Deplu   Kementerian Luar Negeri
Republik Indonesia
Kontak Kami BahasaEnglishSearch
Rangkaian Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri ASEAN pada KTT ke-20 ASEAN
Tuesday, 03 April 2012 17:00

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI telah menghadiri rangkaian Pertemuan tingkat Menlu ASEAN sebagai rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-20 ASEAN, di Phom Penh, Kamboja, 2 April 2012. Rangkaian Pertemuan terdiri atas ASEAN Foreign Ministers Meeting (AMM), AMM Meeting with ASEAN Inter-governmental Commission on Human Rights, 7th ASEAN Political Security Community (APSC) Council, dan ASEAN Coordinating Council (ACC).

Pada siaran pers kepada media setempat, Menlu RI menyampaikan bahwa saat ini, ASEAN telah menjadi nett-contributor bagi terciptanya stabilitas dan keamanan di kawasan ASEAN.

Terkait pencapaian Komunitas ASEAN di tahun 2015, Menlu RI mengingatkan bahwa ASEAN kiranya usah berpuas diri. Hal ini mengingat semakin beragamnya tantangan yang dihadapi dan semakin tidak pastinya kondisi yang dihadapi ASEAN, baik di tingkat regional dan global.

Myanmar

Pada pembahasan mengenai perkembangan di Myanmar, Menlu RI menyampaikan bahwa keberhasilan pelaksanaan by-election di Myanmar pada 1 April 2012  memperoleh apresiasi dari seluruh Negara anggota ASEAN.

Menlu RI berpandangan bahwa pencapaian proses demokratisasi ini irreversible serta akan mendorong upaya pencabutan sanksi terhadap Myanmar melalui penyusunan suatu roadmap dan dilakukannya joint demarche oleh ASEAN.

"Kami berkeyakinan bahwa perkembangan situasi di Myanmar merefleksikan kapasitas ASEAN dalam mendorong proses demokratisasi di kawasan" tambah Menlu Marty.

Laut China Selatan

Terkait Laut China Selatan dan implementasi Declaration of Conduct (DOC), Menlu Marty memandang perlu bagi negara anggota ASEAN untuk menjaga momentum situasi yang kondusif, stabil dan damai ini.  Menurutnya, hal tersebut dapat dilaksanakan melalui implementasi penuh, efektif dan segera DOC serta kesepakatan Guidelines DOC termasuk proses ASEAN yang tengah berlangsung dalam penyusunan elemen utama suatu Regional Code of Conduct (COC).

"ASEAN dan Indonesia menyambut baik komitmen RRT dalam mengimplementasikan kesepakatan antara ASEAN dan RRT yang telah diperoleh. Dalam hal ini, Indonesia dapat berperan aktif  dalam mendorong seamless process antara negara anggota ASEAN dan RRT dengan harapan tidak adanya lack of progress" tutur Menlu RI.

Lebih lanjut, Menlu RI menekankan bahwa sinyal positif yang ditunjukkan oleh RRT, untuk segera bekerja sama dan membahas suatu COC, perlu ASEAN sambut dengan tanggapan yang senada. Namun demikian dalam mempersiapkan pembahasan COC antara ASEAN dan RRT, proses internal ASEAN harus segera dirampungkan terlebih dahulu.

 

Semenanjung Korea

Dalam menanggapi permasalahan di Semenanjung Korea, negara anggota ASEAN menyatakan concern terhadap rencana peluncuran satelit oleh Korea Utara.

"Indonesia, dalam hal ini, mengharapkan setiap pihak dapat senantiasa mendorong dan menjaga kondisi kondusif bagi penciptaan stabilitas, perdamaian dan keamanan di kawasan Semenanjung Korea" sambung Menlu RI

Menurutnya, berbagai tindakan yang hanya akan menimbulkan hambatan dalam konteks denuklirisasi Semenanjung Korea dan dimulainya kembali Six Party Talks, perlu juga dihindari oleh seluruh pihak yang terkait.

South East Asia Nuclear Weapon Free Zone (SEANWFZ)

Menanggapi penyelesaian Traktat SEANWFZ, Menlu RI menegaskan bahwa penyelesaian komitmen Negara Pemilik Senjata Nuklir (P5) dalam mengaksesi Traktat SEANWFZ akan meningkatkan profil SEANWFZ di tingkat global.

Untuk itu, menurut Menlu RI, momentum yang telah tercapai saat Keketuaan Indonesia di tahun 2011, dimana Negara Pemilik Senjata Nuklir telah menyepakati rancangan Protokol SEANWFZ untuk ditandatangani, perlu untuk terus dijaga.

Dalam hal ini, Menlu RI berpandangan bahwa Indonesia dapat mendorong agar negara anggota ASEAN dapat memastikan aksesi Negara Pemilik Senjata Nuklir terhadap Protokol SEANWFZ dapat dilakukan pada saat AMM/PMC/ARF di bulan Juli 2012 yang akan datang.

Timor Leste

Perihal
keinginan Timor Leste untuk menjadi negara anggota ASEAN, Menlu RI menyampaikan bahwa Indonesia dan ASEAN secara prinsip menyambut baik keinginan dan aplikasi resmi Timor Leste untuk menjadi negara anggota ASEAN.

Hal tersebut tercermin dengan berhasil diselesaikannya Term of Reference of the ASEAN Coordinating Council Working Group (TOR ACCWG) pada pertemuan Joint Meeting of the ASEAN SOM, SEOM, SOCA on the ACCWG.  TOR tersebut merupakan mandat untuk segera membahas berbagai aspek terkait aplikasi Timor Leste untuk menjadi anggota ASEAN beserta implikasinya terhadap ASEAN.

Dalam kesempatan tersebut, Menlu turut menyampaikan indikasi Indonesia untuk menjadi tuan rumah Pertemuan pertama ACCWG. Hal tersebut telah disambut secara positif oleh negara anggota ASEAN lainnya.

Kerja Sama Maritim

"Indonesia senantiasa menekankan bahwa isu maritim perlu dipandang sebagai suatu potensi kerja sama daripada sebagai suatu isu yang penuh dengan konflik atau pertentangan. Ini tentunya diharapkan akan mengarah pada suatu proses unifying ASEAN rather than dividing ASEAN", demikian disampaikan Menlu RI dalam menanggapi isu kerja sama maritim di kawasan.

Perihal tersebut, ditambahkannya bahwa salah satu mekanisme yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan secara maksimal mekanisme ASEAN Maritime Forum (AMF) serta pemikiran awal untuk memperluasnya menjadi suatu “Expanded AMF”.

ASEAN Inter-governmental Commission on Human Rights (AICHR)

Upaya ASEAN untuk menjaga momentum yang kondusif juga berlaku dalam proses penyusunan ASEAN Human Rights Declaration (AHRD) yang dilakukan oleh AICHR.

Menlu RI menyampaikan bahwa dalam pertemuan tersebut, terdapat harapan yang besar oleh para Menlu ASEAN bahwa Deklarasi dimaksud dapat disahkan pada saat KTT ke-21 ASEAN, November 2012.

 

Keketuaan Kamboja untuk ASEAN 2012

Keketuaan Kamboja di tahun 2012 menandai peringatan 45 tahun ASEAN.

Menlu RI menegaskan bahwa diperlukan upaya kolektif dalam menghadapi tantangan yang dewasa ini dihadapi oleh ASEAN khususnya dalam penciptaan Komunitas ASEAN tahun 2015.

Ditambahkanya bahwa kebersamaan dan komitmen untuk terus maju akan menjadi tantangan tersendiri dalam menciptakan ASEAN yang people-centered, people-oriented serta membawa perdamaian dan kemakmuran bagi masyarakat ASEAN.

Untuk, walaupun tidak lagi menjadi Ketua ASEAN, Menlu RI  berharap Indonesia akan terus menjadi pendorong bagi perkembangan ASEAN dalam pencapaian Komunitas 2015.

"Indonesia, walaupun tidak lagi menjadi Ketua ASEAN atau menjalankan “chairmanship”, akan tetap berupaya untuk menjalankan peran “leadership” atau pendorong di ASEAN melalui berbagai prakarsa ataupun inisiatif untuk terus mencapai kemajuan", tutup Menlu RI.

Pada kesempatan Pertemuan tingkat Menlu ASEAN ini, telah dilaksanakan Signing Ceremonies untuk 2 dokumen, yaitu:

1. Instrument of Incorporation of the Rules for Reference of Non-Compliance to the ASEAN Summit to the Protocol to the ASEAN Charter on Dispute Settlement Mechanisms, oleh seluruh Menlu ASEAN.

2.
Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) on Hosting and Granting Privileges and Immunities to the ASEAN Secretariat, antara Menlu RI dan Sekretaris Jenderal ASEAN dengan disaksikan oleh seluruh Menlu ASEAN.

(Sumber: Ditjen KS ASEAN/ed. PY)

back
Berita dan AgendaSiaran PersPress BriefingKedutaan / KonsulatPelayanan PublikIsu Isu Aktual • Layanan Lain
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia • Lihat Situs Web