Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Kunjungi Website Portal Deplu     |       Selamat Datang Di Website KBRI Bern     |       

Tips

Swiss

1. Tinjauan Ekonomi Swiss

Perekonomian Swiss bersandar kepada sektor industri yang berorientasi ekspor, dikarenakan miskinnya sumber daya alam, relatif kecilnya luas wilayahnya, dan minimnya jumlah penduduk (sekitar 7,500,000 orang). Karenanya, impor Swiss sebagian besar merupakan bahan mentah, yang kemudian setelah melalui proses pengolahan, diekspor sebagai suatu produk dengan kualitas tinggi. Produk ekspor yang terkenal adalah jam, coklat dan keju, namun kenyataannya hasil dari ekspor industri mekanik, elektronik dan bahan kimia mencapai lebih dari separuh pendapatan keseluruhan ekspor Swiss. Kebijakan perekonomian Swiss berlandaskan pada perdagangan bebas, tanpa kuota impor, dimana satu-satunya perkecualian adalah untuk hasil pertanian – namun saat ini mulai perlahan-lahan dikurangi pengetatan jumlah kuotanya, sebagai dampak penandatanganan perjanjian dengan Uni Eropa (UE). Secara tradisional hubungan ekonomi dan perdagangan Swiss berorientasi atau banyak dilakukan dengan negara-negara tetangganya di Eropa, khususnya Jerman, Perancis dan Itali. Namun kini Swiss, diantaranya melalui fasilitas EFTA (European Free Trade Association), juga aktif melakukan perundingan dengan negara-negara yang memiliki pasar yang lebih besar untuk memperbaiki dan membuka akses perusahaan-perusahaan Swiss ke pasar dunia.

Karakteristik perekonomian Swiss adalah bahwa perusahaan-perusahaan Swiss kebanyakan berukuran menengah dan kecil, hanya beberapa yang berukuran besar. Perusahaan besar Swiss kebanyakan telah mempunyai cabang perusahaan di manca negara yang bahkan memproduksi produknya di negara tersebut.

Kelangkaan sumber daya alam memaksa Swiss untuk memfokuskan produksinya pada produk khusus yang berkualitas tinggi yang dapat menembus pasar internasional. Strategi inilah yang berhasil menempatkannya sebagai salah satu negara terkaya di Eropa. Tiga pilar industri Swiss yang berbasis pada ilmu pengetahuan (science-based industries), yaitu meliputi farmasi, bioteknologi dan speciality chemicals – mencapai kesuksesannya berkat pendekatan strategi ini. Hal ini juga didukung oleh kemajuan perkembangan teknologi di bidang material science, teknologi mesin, teknologi listrik dan komunikasi. Keberhasilan Swiss di bidang teknologi belum luas dikenal orang, umumnya karena nama Swiss lebih dikaitkan dengan perbankan, jam, coklat, keju, ataupun pisau Victorinox.

Dalam sektor jasa, Swiss terkenal dengan sistem perhotelan, perbankan dan asuransinya. Jasa Konsultasi, asuransi dan kepariwisataan juga merupakan bagian dari ekspor Swiss. Sekitar 210.000 penduduk Swiss terlibat secara langsung pada sektor pariwisata, contohnya dalam industri katering, kereta gantung (aerial cable way), kantor pariwisata dan biro perjalanan.

Sektor keuangan merupakan salah satu unsur utama penunjang perekonomian di Swiss dibandingkan di Amerika Serikat maupun Inggris. Sektor perbankan Swiss memberikan kontribusi 12,5% terhadap GDP, sedangkan di AS dan Inggris masing-masing hanya menyumbang sebesar 5,1% dan 6,7%.

Walaupun secara geografis wilayahnya hanya meliputi 0,028% dari total luas daratan dunia, namun Swiss diakui sebagai salah satu pusat keuangan yang terbaik di dunia. Keberhasilan Swiss ini didorong oleh letaknya yang strategis di tengah-tengah Eropa, stabilitas politiknya, nilai tukar mata uangnya yang tinggi, tingkat inflasinya yang rendah, ketatnya Undang-undang perlindungan kerahasiaan perbankannya, dan pusat jasa keuangannya yang teratur dan maju. Dua bank terbesarnya, yakni UBS dan Credit Suisse, menguasai dua pertiga sektor perbankan Swiss. Perbankan  menyerap sekitar 3% jumlah angkatan kerja Swiss.

UE dengan 490 juta konsumen merupakan mitra dagang terpenting Swiss. Perdagangan antara Swiss dengan UE rata-rata mencapai CHF 300 milyar atau setara dengan US$ 298 milyar per tahun. Swiss merupakan mitra dagang UE ketiga terbesar dalam bidang pertanian, dimana sekitar 70% ekspor produk pertanian Swiss adalah ke pasar UE.

Selain hubungan bilateral-nya dengan UE, Swiss juga semakin meningkatkan jalinan kerjasama bilateralnya dengan negara-negara lainnya. Bagi Swiss yang ekonominya sangat bergantung pada perdagangan internasional, perjanjian perdagangan bebas merupakan sarana penting, baik dalam mengembangkan hubungan perdagangan maupun dalam pengaturan investasi dengan negara dunia ketiga. Hal ini berusaha dicapai Swiss lewat keanggotaannya dalam EFTA (European Free Trade Area) yang beranggotakan Swiss, Norwegia, Islandia dan Liechtenstein.


2. Potensi Produk Indonesia di Swiss dan Produk Swiss di Indonesia

Neraca perdagangan Indonesia-Swiss walaupun trend-nya memperlihatkan kenaikan dari tahun ke-tahun, namun Indonesia masih terus mengalami defisit dalam transaksi perdagangannya dengan Swiss. Hal ini semata-mata bukan karena kekurang-mampuan Indonesia untuk mengimbangi, namun komoditi ekspor utama Indonesia ke Swiss, seperti: minyak atsiri, garmen, sepatu, produk elektronik, furniture, minyak tumbuhan, timah, kopi; memiliki nilai produk yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan komoditi ekspor Swiss ke Indonesia, antara lain: suku cadang mesin pembangkit listrik, produk farmasi, produk kimia, bahan pewarna dan bahan kosmetik.

Swiss sampai saat ini masih memberikan fasilitas keringanan bea masuk atas berbagai produk Indonesia (a.l. produk industri dan sebagian besar produk pertanian) melalui skema Generalized System of Preference (GSP) dalam rangka mengimplementasikan Resolusi 21 (II) UNCTAD II tahun 1968 yang telah dilaksanakan sejak Maret 1972. Dalam hal ini telah cukup banyak eksportir Indonesia yang memanfaatkan fasilitas ini dalam bekerjasama dengan importir di Swiss, dengan melengkapi persyaratan akan Surat Keterangan Asal (SKA) atas produk bersangkutan yang dikeluarkan pihak berwenang di Indonesia, dalam hal ini oleh Departemen Perdagangan RI.


3. Potensi Investasi

Kerjasama investasi antara Swiss-Indonesia selama ini telah dituangkan melalui penandatanganan Persetujuan Peningkatan dan Perlindungan Penanaman Modal pada tanggal 6 Februari 1974 bertempat di Jakarta, yang selanjutnya ditingkatkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) antara Swiss Organization for Facilitating Investment (SOFI) dengan Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) pada tanggal 1 Februari 1999 bertempat di Bern, dengan judul Working together for Facilitating Cooperation between Swiss and Indonesian Enterprises Aiming to Effect Transfer of Capital Investment and Know How to Indonesia.

Swiss berdasarkan catatan BKPM menempati urutan negara investor ke-12 secara keseluruhan, dan ke-5 diantara negara-negara Eropa di Indonesia, dengan jumlah investasi langsungnya selama periode Januari-November tahun 2008 mencapai US$ 179,904,134 dan meliputi 6 buah proyek. Untuk sektor yang diminati oleh investor Swiss antara lain adalah di bidang industri makanan, industri kimia dan farmasi, pengiriman, perkebunan, perhotelan, pengolahan air minum, engineering, dll. Sekitar 75 perusahaan Swiss saat ini beroperasi di Indonesia dan mempekerjakan kurang lebih 59.415 orang. Beberapa perusahaan besar Swiss di Indonesia antara lain: ABB, Bobst, Ciba, Clariant, Colenco, Crédit Suisse, Danzas, DKSH, Egon Zehnder, Firmenich, Givaudan, Nestlé, Novartis, Panalpina, Roche, Holcim, Sika, Sulzer, Swiss air LINEs, UBS, Villiger Tobacco, Zurich Insurance Société, dll.

Selain itu pada Desember 2008 parlemen Swiss telah menyetujui pemilihan Indonesia sebagai Target Country bagi program kerjasama ekonomi dan pembangunan Sekretariat Perekonomian Swiss (SECO) bersama enam negara berkembang lainnya  (Mesir, Ghana, Kolombia, Afrika Selatan dan Vietnam) untuk mendapatkan bantuan kerjasama pembangunan dalam rangka pengembangan kebijakan ekonomi dan perdagangan. Total bantuan tersebut bernilai CHF 800 juta untuk periode 2009 – 2012.


4. Pameran / Promosi Terkemuka di Swiss

Dalam rangka meningkatkan hubungan perdagangan, pemerintah Swiss melalui institusi Swiss Import Promotion Programme (SIPPO) berupaya membantu UKM dari negara-negara berkembang untuk memperoleh akses ke pasar Swiss dan juga pasar Eropa (UE) pada umumnya. Dalam periode tahun 2007 - 2009 banyak tercatat perusahaan Indonesia yang memperoleh bantuan dan dukungan penuh dari SIPPO untuk berpartisipasi dalam berbagai pameran dagang di Swiss, Jerman dan Belgia.

Pameran-pameran pada tahun 2009 yang telah ditawarkan oleh SIPPO kepada Perusahaan dan UKM Indonesia di bidang terkait, yaitu:

  1. TTW – Montreux, Pameran Pariwisata di Montreux, 4 – 6 November 2009
  2. Food Ingredients – Frankfurt, Frankfurt, 17 – 19 November 2009.

 

Berikut merupakan link dari daftar pameran yang dapat dimanfaatkan bagi pengusaha yang ingin memasuki pasaran Swiss dan sekitarnya :
http://www.osec.ch/internet/osec/en/home/import/events/fairs.html


5. Link Instansi Terkait di Swiss


6. Hal-hal khusus yang harus diperhatikan pebisnis dalam melakukan hubungan dagang  dengan pengusaha Swiss

Untuk melakukan ekspor ke Swiss, hal yang perlu diperhatikan, antaranya :

  • Swiss sangat mementingkan persyaratan kualitas yang tinggi terhadap produk yang diimpornya.
  • Daya serap pasar Swiss relatif kecil sehingga volume impor suatu komoditi tertentu menjadi relatif kecil pula.


Gedung KBRI

Potensi Ekonomi Luar Negeri

static1


static3


static4


static5

running1running2running3running8running9
running10
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia
Syarat dan Ketentuan