi dan demokratisasi Indonesia yang berawal pada tahun 1998 merupakan contoh nyata yang dapat menjadi rujukan Mesir dalam menjalani masa demokratisasi saat ini. Hal ini nampak pada upaya Mesir menggandeng Indonesia untuk melakukan sharing of experience proses transisi menuju demokrasi, yang dituangkan dalam berbagai bentuk dialog bilateral, seminar maupun workshop.


Sejak Januari hingga September 2011, tercatat sejumlah permintaan sharing of experience dari berbagai kalangan di Mesir kepada Indonesia, antara lain dari kantor Information and Decision Support Centre (IDSC), Egyptian Council for Foreign Affairs (ECFA), United Nations Development Programs (UNDP), National Democratic Institute (NDI) Cairo,  dan American University in Cairo (AUC). Tercatat pula sejumlah kunjungan pejabat/tokoh Indonesia ke Mesir dalam rangka dukungan terhadap proses demokratisasi di Mesir, diantaranya kunjungan Menlu RI Dr. R.M. Marty M. Natalegawa pada 14 April 2011; Ketua National Institute for Democratic Governance (NIDG) Letjen.(Purn.) Agus Widjojo pada 17-21 April 2011; Deputi Sekretaris Wapres Bidang Politik Dr. Dewi Fortuna Anwar pada 9-10 Mei 2011; Ketua MPR RI periode 1999-2004 Prof.Dr. Amien Rais; serta Presiden RI periode 1998-1999 Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie. Selain itu, Indonesia dan Mesir juga bekerja sama dalam penyelenggaraan berbagai seminar dan workshop dalam rangka sharing of experience tersebut, antara lain:


  • IPD Workshop on Egypt-Indonesia Dialogue on Democratic Transition,Jakarta, 25–26 Mei 2011;
  • Pertemuan Kelompok Ahli (PKA) mengenai Perubahan di Timur Tengah: Pengaruh dan Interdependensinya dalam Tatanan Global, Jakarta, 30 Mei 2011;
  • partisipasi Indonesia pada Forum Internasional mengenai Pathways of Democratic Transitions: International Experiences, Lessons Learnt, and the Road Ahead, Cairo, 5–6 Juni 2011;
  • IPD Workshop on Building Electoral Democracy in Egypt: Lessons Learned From the Indonesian Experience, Cairo, 25-26 Juli 2011.
  • Kunjungan Ketua Majlis Shoura ke Indonesia (21-24 November 2012)

Delegasi Majlis Shoura Mesir yang terdiri dari Dr. Ahmed Fahmy (Ketua Majlis Shoura), Ali Sayed Fathelbab dan Abdallah Abdelaziz (Anggota) berkunjung ke Indonesia dalam rangka menghadiri Parliamentary Event on Interfaith Dialogue di Bali pada 21 – 24 November 2012.

  • Kunjungan Ketua Komisi I DPR RI (27-30 November 2012)

Ketua Komisi I DPR RI, Drs. Mahfudz Siddiq, M.Si., dan rombongan yang terdiri dari 7 orang anggota Dewan ke Mesir dan Jalur Gaza Palestina pada 27 – 30 November 2012. Dalam kesempatan ini Delri diterima oleh Wakil Ketua Majlis Shoura, Reda Fahmy dan beberapa anggota Majlis Shoura lainnya. Selain itu, Delri juga diterima oleh Wakil Sekjen Liga Arab, Ahmad Bin Hally, dan Penasehat Sekjen/Direktur Urusan Asia dan Australia, Khaled Nayef El-Habbas. Di Jalur Gaza, Delri diterima oleh Wakil PLC (Palestinian Legislative Council), Ahmed Bahr, dan Ismail Haniya (mantan PM Palestina dari Hamas). Selain anggota DPR RI, Dalam kunjungan ke Jalur Gaza Ketua Delri didampingi juga oleh perwakilan dari KNRP (Komite Nasional bagi Rakyat Palestina), BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia), Dompet Dhuafa, Rumah Zakat Indonesia, ACT (Aksi Cepat Tanggap), dan PKPU (Pos Keadilan Peduli Umat).


  • Kunjungan Ketua DPR RI (2-6 Desember 2012)

Ketua DPR RI, Dr. Marzuki Alie, MM., melakukan kunjungan ke Mesir dan Palestina pada 2 – 6 Desember 2012. Ikut pula dalam rombongan Ketua DPR RI tersebut delegasi dari BKSAP (Badan Kerja Sama Antar-Parlemen) dan GKSB (Grup Kerja Sama Bilateral) DPR RI – PLC (Palestinian Legislative Council).

Selam berada di Mesir Ketua DPR RI telah diterima oleh Presiden Mohamed Morsi, Ketua Majlis Shoura, Ahmed Fahmy, dan PM Hesham Qandil. Selain bertemu dengan pejabat tinggi negara, Ketua DPR RI dan rombongan juga melakukan kunjungan ke lokasi pembangunan asrama mahasiswa di komplek Universitas Al-Azhar dan bertemu dengan Rektor Al-Azhar.

Selama di Jalur Gaza, Delri diterima oleh Wakil PLC (Palestinian Legislative Council), Ahmed Bahr, dan Ismail Haniya (mantan PM Palestina dari Hamas).


  • Konsultasi Bilateral V antara RI – Mesir (22 Januari 2013)

Pelaksanaan Konsultasi Bilateral RI – Mesir di Jakarta pada 22 Januari 2013. Hadir mewakili Mesir H.E. Amb. Salwa Mufied. Dalam kesempatan tersebut kedua pihak sepakat untuk a.) mendorong instansi teknis di masing-masing negara untuk menyelesaikan 2 (dua) draf MoU yang hampir final, yaitu MoU on Visa Exemption dan MoU on Combating and Preventing Transnational Crimes; b) mendorong instansi teknis di masing-masing negara untuk menyelesaikan sejumlah pending draf MoU dan Kerjasama.


  • Kunjungan Presiden RI ke Mesir dalam rangka menghadiri KTT OKI ke-12 (5-6 Februari 2013)

Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, berkunjung ke Mesir guna menghadiri KTT OKI ke-12, pada 5-6 Februari 2013. Selain menghadiri sidang OKI, Presiden RI juga meninjau lokasi pembangunan asrama mahasiswa di kompleks Universitas Al-Azhar yang didanai oleh Pemerintah RI.


Dalam konteks hubungan bilateral Indonesia-Mesir dan kaitannya dengan isu Timur Tengah, pada prinsipnya Indonesia memiliki posisi yang sama dengan Mesir tentang perlunya penyelesaian konflik Arab-Israel sesuai dengan resolusi-resolusi PBB yang relevan dan kesepakatan-kesepakatan yang pernah dicapai oleh pihak-pihak yang bertikai. Dalam kaitan ini, Indonesia mendukung tuntutan penarikan diri Israel dari seluruh tanah Arab yang didudukinya pada perang tahun 1967. Indonesia juga mengakui peran penting dan strategis Mesir dalam proses perdamaian Timur Tengah, khususnya dalam penyelesaian masalah-masalah Palestina-Israel, terlebih mengingat bahwa secara geografis Mesir berbatasan langsung dengan sebagian wilayah Palestina, yakni Jalur Gaza. Selain itu, Indonesia mendukung berbagai upaya dan peran Mesir dalam penyelesaian masalah Palestina, termasuk upaya rekonsiliasi antarfaksi Palestina dan pemulihan kembali perundingan damai Palestina-Israel. Lebih dari sekadar dukungan, Indonesia berkomitmen untuk ikut berperan aktif dan berkontribusi secara komplementer terhadap berbagai upaya pemajuan proses perdamaian Timur Tengah, termasuk upaya yang dilakukan Mesir.


Secara umum di bidang politik, Mesir masih berkutat dengan urusan politik dalam negeri, seperti persiapan draft amandemen konstitusi beserta persiapanteknis  referendumnya. Isu keamanan seperti penanganan aksi-aksi unjuk rasa yang rutin berlangsung dan terjadi simultan di beberapa daerah juga berpengaruh pada intensitas perhatian Mesir dengan hubungan kerjasama internasional.


KBRI Cairo, di tengah tantangan dimaksud, tetap menjalankan tugas pokok dan fungsinya, termasuk dengan membina hubungan dengan pejabat pemerintahan yang acap kali berganti. Dalam keadaan yang seperi ini, walaupun frekuensi saling kunjung di tingkat pejabat tinggi tidak lagi banyak dilakukan oleh kedua negara, namun demikian Presiden RI tetap mengunjungi Mesir dalam kerangka menghadiri KTT OKI ke-12 pada Februari 2013. Presiden bersama Ibu Negara juga didampingi oleh beberapa Menteri dan pejabat tinggi lainnya yaitu Menteri Parekraf RI, Menlu RI, dan beberapa pejabat dari BNPT, BNP2TKI, Kemenkopolhukam, dll.

 

Kerja sama Ekonomi, Investasi dan Perdagangan

Perjanjian di bidang ekonomi yang ditandatangani oleh RI dan Mesir adalah:


1.    Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the United Arab Republic for Air Services between and beyond their respective territories (11 Agustus 1964)

2.    Agreement on the Promotion and Protection of Investment (19 Januari 1994)

3.    Trade Agreement (23 Juni 1997)

4.    Agreement on the Avoidance of Double Taxation and the Prevention of Fiscal Evasion with Respect to Taxes on Income (13 Mei 1998)

5.    Memorandum of Understanding (MoU) between Central Bank of Egypt and Bank Indonesia (14 Mei 1998)

6.    MoU on Small and Medium Enterprises Cooperation (17 Juni 2000)

7.    MoU on Development of Syari'ah Financing Schemes for Small and Medium Enterprises in Indonesia (10 Agustus 2004)

8.    MoU on Veterinary Services and Quarantine Cooperation (18 Juni 2005)

9.    Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Arab Republic of Egypt on Economic and Technical Cooperation yang berlaku mulai 25 Agustus 2011 (4 April 2007)

10. Memorandum of Understanding Between the National Standardization Agency of the Republic of Indonesia and the Egyptian Organization for Standardization and Quality of the Arab Republic of Egypt on Standardization Cooperation (4 April 2007)

11. Memorandum of Understanding Between the National Agency for Export Development (NAFED) of the Republic of Indonesia and the General Organization for International Exhibition and Fairs (GOIEF) of the Arab Republic of Egypt on Cooperation in Exhibitions and Fairs (4 April 2007)

12. Memorandum of Understanding Between the Batam Industrial Development Authority (BIDA) of the Republic of Indonesia and the General Authority for Investment and Free Zones (GAFI) of the Arab Republic of Egypt on Free Zone Cooperation (4 April 2007)

13. Memorandum Of Understanding On Cooperation Research And Development Of Technology antara Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementerian Perindustrian RI

14. Arrangement Between The Republic Of Indonesia And The Arab Republic Of Egypt On The Development Of Water Hyacinth Base Product Industry 

15. Memorandum of Understanding (MoU) Between Indonesian Furniture Industry & Handicraft Association (ASMINDO) and Egyptian-Indonesian Business Council on Water Hyacinth Joint Venture.


Situasi Mesir yang hingga saat ini belum kondusif menyebabkan kerjasama bilateral antara RI-Mesir di tingkat Pemerintah kedua negara belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Beberapa kegiatan yang masih terkendala untuk dilaksanakan adalah Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-6 di Mesir, dan upaya untuk merintis Free Trade Agreement (FTA) ataupun Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). 


Di sektor penerbangan sipil, RI dan Mesir telah melakukan negosiasi tahap akhir pembaharuan Air Service Agreement (ASA). Masih dalam kaitan dengan sektor dimaksud, pada akhir Desember, maskapai penerbangan nasional Mesir, Egypt Air telah diberikan izin untuk melakukan penerbangan Cairo-Kuala Lumpur-Jakarta. Namun, sebaliknya, hingga saat ini, maskapai penerbangan nasional Indonesia, Garuda Indonesia, belum mendapatkan izin penerbangan dalam bentuk code sharing dengan maskapai Etihad untuk melakukan penerbangan Jakarta-Abu Dhabi-Cairo, kendati telah mengajukan izin dari bulan Mei 2013. Dalam hal ini, KBRI Cairo telah beberapa kali menempuh jalur diplomatik guna membantu Garuda Indonesia agar mendapatkan izin dari otoritas terkait di Mesir, namun belum mendapatkan respon. 


Dalam bidang investasi, hingga akhir Desember 2013, tercatat bahwa KBRI Cairo menerima 3 (tiga) inquiry dari investor Mesir yang berniat untuk menanamkan modalnya di Indonesia, di bidang manufaktur, kesehatan dan keuangan. Diharapkan bahwa permintaan ini akan mewujud menjadi peningkatan investasi Mesir di Indonesia, mengingat saat ini justru Indonesia yang memiliki investasi di Mesir dengan nilai investasi sekitar USD 500 juta.


Salah satu hal yang menjadi alasan masih kurangnya minat pelaku usaha Indonesia untuk berinvestasi di Mesir maupun sebaliknya adalah masalah pencitraan, jarak, dan kurangnya awareness potensi yang dimiliki oleh masing-masing negara. Dalam pandangan pelaku usaha Indonesia, jarak Indonesia-Mesir yang cukup jauh dipandang sebagai kendala, demikian pula masalah instabilitas yang kerap menjadi pertimbangan sebelum mau melakukan perluasan usaha ke Mesir. Apalagi pemerintah interim saat ini lebih mengedepankan hubungan dengan negara-negara GCC yang memberikan bantuan dalam bentuk hibah sehingga memang diperlukan upaya-upaya lebih keras agar pemerintah maupun pelaku usaha di Mesir memahami potensi yang dimiliki Indonesia. 


Jumlah penduduk Mesir yang besar dan letak geografisnya yang strategis, seharusnya menjadi salah satu pertimbangan bagi para pelaku usaha Indonesia untuk memperlebar sayapnya ke Mesir. Apalagi Mesir merupakan anggota dari COMESA (Common Market for Eastern and Southern Africa) yang beranggotakan 19 negara yang memiliki pengaturan Preferential Tariff Arrangement (PTA), sehingga Mesir dapat  menjadi pintu masuk dan memudahkan masuknya produk-produk Indonesia ke kawasan Afrika dengan tarif masuk yang lebih rendah. Demikian juga sebaliknya, Indonesia yang memiliki ASEAN FTA dapat dimanfaatkan oleh para pelaku usaha Mesir guna menanamkan modalnya di Indonesia dan memanfaatkan platform ASEAN FTA untuk memasarkan produk-produknya di kawasan Asia Tenggara.


Pemahaman karakteristik konsumen Mesir terhadap produk-produk Indonesia perlu semakin dipergiat, mengingat sebenarnya Mesir merupakan negara pengimpor. Dalam hal ini, produk-produk Indonesia dapat menyasar ceruk pasar (niche) untuk konsumen kelas menengah yang belum banyak disasar oleh produk-produk negara lain. Beberapa produk dan merek kelas menengah dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura dapat dijumpai di pusat-pusat perbelanjaan terkemuka di Mesir, namun sebaliknya belum ada merek/brand Indonesia yang masuk ke pusat-pusat perbelanjaan tersebut. Sementara untuk konsumen kelas bawah, produk RRT merajai pasar, dan produk high-end dikuasai oleh merek Eropa.

 

Kerja sama Sosial Budaya dan Pendidikan

Hubungan sosial budaya Indonesia-Mesir telah berlangsung sejak pertengahan abad ke-19, dimana puluhan mahasiswa asal Nusantara yang dikenal dengan Ruwaq Jawi menuntut ilmu di Al Azhar Mesir.  Al Azhar merupakan universitas utama tujuan pelajar Indonesia yang ingin lebih memperdalam ilmunya tentang agama Islam.

Di masa kini, dalam pelaksanaan hubungan kerja sama bilateral Indonesia-Mesir dalam bidang sosial budaya dan pendidikan, terdapat beberapa perjanjian kerja sama yang menjadi payung bagi terlaksananya kerja sama tersebut, di antaranya adalah:

  • Perjanjian Kerja Sama Budaya antara Indonesia dan Mesir yang ditandatangai pada tanggal 10 Oktober 1955;
  • Protokol Kerja Sama Penerangan Pemerintah RI dan Pemerintah Mesir ditandatangani tanggal 19 Oktober 1972;
  • Persetujuan LKBN ANTARA-MENA yang ditandatangani di Cairo tanggal 12 Oktober 1977;
  • Joint Communique antara Persatuan Wartawan Indonesia-Persatuan Wartawan Indonesia Mesir dan organisasi jurnalistik Indonesia pada tahun 1983;
  • MoU bidang pariwisata yang ditandatangai pada tanggal 19 Januari 1984;
  • Protocol of Cooperation in the Field of Information and Between the Department of Information of the Republic of Indonesia and the Ministry of State for Information of the Arab Republic of Egypt tahun 1984 ditandatangani di Cairo tanggal 18 Mei 1984;
  • Protokol kerja sama bidang agama dan wakaf 11 Mei 1992;
  • MoU on Youth and Sport ditandatangani pada tanggal 18 September 1994;
  • MoU bidang Iptek 7 September 1995;
  • Perjanjian kerja sama keilmuan dan pendidikan antara Depag RI dengan Al-Azhar 19 Januari 1996;
  • Perjanjian pembukaan SD dan Sekolah Menengah Al-Azhar di Jakarta 28 September 1999;
  • Protokol kerja sama bidang informasi ditandatangani tanggal 19 Maret 2003;
  • MoU antara berbagai universitas Indonesia dan Mesir.


Indonesia aktif dalam melaksanakan beragam kegiatan budaya baik yang bersifat promosi maupun melalui kerja sama dengan berbagai pusat-pusat kebudayaan di Mesir. Di 2011, terutama setelah Revolusi Mesir, kegiatan budaya yang telah dilakukan oleh KBRI di antaranya adalah pagelaran "Ramadhan Lifestyle in Indonesia" pada tanggal 10 Agustus 2011 di Cairo Opera House dan tanggal 12 Agustus 2011 di Opera Damenhur, peringatan hari anak nasional bekerja sama dengan Yayasan 6 Oktober pada 27 Juli 2011, keikutsertaan dalam Festival Music Sufi Internasional (15-25 Agustus 2011).

Salah satu sarana utama dalam mempromosikan budaya Indonesia kepada masyarakat Mesir adalah dengan menyelenggarakan kursus bahasa Indonesia yang telah diefektifkan sejak tanggal 3 Agustus 2008 oleh Pusat Kebudayaan dan Informasi (PUSKIN). Tujuan utamanya adalah untuk menjembatani kedua Negara dalam meningkatkan people to people contact untuk saling mengenalkan budaya kedua bangsa. Hingga bulan September 2011 jumlah alumni dan siswa PUSKIN sekitar 200 orang. Selain belajar bahasa, siswa PUSKIN juga diperkenalkan dengan budaya Indonesia, seperti music angklung, kecapi suling, seni Pencak Silat, nonton bersama (film Indonesia), mengenal kuliner Indonesia, dll.

Sementara itu dalam rangka peningkatan kerja sama pemuda telah dilaksanakan Program Indonesia-Egypt Youth Exchange-IEYE 2007.  Sebanyak 24 orang warga Negara Mesir, terdiri dari 20 mahasiswa/i, 2 wartawan travel writers (Al Ahram Al Araby dan Gazette), serta 2 pendamping dari National Council for Youth telah melakukan kunjungan ke Indonsia pada bulan Agustus 2007.

Bentuk promosi kerja sama lainnya yaitu berupa pengiriman wartawan Mesir ke Indonesia. Pada tahun 2005, KBRI Cairo telah mensponsori pengiriman 2 (dua) orang wartawan Mesir masing-masing Mr. Sayed Hany (wartawan SK Al Gomhouria) dan Mr. Mounir El Fishawy (wartawan majalah Islamic Tourism) untuk mengikuti program "Fam-Trip" yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI. Program serupa dilaksanakan pada Agustus 2009 dengan mengikutsertakan Jurnalis al-Ahram, Mr. Mohamed Osman sebagai peserta Presidential Friends of Indonesia. 

Pada bulan Oktober 2011, dua orang fotographer  dan 10 orang wartawan media cetak dan televisi Mesir diundang oleh Indonesia dalam kegiatan Fam Trip yang dilaksanakan di Jakarta, Yogyakarta dan Bali.

Untuk pengembangan diplomasi publik lainnya, Indonesia juga aktif melakukan diseminasi informasi melalui keikutsertaan dalam berbagai event internasional yang diselenggarakan di Mesir, antara lain Festival Film Internasional Cairo, mengisi berbagai acara TV dan radio dan lain-lain.

Di bidang penerangan, KBRI mencatatat bahwa dalam tahun 2013 tercatat tidak kurang dari 1480 pemberitaan media cetak dan online serta sebanyak 15 tayangan mengenai Indonesia di televisi Mesir.

KBRI Cairo senantiasa membina hubungan baik dengan insan media serta meningkatkan intensitas pemberitaan mengenai Indonesia dan kegiatan KBRI melalui media-media baik cetak, eletronik ataupun online. Dalam kaitan itu juga, KBRI pada 28 November 2013 menyelenggarakan Media Award 2013 dengan memberikan penghargaan kepada beberapa media yang banyak berperan menurunkan berita tentang Indonesia baik peristiwa di Indonesia maupun rilis-rilis yang diberitakan KBRI.

Radio Cairo Berbahasa Indonesia (RCBI) didirikan pada tahun 1953 merupakan siaran Mesir berbahasa asing pertama dan ditujukan untuk para pendengar di tanah air agar informasi dan perkembangan, terutama di Mesir dapat secara langsung didengar oleh pendengar di Indonesia, yang mayoritas penduduknya pemeluk agama Islam. Pengadaan RCBI erat kaitannya dengan promosi dan propaganda Mesir di luar negeri. RCBI mengudara selama 90 menit setiap hari.

Dalam rangka Hari Sehat Masisir, KBRI Cairo pada 3 November 2013 melakukan aksi sosial donor darah bekerja sama dengan Bulan Sabit Merah Mesir yang penyelenggaraannya dilakukan di rumah-rumah daerah, yaitu di Kelompok Studi Walisongo (KSW-Jawa Tengah) dan di Keluarga Paguyuban Mahasiswa Jawa Barat (KPMJB) yang lokasi keduanya berada di tengah-tengah komunitas mahasiswa Indonesia di Distrik Nasr City.

Dalam upaya lebih mengenalkan dan mempopulerkan seni budaya Indonesia, KBRI bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Mesir dan berpartisipasi dalam berbagai aktifitas dan kegiatan yang dihubungkan dengan upaya pemulihan pariwisata di Mesir. Selama tahun 2013 KBRI Cairo berpartisipasi aktif antara lain pada : Aswan International Festival of Arts & Culture (16-23 Februari 2013); Damanhour 1st International Folk Festival (7-11 April 2013); International Festival for Drums and Arts (19-25 April 2013); Pemutaran Film Habibie & Ainun di Opera Damanhour (28 Mei 2013); dan 6th of The International Samaa Festival for Spiritual Music and Chanting (16-21 November 2013).

Di bidang pariwisata, jumlah wisatawan Mesir ke Indonesia vice-versa, belum signifikan bagi devisa kedua negara. Namun demikian, KBRI terus melakukan promosi dan upaya untuk menarik wisman Mesir ke Indonesia dengan mengadakan "Tour Operators Gathering" pada tanggal 4 Juli 2013 yang mengumpulkan para operator pelaku wisata Mesir dan dengan menghadirkan Ibu Esthy Astuty, Dirjen Promosi Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf). Sementara Mesir, keinginannya untuk membuka pasar baru pariwisatanya dengan menarik wisatawan Indonesia, yang selama ini melakukan kunjungan wisata religi ke Mesir, diikuti dengan dibukanya route penerbangan nasional Egypt Air yang telah memulai penerbangannya ke Jakarta pada bulan Desember 2013.

Pada tahun 2013, jumlah kunjungan Wisman Mesir ke Indonesia periode Januari - November  mencapai 5,416 orang. Naik sebesar 30% dibanding periode yang sama tahun 2012 yaitu sebanyak  4,175 orang.

Di bidang peningkatan hubungan people to people contact, KBRI Cairo mengadakan kerja sama dengan American Future School di Nasr City untuk pelatihan olahraga bulutangkis bagi siswa/I sekolah mereka. Kegiatan ini sudah berjalan satu tahun lebih dan dilatih oleh mahasiswa Indonesia di Mesir.

Dalam  bidang pendidikan, Indonesia dan Mesir terus meningkatkan hubungan yang intensif antara universitas-universitas di Indonesia dan Mesir. Sebagai perwujudan dari kerja sama itu, Universitas Al-Azhar Mesir memberikan beasiswa untuk pelajar asal Indonesia sebanyak 115 setiap tahun dengan perincian: 90 beasiswa program SI, 20 beasiswa program pasca sarjana dan 5 beasiswa pra perguruan tinggi. Pemerintah Mesir juga memberikan 5 beasiswa program S1 di Universitas Non-Al-Azhar untuk bidang Studi Ekonomi, Hukum dan Bahasa Arab. Selain itu, Universitas Minia, memberikan beasiswa bagi 10 mahasiswa UNJ untuk mengikuti pendidikan bahasa Arab selama 1 tahun.

Majelis tertinggi Urusan Agama Islam, di Kementrian Wakaf Mesir memberikan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar, pada saat ini mencapai 100 orang.  Selain itu, Al Azhar mengirimkan tenaga pengajar untuk madrasah dan pesantren di Indonesia sebanyak 50 orang yang ditempatkan di berbagai lembaga pendidikan Islam di seluruh pelosok Indonesia. Al Azhar juga memberikan kesempatan pelatihan Da'i bagi muballigh Indonesia selama 3 bulan bersama imam dan muballigh dari berbagai negara.

Pada tahun 2007-2008 empat orang mahasiswa asal Mesir mendapatkan beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia. Mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai bahasa Indonesia, kesenian, musik maupun kerajinan tradisional Indonesia di salah satu universitas di Indonesia.

Pada September 2011, 20 mahasiswa Mesir dikirim oleh KBRI Cairo untuk mendapatkan kesempatan Dharmasiswa dan beasiswa S2.

Selain beasiswa, kegiatan kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Mesir juga dilaksanakan dalam bentuk Arabic in Country Programme, pertukaran dosen, mahasiswa, Joint Research, Sandwich programme hingga rintisan kerja sama dalam program Double-degree antara beberapa Univeritas di Indonesia dan Mesir.

Dari pengembangan kerja sama pendidikan dimaksud, jumlah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir pada tahun 2011 ini tercatat mencapai lebih dari 4000 orang. Informasi lebih lanjut mengenai pendidikan dapat diakses di http://www.atdikcairo.org.

 



KBRI Kairo


Visa

Layanan Kekonsuleran


PPLN Kairo Mesir


Atase Pendidikan dan Kebudayaan Cairo


BKPM


Himbauan WNI di Mesir

running1running2running3running8running9
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Syarat dan Ketentuan