Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Transkripsi Presiden

Transkripsi Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Acara Peresmian Monumen Gong Perdamaian dalam rangka Puncak Peringatan Hari Perdamaian Dunia Tahun 2009 Ambon, 25 November 2009

Minggu, 25 Oktober 2009

Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,
Shalom,

Para Tamu Undangan dan hadirin yang saya muliakan,
Saudara-saudara se-bangsa dan se-tanah air yang saya cintai dan saya banggakan,
Pada hari yang bersejarah dan insya Allah penuh berkah ini, marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas perkenan dan ridho-Nya, kita semua dapat menghadiri Peringatan Hari Perdamaian Dunia Tahun 2009, International Day of Peace of 2009.

Kita juga patut bersyukur, karena sebentar lagi akan kita resmikan pendirian Monumen Gong Perdamaian yang kita pilih, kita bangun di Kota Ambon yang kita cintai bersama ini. Masyarakat Maluku pastilah bersyukur, karena konflik komunal yang merebak 10 tahun yang lalu telah berakhir, karena kuasa Tuhan, karena ijin Allah SWT dan karena tekad yang membaja dari Saudara semua. Masyarakat Maluku tentu juga bangga, karena Gong Perdamaian Dunia kini terpasang di tanah Maluku bersama-sama dengan 34 tempat di seluruh dunia.

Saya masih ingat Saudara-saudara, sekitar 6 sampai 7 tahun yang lalu, beberapa bulan setelah kita bertemu di Malino, karena masih ada ekor dari kekerasan waktu itu, saya memimpin sendiri upacara pemusnahan senjata di sekitar tempat ini, kita buldozer, kita hancurkan. Dalam sambutan saya waktu itu, selaku Menko Polkam adalah, masa depan Maluku bukanlah konflik senjata dan kekerasan, tetapi adalah perdamaian, persaudaraan dan pembangunan. Alhamdulillah, Tuhan Maha Besar, kita melihat gerak pembangunan yang makin menghasilkan sesuatu yang didambakan oleh masyarakat kita. Oleh karena itu, tepatlah kiranya kalau tema Hari Perdamaian Dunia yang dipilih adalah ”Damai Berkelanjutan” (Sustain and Sustainable Peace).

Hadirin yang saya muliakan,
Mengapa setiap tahun kita peringati Hari Perdamaian Dunia? Ada beberapa alasan. Pertama, hadirnya dunia yang aman dan damai adalah merupakan cita-cita semua bangsa, yang tentunya juga merupakan misi besar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Alasan yang kedua, dunia yang aman dan damai itu belum terwujud. Di seluruh dunia, di berbagai kawasan masih berkecamuk konflik bersenjata, kekerasan, terorisme dan perang.

Dan yang ketiga alasan kita adalah hadirnya dunia yang aman dan damai itu tidak datang dari langit, bukan sesuatu yang taken for granted, semua harus diperjuangkan, semua harus diikhtiarkan. Dan manakala perdamaian itu terwujud, harus tetap kita jaga dan pelihara. Maluku memiliki pelajaran yang amat berharga di dalam mengakhiri konflik itu dan kini di bawah kepemimpinan Saudara Gubernur, berusaha untuk memelihara suasana damai ini, merajut kembali persaudaraan dan membangun Maluku untuk menuju masa depan yang lebih baik.

Hadirin sekalian,
Bertepatan dengan Peringatan Hari Perdamaian Dunia 2009 ini, Indonesia mengajak bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Pertama, marilah kita terus berikhtiar, bekerja sama, dan berupaya untuk mengakhiri berbagai konflik kekerasan dan peperangan. Ciri-ciri bangsa yang beradab, dunia yang beradab, civilized world adalah mereka yang tidak menyukai kekerasan, mereka yang mencintai perdamaian dan menyelesaikan konflik dengan cara-cara yang damai dan bermartabat. Indonesia juga mengajak, marilah kita menyelesaikan berbagai perbedaan, pertentangan dan konflik secara damai. Mari kita jalankan diplomasi dan negosiasi untuk mencegah perang. Mari lebih kita gunakan soft power dan bukan hard power yang lebih menjurus kepada perang dan tindakan-tindakan kekerasan. Dan di atas segalanya, manakala secara internal kita juga menghadapi persoalan keamanan, mari kita carikan resolusinya secara damai, peaceful conflict resolution.

Indonesia juga mengajak kepada bangsa-bangsa lain di dunia untuk terus membangun tatanan dunia yang semakin adil, termasuk perekonomian dunia. Kita berjuang bersama negara-negara dalam forum G-20 misalnya, untuk menghadirkan arsitektur dan tatanan perekonomian dunia yang lebih adil. Kita juga berjuang bersama-sama bangsa lain untuk mewujudkan tujuan Millenium Devolopment Goals, untuk mengurangi kemiskinan sejagad. Kemiskinan, keterbelakangan, ketidakadilan kerap pula memunculkan konflik, kekerasan dan peperangan. Oleh karena itu, sepatutnya kita juga mengatasi akar penyebab dari konflik dan peperangan itu.

Indonesia juga mengajak marilah terus kita bangun dialog antar peradaban, dialogue among civilization, dialog antar agama, dialog antar media, dialog antar generasi muda. Dengan demikian, maka satu sama lain makin mengenal, semakin dekat dan akhirnya bersatu untuk memelihara perdamaian dan keamanan dunia.

Dan yang terakhir, Indonesia mengajak bangsa-bangsa lain untuk terus memerankan Perserikatan Bangsa-Bangsa, The United Nation dan juga perhimpunan atau asosiasi regional, organisasi kawasan yang semuanya itu bertujuan untuk menciptakan keamanan dan perdamaian dunia, termasuk di dalamnya keamanan dan perdamaian kawasan.

Saudara-saudara,
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Dalam konteks itu semua, Indonesia akan terus menjalankan kewajibannya, sumbangan atau kontribusinya sebagai berikut:
Pertama Indonesia akan terus berperan secara aktif untuk memelihara perdamaian dunia, termasuk kita akan terus mengambil bagian dalam peace keeping mission. Tugas-tugas pemeliharaan perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tiga tahun yang lalu kita mengirimkan kontingen Indonesia untuk mengemban tugas misi perdamaian PBB di Libanon. Prakarsa kita yang kita sampaikan kepada Sekjen PBB waktu itu dan sekarang pasukan kita masih terus mengemban tugas di perbatasan Israel dengan Libanon untuk menjaga perdamaian di wilayah itu. Dan banyak lagi daerah-daerah konflik yang Indonesia juga menyumbangkan putra-putri terbaiknya menjadi bagian dari peace keeping mission of United Nation.

Yang kedua, Indonesia akan terus aktif menyelenggarakan atau memfasilitasi berbagai dialog, baik sebagaimana yang saya sampaikan tadi, dialog antara agama, antar media, antar identitas, maupun antar peradaban. Sejak 3 tahun yang lalu, atas prakarsa Indonesia dan Norwegia, kita menyelenggarakan Global Inter-media Dialogue, dialog antar media secara global. Saya sampaikan prakarsa itu bersama sahabat saya Perdana Menteri Norwegia, karena banyak sekali permasalahan, karena apa yang diliput dan disuarakan oleh media. Kalau itu tidak ada jalinan komunikasi di antara mereka kadang-kadang persoalan menjadi lebih rumit.

Kita juga dalam rangka membangun jembatan atau dialog ini, sejak 2 tahun yang lalu membentuk yang disebut Eminent Persons Group apa yang saya bangun bersama Perdana Menteri Malaysia waktu itu, Bapak Abdullah Badawi, agar perselisihan kadang-kadang di antara bangsa Indonesia dan bangsa Malaysia bisa kita kelola dengan baik, sehingga tidak mengganggu persahabatan di antara kedua bangsa.

Kita juga membangun dialog antar pemimpin Islam, Islamic leaders, yang disponsori oleh Indonesia dan Kerajaan Inggris dengan tujuan agar juga ada dialog yang terus dilakukan untuk membangun pemahaman dan persepsi yang positif. Dalam kaitan konflik ataupun residu dari masa lalu antara Indonesia dengan Timor Leste, kita juga berprakarsa bersama-sama Timor Leste untuk membangun yang saya sebut dengan Commission of Truth and Friendship untuk ke melihat depan dan tidak melihat ke belakang dalam rangka menciptakan perdamaian di antara Indonesia dengan Timor Leste.

Yang keempat, Indonesia ingin terus membangun kebijakan dan strategi untuk menyelesaikan berbagai konflik internal, konflik di dalam negeri kita sendiri secara damai dan bermartabat. Tidak harus mengedepankan solusi militer. Militer adalah cara terakhir, apabila tidak tersedia cara yang lain. Saya punya keyakinan, masih banyak cara lain, yang bisa kita pilih untuk menyelesaikan kemelut di dalam negeri, sekali lagi secara damai dan bermartabat. Itulah kebijakan yang kita jalankan di Aceh dan Papua. Itulah yang kita dorong di berbagai masyarakat di tanah air, di Maluku, di Poso, di Sampit dan di berbagai tempat-tempata yang lain.

Ini sekaligus pada kesempatan yang baik ini, saya menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia, marilah kita jadikan budaya untuk menyelesaikan konflik secara damai seperti ini, dan yang lebih penting adalah mencegah konflik. Oleh karena itu, dialog di antara kita semua, wajiblah kita bangun sebelum kita membangun dialog dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Yang keempat Saudara-saudara, Indonesia akan tetap menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif. Politik luar negeri dan kerjasama dengan negara-negara lain ke segala arah, all directions foreign policy. Dan kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk bisa membangun persahabatan dengan semua bangsa, semua pihak di dunia dan kita tidak ingin memiliki musuh satu pun, thousand friends and zero enemy. Itulah prinsip-prinsip dasar, itulah haluan, itulah kebijakan politik luar negeri kita yang akan kita jalankan di masa kini dan masa depan.

Dan yang kelima atau yang terakhir, Indonesia akan terus aktif berperan dalam mengatasi berbagai tantangan global, isu-isu global, global challanges, seperti perubahan iklim dan pemanasan global. Sebab ini kalau tidak dapat kita atasi secara bersama, kerusakannya barangkali lebih besar dibandingkan peperangan atau konflik bersenjata yang lain, karena akan memusnahkan kehidupan dengan iklim yang berubah dan tidak terkendali. Oleh karena itu, Indonesia menjadi pelopor. Kita pernah mengukir sejarah dalam konferensi di Bali, dalam United Nation Conference on Climate Change. Kita akan berperan di Copenhagen pada bulan depan, dengan harapan sekali lagi, Indonesia ikut memberikan sumbangan terbaiknya bagi penyelamatan bumi kita.

Indonesia juga akan terus aktif untuk mencapai tujuan Millenium Development Goals, baik secara domestik maupun dengan kerjasama dengan negara-negara lain. Itu adalah tantangan-tantangan global yang harus kita jawab, dengan tujuan betul-betul membangun tatanan dunia yang aman dan damai, yang adil dan sejahtera, jauh dari kekerasan dan gangguan keamanan, serta perdamaian.

Hadirin yang saya muliakan,
Masyarakat Maluku yang saya cintai,
Sebagai penutup dari sambutan saya ini, saya ingin secara khusus menyampaikan terima kasih dan penghargaan saya. Pertama, kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa atas upaya gigih di dalam memelihara keamanan dan perdamaian dunia. Saya menyambut baik apa yang disampaikan oleh yang mewakili Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Saudara Peter Van Rooij tadi, yang menyampaikan pesan-pesan Sekjen PBB, sahabat saya Ban Ki-Moon. Dan Indonesia juga mendukung terhadap perlucutan senjata-senjata nuklir, termasuk upaya untuk tidak mengembangbiakan senjata nuklir itu, yaitu yang kita sebut dengan disarmament and non-proliferation of nuclear weapons. Indonesia sangat mendukung dan semoga itu bisa terwujud di waktu yang akan datang.

Saya juga ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan saya kepada Maluku, Pimpinan Daerah dan segenap masyarakat Maluku yang telah berhasil memelihara dan memperkuat suasana damai. Dulu, ketika kegelapan masih menyelimuti tanah Maluku, tragedi masih sangat mengemuka, saya pernah berbicara di bandar udara dalam perjalanan menuju ke Kota Ambon ini, alangkah indahnya suatu saat, manakala konflik telah berakhir, kita bisa menikmati keindahan tanah Maluku, lautnya, tanahnya, keindahan alamnya, bahkan kita bisa membangun lebih baik lagi kelautanya, perikananya, pertanianya, kepariwisataanya, bahkan energinya yang insya Allah semuanya itu bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Maluku. Sekali lagi, Tuhan mendengarkannya niat baik itu.

Apa yang saya lihat kemarin dalam perjalanan, dari bandara ke tempat ini suasananya sudah jauh berbeda, jalan-jalan makin lebar, gedung-gedung yang rusak telah dibangun kembali, bahkan dibangun gedung-gedung baru. Saya melihat saudara-saudara kita di pinggir jalan tersenyum, tertawa dengan wajah ceria, alangkah indahnya pemandangan seperti itu. Sekali lagi, terima kasih saya kepada Maluku.

Dan yang terakhir, terima kasih dan penghargaan saya kepada Komite Perdamaian Dunia The World Peace Committee, Pimpinan Saudara Djuyoto Suntani yang tadi telah bicara di depan kita. Saya ingat betul prakarsa Saudara untuk menciptakan ini semua. Saudara sudah mengatakan dulu, apakah bisa. Saya katakan harus bisa. Dalam hati insya Allah dengan ridho Tuhan, dan ternyata Saudara dengan teman-teman, utamanya generasi muda waktu itu bisa mewujudkan. Dan kemudian telah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Saya ikut bangga, semoga kontribusi Indonesia di-ridho-i Allah dan semoga pula pusat bumi yang akan dibangun nanti di Jawa tengah, di pusatnya Indonesia dari segi geografi itu juga diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, tekad anak bangsa untuk membangun perdamaian dunia yang abadi, sebagaimana tadi disampaikan oleh Suadara Agung Laksono, Menko Kesra maupun Saudara Djuyoto Suntani sendiri.

Saudara-sauadara,
Itulah yang dapat saya sampaikan. Dan akhirnya pada kesempatan yang membahagiakan ini, dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, seraya mengucapkan `Bismillahirahmanirahim`, Monumen Gong Perdamaian Dunia di Kota Ambon, hari ini, tanggal 25 November 2009, saya resmikan penggunaanya.

Sekian.
Wassalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh.



*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan





AksesInvitesPPTM 2013Majalah QuAsPengumuman Rekrutmen CPNS Kemlu Tahun Anggaran 2013
Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. NatalegawappidDiplomasi Indonesia 2013ASEAN Selayang PandangLPSE
Pedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali AlatasPeluangAyo Kita Kenal ASEAN
QuAs edisi 4BSBI 2014PusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Buletin Komunitas ASEAN
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan