Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Transkripsi Menteri Luar Negeri

Transkripsi Sambutan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia DR. R.M. Marty M. Natalegawa pada pembukaan Pertemuan Sela Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia ke-24 di Universitas Paramadina Jakarta, 23 April 2012

Senin, 23 April 2012

Transkripsi Sambutan

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia
DR. R.M. Marty M. Natalegawa

pada pembukaan Pertemuan Sela
Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia ke-24

di Universitas Paramadina
Jakarta, 23 April 2012

Yang kami hormati dan kami banggakan, Bapak Professor Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina,
Yang kami juga sangat banggakan dan cintai, para Mahasiswa peserta Pertemuan Sela Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia  ke-24,
Para segenap civitas akademika Universitas Paramadina,
Ibu-ibu dan Bapak-Bapak yang kami cintai,

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semua.
 

Marilah kita awali pertemuan kita pada pagi hari ini dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya kita semua masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk memberikan sumbangsih kepada bangsa dan negara yang tercinta ini.

Secara khusus kami juga pada kesempatan yang baik ini ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (FKMHII) dan juga tentunya kepada para mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina yang telah bekerja keras sehingga memungkinkan acara kita pada pagi hari ini.

Bapak Rektor yang kami hormati, kami rekan-rekan di Kementerian Luar Negeri telah diminta untuk menyampaikan pandangan yang berkaitan dengan ASEAN khususnya dengan tema “Dealing with Non-Traditional Security Issues in ASEAN: Challenges and Prospects”, jadi bagaimana ASEAN menangani atau mengatasi isu-isu keamanan non tradisional, tantangan dan peluangnya.

Tentu teman-teman semua sebagai mahasiswa Hubungan Internasional dengan sangat mudah kami yakin bisa memperoleh informasi yang menyangkut peranan ASEAN selama ini dalam mengatasi ancaman keamanan non tradisional, karena kesemuanya itu tersedia di berbagai sumber yang terbuka.

Jadi apapun permasalahannya, misalnya upaya pemberantasan terorisme, penanganan bencana alam, kerjasama maritim, masalah penyelundupan manusia termasuk trafickking in person, masalah keamanan energi, masalah keamanan pangan, hampir kesemuanya itu sebagai bentuk atau wujud dari yang dinamakan non- traditional security issues, hampir semuanya ditangani dan dikelola oleh ASEAN, jadi bisa diikuti dan bisa diketahui berbagai lembaga-lembaga ASEAN yang menangani masalah tersebut, termasuk yang dinamakan ASEAN Ministerial Meeting on Trans-national Crime.

Jadi memang dari segi kelembagaan ASEAN, non-traditional security issues sudah sangat dipahami sebagai masalah utama yang harus dikelola oleh ASEAN.

Bukan saja oleh ASEAN, tapi melainkan seperti juga tadi disampaikan oleh Bapak Rektor, karena peran kunci ASEAN di kawasan Asia-Pasifik, bahkan melalui ASEAN, kita juga telah mendorong kepedulian kawasan secara lebih luas atas masalah-masalah non-tradisional tersebut melalui forum ASEAN pluses, kerjasama ASEAN dengan negara-negara mitranya, ASEAN-China, ASEAN-Jepang, ASEAN-Australia, ASEAN-Amerika, dan lain-lain, juga ASEAN plus three, juga melalui yang dinamakan ASEAN Regional Forum, dan East Asia Summit.

Pendek kata, yang ingin kita sama-sama pahami dan garisbawahi, sepanjang yang menyangkut masalah non-traditional security issues, sudah ada kepekaan yang cukup mendalam di antara negara-negara ASEAN untuk mengelola masalah ini ke depan, bukan saja antara sesama negara ASEAN, melainkan juga ASEAN dengan negara mitranya, ASEAN dalam kerangka ASEAN Regional Forum, dan tidak kalah penting ASEAN dalam kerangka yang dinamakan East Asia Summit.

Yang kami ingin ungkit pada kesempatan yang baik ini secara singkat garisbawahi kalau kita berbicara tentang tantangan dan peluangnya. Terutama sebagai rekan-rekan semua para mahasiswa hubungan internasional, adalah untuk bisa lebih memahami paradigma atau perspektif yang menjadi basis dari penanganan masalah-masalah non-tradisional oleh ASEAN. Jadi bukan saja description-nya, bukan hanya secara kronologis dan secara deskriptif memahami apa yang dilakukan oleh ASEAN, tapi juga mencoba untuk lebih mengapresiasi apa yang menjadi latar belakang atau landasan atau worldview, cara pandang, yang melandasi kesemuanya ini.

Kami ingin hanya menyampaikan tiga hal saja sebelum nanti kita mungkin insya Allah bisa berdialog.

Yang pertama, perspektif atau paradigma atau bahkan kenyataan yang melandasi penanganan ASEAN terhadap masalah-masalah non-tradisional adalah adanya suatu kenyataan bahwasanya antara masalah dalam negeri dan masalah luar negeri ada keterkaitan yang sangat, sangat erat. Dan bahkan, di abad ke-21 ini kadang kala mustahil dan sulit membedakan antara apa yang dinamakan masalah dalam negeri dan apa yang dinamakan masalah luar negeri.

Kami mengetahui pandangan seperti ini seolah-olah bahkan bisa mengubah keberadaan tugas-tugas fungsi diplomat dari fungsi luar negeri dan bahkan international relations sebagai suatu akademik, tapi kenyataannya memang antara masalah dalam negeri dan masalah luar negeri sangat terkait. Dan kenyataan ini syukur alhamdulillah sudah dipahami oleh ASEAN dan bahkan sudah menjadi pilihan ASEAN untuk dikelola secara baik.

Saya ingin memberikan contoh satu saja untuk menggambarkan adanya keterkaitan antara masalah dalam negeri dan masalah luar negeri. Di sini yang ingin kami sampaikan adalah contoh yang dinamakan democratic deficit, masalah kekurangan-kekurangan atau keterbatasan masalah demokrasi dan good governance dari suatu negara bisa dengan sangat cepat berkembang menjadi masalah keamanan / security.

Kalau teman-teman ikuti perkembangan Timur Tengah, perkembangan di Afrika Utara dalam beberapa tahun terakhir ini, bisa memahami, melihat, betapa masalah dalam negeri, yaitu menyangkut masalah sistem pemerintahan, sistem politik dari negara-negara tersebut, karena tidak dikelola dengan baik maka dengan sangat cepat, menjadi masalah antar bangsa, menjadi masalah security. Kita melihat contoh misalnya di Libya dan bahkan saat ini di Suriah, meskipun masalahnya intinya adalah masalah dalam negeri, namun menemukan bentuk-bentuk permasalahan ini di tingkat global.

Bedakan dengan ASEAN, ASEAN kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, ketika Indonesia menjadi Ketua ASEAN sebelum tahun 2011 kemarin, yaitu pada tahun 2003, kita secara sadar dan sengaja menampilkan yang dinamakan ASEAN Political and Security Community. Sebelum prakarsa Indonesia itu, kalau kita berbicara tentang masyarakat ASEAN, yang dimaksud adalah masyarakat ekonomi ASEAN. Indonesialah, berdasarkan pengalaman Indonesia sendiri pada tahun 1998 dan seterusnya, yang secara sengaja dan sadar membawa agenda demokratisasi dan political development menjadi bagian dari kerjasama ASEAN melalui yang dinamakan ASEAN Political and Security Community.

Oleh karena itu, selama sepuluh tahun terakhir ini, meskipun hal ini merupakan suatu proses yang mengambil waktu, tidak segera langsung tercapai, ASEAN secara step-by-step telah menciptakan kemampuan di bidang political development.

Teman-teman melihat misalnya perkembangan di Myanmar dalam satu-dua tahun terakhir ini yang sangat luar biasa, perubahan dinamika dari yang sangat negatif, menjadi cukup positif, dimana ASEAN menawarkan satu cara penjajagan yang akhirnya membuahkan hasil yang positif.

Pendek kata, intinya yang pertama adalah adanya keterkaitan antara masalah politik dalam negeri dan masalah luar negeri, dan berdasarkan pemahaman tersebut, ASEAN telah mengembangkan kapasitas dan kemampuan di bidang political development, sehingga tidak ada kevakuman kemampuan ASEAN di bidang political development.

Seandainya tidak ada penanganan regional, maka suatu permasalahan yang timbul di tingkat nasional dengan sangat cepat menjadi masalah global, karena tidak adanya layer dari tingkat nasional ke global. Dengan adanya kemampuan di tingkat ASEAN, maka suatu masalah yang timbul di antara sesama keluarga besar ASEAN bisa ditangani di keluarga besar ASEAN terlebih dahulu sebelum masalah ini semakin memburuk dan menjadi perhatian dunia.

Jadi tema pertama adalah keterkaitan antara masalah dalam negeri dan luar negeri, bahkan di Kemlu kami menggunakan istilah intermestik, untuk menggambarkan antara internasional dan domestik sebenarnya sudah menjadi satu kesatuan.

Contohnya banyak sekali sebagaimana telah disebutkan tadi mengenai masalah demokratisasi sebagai satu isu yang menarik, dan masih banyak lagi permasalahan yang serupa, seperti masalah perlindungan Warga Negara Indonesia di luar negeri, masalah terrorism, masalah trans-national crime lainnya yang merupakan wujud nyata keterkaitan masalah dalam negeri dan masalah luar negeri.

Yang kedua yang kami ingin sampaikan adalah antara berbagai permasalahan internasional ada keterkaitan yang sangat, sangat erat.

Di  masa lalu kita terbiasa membedakan suatu permasalahan sebagai masalah politik, masalah ekonomi, masalah sosial-budaya, masalah penerangan, dan lain-lain, sehingga seolah-olah penanganan suatu masalah bisa dilakukan dalam suatu kevakuman secara berdiri sendiri. Kenyataannya, apapun permasalahannya, antara satu masalah politik, ekonomi, sosial-budaya, semua saling terkait dan sangat tidak mungkin bisa dipisahkan.

Teman-teman yang menekuni masalah hubungan internasional perlu mengetahui bahwa praktis setiap masalah global memiliki dimensi keamanan. Jadi ketika kita berbicara masalah pangan, sekarang kita bisa berbicara tentang masalah keamanan pangan atau food security dan begitu juga untuk masalah lain seperti climate security, environment security, financial security.

Penanganan masalah keamanan memiliki dimensi yang sangat luas, sehingga banyak masalah-masalah yang masa lalu dianggap sebagai terpisah dan berdiri sendiri dalam kenyataannya sekarang saling terkait.

Bagi kita yang menangani masalah-masalah ini, harus cerdas dan cakap melihat adanya connectivity. Connectivity antara masalah luar negeri dan dalam negeri, connectivity antara masalah politik, ekonomi, dan sosial-budaya.

Kalau kita tidak pandai-pandai mempersatukan atau melihat adanya kesatuan antara isu-isu ini, maka penanganan yang kita akan upayakan sifatnya akan partial, tidak akan menyeluruh, dan kita sendiri dalam diplomasi dan politik luar negerinya tidak akan mampu untuk bisa menjadi bagian dari solusi.

Yang terakhir dari kami, Bapak Rektor dan teman-teman semua, yang ketiga adalah, meskipun sekarang sudah sangat fashionable, sangat sering kita membahas masalah-masalah non-traditional security seperti masalah food security, environment security, finance security, counter-terrorism, disaster management, dan lain-lain, dengan ciri-cirinya seperti keterkaitan masalah global, internasional, dan domestik, keterkaitan antara berbagai masalah hukum, meskipun betul masalah-masalah ini semakin mencuat, dalam kenyataannya, masalah-masalah yang dinamakan traditional security pun masih alive and well, masih sangat menjadi perhatian kita semua.

Kalau teman-teman membaca pemberitaan di surat kabar dan lain-lain, melihat perkembangan di Semenanjung Korea, melihat perkembangan di Laut China Selatan, dan kawasan-kawasan lainnya, kita diingatkan bahwa masalah hubungan antar bangsa, keamanan, masih sangat dominan dan menyita perhatian kita semua.

Mungkin masalah traditional security masih di hadapan kita, namun yang kami ingin anjurkan ke teman-teman semua adalah how do we respond to this traditional security issues, penanganannya atau response-nya mungkin kita bisa sifatnya non-traditional.

Kita harus melepaskan diri kita dari cara-cara pendekatan yang sudah tidak tepat lagi, sudah tidak mencermikan berbagai tantangan dan permasalahan di abad ke-21 ini, dengan pendekatan-pendekatan yang lebih thinking outside the box.

Dalam kaitan ini, saya hanya ingin memberikan contoh saja, satu atau bahkan dua, contoh bagaimana masalah traditional security ditangani dengan cara yang non-traditional bisa mengubah suatu permasalahan dari yang negatif menjadi yang insya Allah positif.

Yang pertama, teman-teman ketahui tentang adanya anggapan seolah-olah di kawasan kita saat ini di Asia Pasifik kita berada di ambang suatu kompetisi, perebutan pengaruh di kawasan, seolah-olah kembalinya masalah perang dingin, dan lain-lain.

Kini Indonesia menawarkan perspektif yang berbeda, tidak lagi berbicara mencoba membendung pengaruh suatu negara, melainkan kita berbicara tentang terciptakannya suatu kondisi yang kita namakan dynamic equilibrium, di mana tidak ada negara yang dominan di kawasan kita, namun posisi ini dicapai bukan melalui alliances atau persekutuan, melainkan melalui cara pandang yang lebih menekankan common security, common prosperity, common stability sebagai ciri-ciri yang perlu dikedepankan, karena kadang kala cara berpikir atau cara pandang itu bisa sifatnya self-fulfilling.

Dan contoh terakhir dari kami adalah perkembangan di Laut China Selatan. Kita melihat selama delapan tahun-sepuluh tahun terakhir ini banyak perhatian di Laut China Selatan, dan umumnya perhatian itu yang sangat negatif dan sangat penuh tantangan dan kekhawatiran. Berkat upaya diplomasi Indonesia kita telah mengubah tatanan tersebut dengan berhasil mengesahkan yang dinamakan guidelines mengenai Laut China Selatan ,dan insya Allah dalam waktu dekat masalah code of conduct-nya itu sendiri.

Demikianlah beberapa hal yang kami ingin sampaikan pada kesempatan yang baik ini kepada teman-teman semua. Tadi kami sampaikan non-traditional security sudah menjadi bagian dari kerjasama ASEAN, silahkan diperoleh informasi-informasi yang sifatnya terbuka sehingga dapat dipahami dan dipelajari bersama, namun pada kesempatan yang baik ini saya hanya ingin berbagi pandangan tentang perspektif atau paradigma yang menggarisbawahi perkembangan tersebut.

Yang pertama, adanya keterkaitan masalah dalam negeri dan masalah luar negeri.

Yang kedua, adanya keterkaitan yang sangat erat antara satu masalah dengan masalah yang lain ekonomi, politik, sosial-budaya, dan lain-lain.

Dan yang ketiga, jangan lupa masalah-masalah tradisional pun masih di hadapan kita, namun cara penanganannya seyogyanya kita membebaskan diri dari cara pandang lama dan berani mencoba waging peace, berani mencoba untuk mendobrak cara pandang lama agar kita dapat menciptakan momentum baru ke arah perbaikan.

Terima kasih sekali lagi kepada Bapak Rektor dan teman-teman semua atas kesempatan yang diberikan kepada kami,

Sekian dari kami.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh.







AksesPPTM 2013Majalah QuAsDiplomasi Indonesia 2010Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. Natalegawa
ASEAN Selayang PandangLPSEPedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali Alatas
Ayo Kita Kenal ASEANPusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Proses dan Tata CaraMarket Info dan Info Pasar
MDGs ReviewPerpustakaan Hukum Kementerian Luar NegeriSekretariat Kabinet Museum Konferensi Asia AfrikaTDRMC
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan