Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Transkripsi Presiden

Transkripsi Sambutan Presiden Republik Indonesia Pada Acara Pertemuan dengan Masyarakat Indonesia -Sydney-Australia 10 Maret 2010

Rabu, 10 Maret 2010

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para Anggota Delegasi Indonesia untuk kunjungan ke Australia dan PNG atau sebutlah rombongan dari Jakarta, Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia, Saudara Konsul Jendral di Sydney, para Sesepuh masyarakat Indonesia, para Diplomat, para Pimpinan Organisasi atau Asosiasi Kemasyakatan Indonesia, para Mahasiswa, para Pelajar, para Sahabat Indonesia, friends of Indonesia,

Hadirin sekalian yang saya cintai dan saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita semua masih diberikan kesempatan, kekuatan dan semoga kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara bahkan kepada umat manusia sedunia.

Saya berkunjung kali ini ke Australia beserta Delegasi Indonesia untuk meningkatkan persahabatan, kerjasama dan kemitraan bilateral Indonesia-Australia. Ini kunjungan saya yang ketiga dalam kapasitas saya sebagai Presiden Republik Indonesia. Kunjungan pertama, saya laksanakan pada tahun 2005, ketika baru saja negara kita mengalami musibah besar, bencana tsunami di Aceh dan Nias. Bahkan saya masih ingat ketika saya sampai di Sydney ini, saya ikut menghadiri datangnya 7 prajurit Australia yang gugur dalam mengemban tugas, karena kecelakaan helikopter di Pulau Nias, Sumatera.

Setelah itu saya berkunjung kembali pada tahun 2007 untuk menghadiri Pertemuan Puncak APEC yang juga dilaksanakan di Sydney ini. Waktu itu Gubernur Jenderalnya adalah Mayor Jenderal Jefri dan Perdana Menterinya adalah Perdana Menteri John Howard. Sedangkan kunjungan saya kali ini adalah kunjungan yang ketiga, diterima kemarin dalam suatu upacara kenegaraan oleh Gubernur Jenderal Ibu Quentin Bryce dan kemudian oleh Perdana Menteri Kevin Rudd.

Delegasi yang menyertai kunjungan saya besar, terdiri dari 12 Menteri, 2 Anggota DPR RI, 1 Anggota DPD RI, 6 Gubernur yang memimpin propinsi-propinsi bagian Timur Indonesia, yaitu Gubernur Papua, Gubernur Papua Barat, Gubernur Maluku, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Gubernur Nusa Tenggara Barat dan Gubernur Bali. Kemudian 1 Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, yang mewakili Kadin Indonesia, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia dan sejumlah Editor Senior serta pejabat-pejabat Kementrian Luar Negeri lain yang semuanya bertugas untuk menyukseskan kunjungan ini, yaitu makin eratnya, makin meningkatnya kerjasama persahabatan dan kemitraan kedua negara, kedua bangsa Indonesia-Australia.

Kemarin resmi saya melaksanakan pertemuan, utamanya dengan Gubernur Jenderal. Hari ini saya melaksanakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Kevin Rudd, dengan para Menteri dalam kabinet beliau, termasuk dengan pemimpin oposisi, leader of the opposition, yaitu Bapak Tony Abbot. Saya juga mendapat anugerah atau mendapat kesempatan untuk menyampaikan pidato di parlemen, joint session, antara the house dan the senate yang tadi dipimpin langsung oleh speaker of the house, yaitu Bapak Harry Jenkins dan kemudian dihadiri juga oleh Presiden Senat Australia, yaitu Bapak John Hogg. Acaranya sungguh bagus dan kami sepakat, para Pemimpin Australia dan Indonesia untuk meningkatkan lagi kerjasama yang lebih luas, yang lebih banyak di berbagai bidang.

Antara lain di bidang politik, hukum dan keamanan, kita sepakat untuk melanjutkan kerjasama di bidang law enforcement, di bidang penanganan trans-national crimes, termasuk people smuggling, di bidang combating terrorism, di bidang military to military cooperation. Penting kita menjalin kerjasama di bidang itu untuk membuat wilayah Indonesia dan Australia stabil, aman, dan damai, dan bebas dari, ulangi, tidak menjadi ruang untuk tumbuhnya kejahatan yang tentu mengganggu masyarakat Indonesia dan Australia.

Kerjasama di bidang pertahanan baik, agar terbangun mutual trust di antara Indonesia dan Australia. Di bidang perekonomian, kami sepakat untuk bukan hanya melanjutkan, tapi meningkatkan kerjasama yang lebih luas lagi, lebih kuat lagi di bidang investasi, di bidang perdagangan, di bidang pariwisata, termasuk kerjasama untuk ketahanan pangan dan ketahanan energi.

Di bidang kesejahteraan rakyat, kami sepakat untuk terus meningkatkan kerjasama di bidang pendidikan, di bidang kesehatan, di bidang pemuda dan olahraga dan juga di bidang penanganan perubahan iklim, termasuk pengelolaan hutan atau forest management. Pendek kata, semua bentuk kerjasama yang selama ini berjalan dengan baik, terutama tahun-tahun terakhir ini akan terus kita kembangkan dan kita tingkatkan.

Disamping itu, secara khusus dalam pertemuan bilateral saya tadi dengan Perdana Menteri Kevin Rudd, saya mengajak agar kerjasama antara negara-negara bagian di Australia dengan propinsi-propinsi bagian Timur Indonesia khususnya, meskipun tidak hanya terbatas pada 6 propinsi itu, sungguh ditingkatkan di waktu mendatang, baik kerjasama di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan dan bentuk-bentuk kerjasama yang lain.

Sore ini, tadi begitu saya mendarat dari Canberra, saya bertemu dengan Gubernur New South Wales dan juga Premier dari New South Wales yang intinya juga ingin ditingkatkan kerjasama, terutama antara Sydney dengan Jakarta sebagai sister city. Itu adalah agenda. Itu adalah tujuan dan sasaran kerjasama kita, mengapa kerjasama Indonesia-Australia itu penting.

Saudara-saudara
Saya punya prinsip dan falsafah, dan ini mengalir dari prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, yang dirumuskan oleh para pendiri republik, para founding fathers, maka yang cerdas dan bijak dalam dunia yang hidup dalam tatanan globalisasi ini adalah zero enemy million friends, satu musuhpun terlalu banyak, seribu kawan kurang.

Jauh lebih baik kita bersahabat dengan bangsa-bangsa lain di dunia, jauh lebih baik Indonesia bersahabat dengan negara-negara tetangga daripada kita saling bermusuhan. Sebab kalau kita bermusuhan, semua energi kita, waktu kita, pikiran kita, bisa ekonomi kita, uang kita habis untuk membiayai permusuhan itu yang bisa saja berakhir dengan peperangan. Itu akan menjadi bangsa yang merugi, ketika yang lain dengan cerdas menangkap sumber-sumber baru, peluang-peluang baru dalam globalisasi dewasa ini.

Oleh karena itu, bukan hanya dengan Australia, tapi pemerintah yang saya pimpin ini terus membangun hubungan baik, partnership and cooperations dengan negara-negara lain. Saya dengan penuh rasa syukur melaporkan kepada saudara semua, bahwa hubungan Indonesia dengan bangsa-bangsa lain di dunia sekarang ini dalam keadaan baik dengan negara-negara di Eropa, negara-negara di Timur Tengah, negara-negara di Afrika, negara-negara di Asia, negara-negara di Amerika, termasuk Amerika Latin, termasuk Australia dan Selandia Baru.

Saya kira kultur, kebijakan dan strategi yang kita tempuh memang harus demikian menjalin kerjasama dan persahabatan yang saling menghormati dan saling menguntungkan. Tentu saja meskipun kita baik dengan semua bangsa, semua negara, tentu kita harus melindungi kepentingan nasional kita, menjaga kedaulatan kita sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dengan demikian, Indonesia Insya Allah makin ke depan akan makin maju, makin bermartabat, makin sejahtera atas dasar pilar-pilar yang dimilikinya, konsensus dasarnya, jati dirinya dan kemudian mewariskan kepada anak cucu kita negara yang lebih baik, negara yang makin beradab dan makin terhormat pada forum dunia.

Itulah yang terus kita perjuangkan, tentu saja untuk mencapai tujuan yang mulia itu tidak semudah membalik telapak tangan, pengalaman bangsa-bangsa lain yang jauh lebih maju dibandingkan kita, yang sudah lebih dahulu maju dibandingkan Indonesia, misalnya bangsa Eropa, Jepang, Amerika sendiri, itu memerlukan ratusan tahun untuk benar-benar menjadi negara yang seperti sekarang ini, maju dan sejahtera.

Kita belum 100 tahun merdeka, tapi kita mesti bersyukur, meskipun belum 100 tahun sudah ada tanda-tanda bahwa kita di abad 21 ini akan segera menyusul menjadi bangsa yang maju, yang bermartabat, dan sejahtera. Arahnya sudah benar. Oleh karena itu, diperlukan persatuan seluruh rakyat Indonesia, baik yang ada di tanah air maupun yang ada di luar negeri, seperti Bapak, Ibu, Saudara-saudara dan Adik-adik sekalian. Kita harus bersatu-padu, memiliki komitmen bersama dan kemudian berikhtiar, berupaya dan bekerja keras untuk memajukan kehidupan kita.

Indonesia terus membangun diri. Sepuluh tahun yang lalu, kita mengalami krisis yang luar biasa, ekonomi kita rontok, keamanan kita runtuh, kohesi sosial tercabik, hukum morat-marit, terjadi instabilitas politik yang sangat dalam. Dan akhirnya, masa lalu kita waktu itu memang dalam keadaan yang menyedihkan. Banyak yang mencemaskan Indonesia akan runtuh, sebagian negara gagal, a failed state. Tetapi Tuhan Maha Besar, kita tidak menyerah, dengan segala upaya kita bersatu untuk keluar dari krisis, kemudian membangun kembali negeri kita, menyongsong hari esoknya yang lebih baik.

Dua tahun yang lalu, 2008 dan tahun lalu, 2009, dunia mengalami krisis lagi, resesi perekonomian global yang juga cukup dalam pada tingkat global. Alhamdulillah, karena kita pandai memetik pelajaran dari krisis 10, 11 tahun yang lalu, karena kita terus melakukan reformasi, karena kita terus memperkuat fundamental perekonomian kita, karena kita bereaksi secara tepat dan cepat, bersatu bersama-sama, pemerintah, dunia usaha, para ekonom, para gubernur, semua pendek kata bersatu-padu. Maka Alhamdulillah, dalam krisis global ini, Indonesia dinilai berhasil oleh dunia.

Contoh, negara-negara maju ekonomi raksasa, negara-negara yang dulu tumbuh tinggi rontok semuanya. Hampir semua tahun 2008, 2009 mengalami pertumbuhan negatif, minus. Kalau positif, kecil sekali. Indonesia 2008 masih tumbuh 6,1%. 2009 ketika yang lainnya megap-megap, Alhamdulillah, kita masih tumbuh 4,5% dan itu pertumbuhan nomor 3 di antara negara-negara G-20. Siapa yang berjasa? Seluruh rakyat Indonesia, termasuk Saudara-saudara semua dengan doa, dengan ikhtiar, dengan kontribusi, dengan upaya, selamatlah negeri kita dari krisis yang dalam. Saya hanya salah satu dari 235 rakyat Indonesia yang berdoa, berikhtiar dan berupaya untuk menyelamatkan perekonomian kita.

Ini pelajaran sejarah yang luar biasa, in crucial things unity, bukan saling salah-menyalahkan, bukan saling tuding, bukan selamatkan diri masing-masing atau SDM, tetapi kita bersatu-padu, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Ini adalah sekali lagi, pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga, maknanya, seraya memohon kepada Allah SWT, janganlah dunia kita terus diberikan ujian, cobaan yang begini besar, krisis demi krisis, termasuk negara kita. Namun manakala krisis itu datang, kita sudah punya modal dan pengalaman, tidak perlu panik, bersatu, mencari akal, berikhtiar dan kemudian bersama-sama kita menyukseskan upaya nasional untuk keluar dari krisis itu.

Saudara-saudara,
Ini perlu saya sampaikan, bahwa itulah perjalanan bangsa kita, mulai dari kemerdekaan hingga hari ini.

Saudara-saudara,
Saya katakan tadi, tidak ada jalan pintas mencapai tujuan yang besar, tidak seindah di bawah bulan purnama, tidak lunak jalan itu, namun kita tidak boleh berhenti untuk berikhtiar, untuk berupaya dan untuk membangun. Banyak yang harus kita lakukan, di bidang politik, demokrasi harus tetap hidup, kebebasan kita hormati, hak-hak asasi manusia kita lindungi, kebebasan pers harus kita jamin, itu amanah reformasi.

Tapi kebebasan itu agar bermartabat, agar membawa manfaat harus disertai tanggung jawab, on the one hand we have freedom, on the other hand we need rule of law. Sisi sebelah sini liberty, sisi sebelah sana security. Bangsa yang stabil, bangsa yang berhasil, bangsa yang bisa melaksanakan pembangunan, yang pandai menjaga keseimbangan itu freedom and rule of law, liberty and security, tapi satu hal demokrasi harus tumbuh mekar.

Di bidang hukum, hukum harus tegak, hukum harus membawa keadilan bagi semua, melaksanakan reformasi di bidang hukum, pengalaman di banyak negara adalah pekerjaan yang paling tidak mudah. Oleh karena itu, kita harus terus melakukan reformasi di bidang hukum, agar keadilan makin tegak, korupsi terus kita berantas, berbagai bentuk kejahatan yang hanya membikin gelapnya masa depan Indonesia harus kita hentikan, termasuk kejahatan jalanan, termasuk kejahatan narkoba, termasuk kejahatan terorisme, termasuk kejahatan kerah putih, pencurian ikan, illegal logging dan sebagainya. Kita ingin hukum tegak di negeri tercinta.


Di bidang perekonomian, kita ingin ekonomi kita tumbuh, tapi pertumbuhan itu harus dapat didistribusikan secara adil, merata, dan dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Pertumbuhan harus dirasakan oleh semua daerah di Indonesia. Pertumbuhan harus bisa melindungi, membantu yang lemah, yang kecil dengan program-program pro rakyat, membantu rakyat yang mengalami kesulitan mengikuti pendidikan, mendapatkan pelayanan kesehatan untuk melakukan usaha mikro dan kecil, untuk mencukupi kebutuhan pangannya, sandangnya, rasa amannya, papannya dan sebagainya. Kewajiban negara to protect the poor, itu baru adil. Itulah yang kita lakukan sekarang, menggalakkan, meningkatkan pembangunan di bidang pertanian, di bidang industri dan di bidang jasa.

Di bidang kesejahteraan rakyat, kita juga melakukan banyak hal untuk meningkatkan taraf hidup rakyat kita. Saya katakan tadi pendidikan, kesehatan dan berbagai aspek dari kesejahteraan rakyat kita. Itu terus kita lakukan di seluruh tanah air. Hubungan antar bangsa itu juga penting. Tidak ada negara yang bisa mengatasi permasalahannya sendiri. Dalam era globalisasi, hubungan antar bangsa adalah take and give, menerima dan memberi, mutual benefit, mutual trust, mutual respect, kalau ini kita jalankan pasti membawa kebaikan bagi bangsa kita.

Demikian juga di bidang pertahanan dan keamanan, kita harus melindungi setiap jengkal wilayah tanah air, kita harus menjaga kedaulatan negeri kita, agar merah putih tetap berkibar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Dan keamanan dalam negeri juga harus baik, ini bukan wacana. Ini semua program aksi yang kita jalankan di negeri Indonesia, tingkat pusat, tingkat daerah menjadi tugas dan tanggung jawab para gubernur, bupati, walikota, termasuk pemerintahan nasional yang saya pimpin.

Oleh karena itu, karena arah dari pembangunan bangsa ini sudah benar, karena sudah banyak yang kita capai, meskipun juga banyak yang belum kita capai, masih ada banyak pekerjaan rumah kita, maka cara melihat persoalan di negeri kita haruslah dengan kacamata yang positif, dengan sikap yang optimis, dengan jiwa yang terang, dan keinginan untuk menjalin persatuan dan melangkah bersama. Itu yang ingin saya sampaikan, apa yang sedang kita lakukan di Indonesia.

Saudara-saudara,
Khusus menyangkut kerjasama Indonesia-Australia, sesungguhnya kerjasama kita, persahabatan kita, kemitraan kita bermula dari awal kemerdekaan. Dulu ketika ada sengketa yang luar biasa, Indonesia berhadapan dengan Belanda. Pasca perang dunia ke II, setelah kita memproklamasikan kemerdekaan Australia tampil untuk membantu Indonesia mendapatkan kemerdekaannya. Itu tidak boleh dihapus dari sejarah, bangsa ini pernah berjasa kepada negeri kita di awal-awal kemerdekaan.

Meskipun dalam perjalanannya ada pasang surut menyangkut hubungan bilateral, up and down, ada masalah-masalah yang memberikan tantangan bagi hubungan bilateral kita bahkan ada yang disebut dengan stereotypes, pandangan yang keliru sampai sekarang barangkali masyarakat Australia juga masih ada yang memiliki persepsi yang keliru terhadap Indonesia, mereka tidak paham Indonesia is changing for the better.

Oleh karena itu, di depan parlemen tadi, saya sampaikan Australia harus menyadari, bahwa Indonesia kini berbeda dengan Indonesia yang dipersepsikan atau dikenal beberapa saat yang lalu. Oleh karena itu, saling mengerti, deep understanding between our two nations, itu menjadi kunci, menjadi modal makin kokohnya persahabatan dan persaudaraan di kedua negara.

Saudara-saudara,
Salah satu backbone, pilar atau kunci kerjasama Indonesia-Australia adalah people to people contact, pendidikan, budaya, dan kegiatan antar rakyat yang lain. Itu dahsyat. Bahasa Indonesia sebagai contoh, saya kira Australia adalah salah satu negara yang paling banyak ada kurikulum bahasa Indonesia, yang paling banyak ahli tentang Indonesia, Indonesianist yang menjalin hubungan dengan elemen-elemen di negeri kita ini modal, ini capital yang harus kita jaga, kita pelihara dan kita tingkatkan.

Kemudian Australia negara yang ekonominya tumbuh baik, GDP-nya hampir 1.000 miliar dolar Amerika Serikat, berarti hampir 10 ribu triliun rupiah. Indonesia sesungguhnya juga memiliki GDP yang makin tinggi, lebih dari 500 billion, berarti sekitar 5.000 triliun rupiah, ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Kalau kedua ekonomi ini kita satukan dengan investasi perdagangan dan bentuk-bentuk kerjasama ekonomi lainnya hampir pasti membawa kebaikan bagi, baik Australia dan Indonesia.

Penduduk Indonesia sekarang mendekati 240 juta, income per kapita terus berkembang, daya beli juga meningkat, pasar domestik makin besar, daerah-daerah terus berkembang dengan otonomi daerah, desentralisasi, termasuk desentralisasi fiskal. Kalau kita bisa kelola dengan baik sumber daya yang kita miliki sambil memberantas korupsi, sambil menjalankan tata pemerintahan yang baik, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, 15 tahun lagi, 20 tahun lagi, Indonesia menjadi negara yang berbeda. Dan ketika kita satukan misalkan dengan apa yang dimiliki Australia, tentu ada benefit yang riil bagi Indonesia dan juga bagi Australia.

Saya punya pandangan jangan sia-siakan peluang, jangan sia-siakan opportunity, jangan sia-siakan momentum. Pada saat tingkat hubungan di antara kedua negara baik seperti ini, maka let’s find new opportunities to foster our bilateral friendship, cooperations and partnership. Itu sangat-sangat penting. Saudara semua adalah duta bangsa, apakah sebagai diplomat, apakah sebagai profesional, apakah sebagai mahasiswa, apakah sebagai pelajar, apakah sebagai usahawan di sini, semua, sejatinya adalah duta-duta bangsa. Jaga nama baik dan kehormatan bangsa kita.

Saya senang saya bertemu dengan Premier News South Wales tadi, ketika mengatakan banyak masyarakat Indonesia setidak-tidaknya ada 6.000 mahasiswa pelajar yang studi di sini. Saya tanyakan mereka kan residen yang baik, dijawab oleh hampir serentak ya. Mereka adalah residen yang baik di Sydney. Saya bangga, saya mengucapkan terima kasih, karena yang kita miliki adalah kehormatan, nama baik, citra baik.

Kalau ada orang Indonesia yang karena perilakunya, karena kejahatan yang dilakukan, itu meruntuhkan nama baik kita, kita berduka sebetulnya. Tetapi kalau ada satu orang pun warga Indonesia dimanapun berada, termasuk di Australia melakukan satu kebajikan, kebaikan dan hal-hal yang patut dipuji, maka sesungguhnya nama baik bangsa Indonesia ikut terangkat. Oleh karena itu, saya berharap sambil menjalankan profesi, tugas masing-masing jagalah citra, nama baik, dan kehormatan bangsa yang sama-sama kita cintai.

Saudara-saudara,
Besok saya masih ada acara di sini, akan bertemu dengan para kalangan dunia usaha di Sydney. Kami juga mengajak kalangan dunia usaha dari Indonesia, kami mengajak para gubernur. Saya berharap besok dalam forum itu saling mencari peluang baru bagi kerjasama. Tugas saya sebagai Presiden memastikan, bahwa tersedia ruang yang cukup dan makin luas bagi kerjasama antara Indonesia dengan negara-negara sahabat, termasuk dengan Australia.

Memberikan kesempatan dan peluang pada daerah-daerah untuk bisa melaksanakan kerjasama langsung berdasarkan undang-undang nasional. Dengan demikian, daerah juga bisa meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang ada di daerah itu. Pendek kata, Indonesia Incorperated harus kita jalankan, kita harus bersatu. Kalau di luar negeri begini yang kita bawa Merah Putih, ada identitas yang lain, jangan menghalang-halangi untuk kita bersatu sebagai bangsa.

Saya mendapat laporan dari Konjen tadi, ada paguyuban-paguyuban yang sifatnya primordial, itu baik-baik saja, tapi jangan sampai mengganggu kesatuan dan persatuan kita sebagai bangsa Indonesia. Itu sangat-sangat penting. Justru ketika kita berada di luar negeri, bendera yang kita bawa adalah Merah Putih, paguyuban ke dalam, karena identitas tadi boleh untuk saling menjaga silaturrahim untuk saling bantu-membantu, tolong-menolong, tapi ketika harus muncul di Australia ini, yang muncul adalah Merah Putih dan itulah wawasan kebangsaan yang harus kita junjung dengan tinggi.

Kita menganut otonomi daerah sekarang, kita menjalankan desentralisasi pemerintahan sekarang, kita juga menjalankan desentralisasi fiskal sekarang, agar pembangunan makin adil, makin merata, makin inklusif. Kalau terlalu sentralistik, semua dikontrol oleh Jakarta, daerah-daerah kurang berkembang. Saatnya sekarang, daerah di seluruh Indonesia kita berikan ruang untuk mengembangkan daerahnya masing-masing, dengan catatan desentralisasi dan otonomi daerah tidak boleh memperlemah persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa Indonesia.

Itulah yang harus kita jaga, saudara-saudara, agar Indonesia tetap tegak dan berdiri, dan makin maju dari masa ke masa, sehingga generasi mendatang yang masih kuliah atau masih berstatus pelajar pada saatnya nanti akan menerima warisan negeri ini dalam kondisi yang lebih baik. Yang baik-baik yang ditinggalkan oleh pendahulunya, tolong dijaga dan dilanjutkan.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan generasi sebelumnya, di masa lalu, jadikanlah bagian dari sejarah besar kita. Itu adalah sikap yang cerdas dan arif, tidak sepatutnya kita memperolok-olok, menghujat, menyalahkan pemimpin-pemimpin terdahulu, karena saya tahu mereka pun juga ingin berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negaranya. Mungkin permasalahannya, tantangannya, ujiannya begitu khas, sehingga barangkali di waktu yang lalu ada yang belum bisa dicapai.

Yang belum bisa dicapai waktu yang lalu, kita capai sekarang. Yang belum bisa dicapai pada era kepemerintahan saya akan dilanjutkan oleh presiden-presiden berikutnya lagi nanti. Dan pada saatnya oleh generasi yang lebih muda, karena saya yakin generasi yang lebih muda akan lebih baik dari generasi yang sekarang ini.

Saya menaruh harapan yang tinggi kepada mahasiswa, para pelajar yang sedang belajar di Australia. Timba ilmu sebanyak-banyaknya, dapatkan pengalaman seluas-luasnya, abdikan semuanya untuk bangsa dan negara. Boleh kembali ke tanah air, bekerja di tanah air. Boleh tinggal di Australia, tapi hatinya, pikirannya, komitmennya adalah untuk berkontribusi pada pembangunan bangsanya. Bagi saya it doesn’t matter while you will return home or you will stay here as far as you love our country, you love Indonesia and you do contribute to the development of Indonesia. Bagi saya itu yang paling penting saudara-saudara.

Akhirnya, saya dengan tulus memohon ridho Allah SWT, mendoakan semuanya untuk bisa menjalankan kehidupannya dengan baik, yang kuliah dan belajar sukses, yang bisnis sukses, yang bertindak sebagai diplomat sukses, semua masyarakat di sini rukun, bersatu, dan akhirnya membawa kesuksesan bersama, kesuksesan bangsa dan negara.

Itulah saudara-saudara, yang dapat saya sampaikan. Dan esok hari saya pamit dulu untuk melanjutkan perjalanan ke PNG, kemudian kembali ke Jakarta. Pekerjaan rumah banyak sekali, banyak saudara-saudara kita kurang sabar, maunya sejahtera besok, tidak mau lusa padahal kemampuan negara, kemampuan pemerintah terbatas, saya tidak apa-apa.

Saya akan sabar dan tegar, karena memang saya ditunjuk, mendapatkan mandat oleh rakyat untuk memimpin sampai tahun 2014 insya Allah dan setelah itu kita serahkan nanti pada pemimpin-pemimpin baru untuk melanjutkan pembangunan bangsa menuju masa depan yang lebih baik lagi. Demikianlah Saudara-saudara. Terima kasih atas perhatiannya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan






AksesInvitesPPTM 2013Majalah QuAsPengumuman Rekrutmen CPNS Kemlu Tahun Anggaran 2013
Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. NatalegawappidDiplomasi Indonesia 2013ASEAN Selayang PandangLPSE
Pedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali AlatasPeluangAyo Kita Kenal ASEAN
QuAs edisi 4BSBI 2014PusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Buletin Komunitas ASEAN
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan