Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Pidato Menteri Luar Negeri

Pidato Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Pada Acara Pengukuhan Duta Belia Indonesia 2007, Gedung Pancasila, 19 Agustus 2007

Senin, 20 Agustus 2007

Bapak-bapak, Ibu-ibu, undangan, dan hadirin yang saya hormati,
Anak-anakku, Duta Belia Indonesia 2007, yang saya banggakan,
Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh,
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.

Pertama-tama saya ucapkan selamat datang di Gedung Pancasila. Di gedung yang bersejarah ini, 62 tahun yang lalu, fondasi Republik Indonesia—Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945—dirumuskan dan ditetapkan oleh para pendiri negara kita. Karena itu, Gedung ini menjadi saksi ketika akumulasi pengalaman sejarah bangsa dirumuskan dalam nilai-nilai dasar yang melandasi dan tujuan-tujuan yang harus dicapai oleh negara Indonesia yang merdeka. Di Gedung ini pula pada tanggal 18 Agustus, satu hari setelah kemerdekaan bangsa diproklamasikan, UUD 1945 disahkan, dipilih Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama, dan Parlemen sementara (Komite Nasional Indonesia Pusat) dibentuk.

Indonesia adalah cita-cita. Kemerdekaan adalah jembatan emas yang telah dibentangkan agar kita bekerja keras meraih cita-cita negara Republik Indonesia, yaitu: ”…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,…”

Kita bersyukur bahwa selama 62 tahun sudah banyak kemajuan yang dicapai bangsa dalam mengejar cita-cita negara Republik Indonesia. Namun kita juga menyadari bahwa masih terus diperlukan kerja keras bersama untuk masa depan yang lebih baik lagi.

Kita semua punya tanggung jawab yang sama dalam upaya meraih cita-cita itu. Kita semua punya kesempatan yang sama untuk memberikan yang terbaik bagi tercapainya cita-cita itu.

Anak-anakku, Duta Belia Indonesia 2007,

Kalian adalah generasi yang mempunyai modal yang lebih baik, apabila dibandingkan dengan generasi-generasi terdahulu. Kalian dilahirkan dari para ibu yang sudah lebih baik pendidikannya dan sudah lebih mengerti akan pentingnya gizi dan kesehatan. Kalian sudah menikmati manfaat dari program Keluarga Berencana, yaitu keluarga kecil yang lebih sejahtera. Kalian memiliki kesempatan yang lebih luas untuk menempuh pendidikan. Kalian hidup di tengah-tengah pertumbuhan ekonomi dan sudah jauh lebih akrab dengan berbagai kemajuan teknologi.

Tetapi, ingatlah, tantangan jaman yang kalian hadapi jauh berbeda dari tantangan yang dihadapi generasi-generasi terdahulu. Di jaman ini, hanya negara yang unggul sumber daya manusianya lah yang mampu meraih manfaat sekaligus menghindari kerugian dari globalisasi. Akumulasi dari keunggulan setiap warganya menjadi modal utama negara dalam memenangkan kompetisi global.

Karena itu, menjadi manusia yang unggul bukanlah pilihan, tetapi suatu kewajiban bagi kalian. Ingatlah bahwa kalian adalah bagian dari cita-cita Indonesia yang ingin kita wujudkan bersama.

Bagaimana caranya? Pesan saya tentunya sama dengan pesan orang tua dan para guru kalian, yaitu: belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan keras, dan berdoa dengan ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itu semua bisa kalian lakukan dengan teguh apabila kalian mempunyai cita-cita, yang menjadi arah dan penuntun dalam kehidupan kalian. Bung Karno pernah berpesan: “Gantungkanlah cita-cita mu setinggi bintang-bintang di langit!”

Bapak-bapak, Ibu-ibu, hadirin yang saya hormati,

Pada tanggal 19 Agustus 1945, dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, struktur pemerintahan Republik Indonesia yang terdiri dari 13 kementerian—termasuk Kementerian Luar Negeri—dan 8 provinsi ditetapkan dengan keputusan sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Karena itu, pada hari ini kita memperingati ulang tahun ke 62 Departemen Luar Negeri.

Dalam perjalanan sejarah dari masa ke masa, Departemen Luar Negeri melalui upaya diplomasi telah memberikan kontribusi yang terbaik dalam upaya meraih cita-cita bangsa Indonesia. Pada periode lima tahun pertama, 1945-1950, atau dapat disebut sebagai formative years dalam pembentukan karakter diplomasi Indonesia, politik luar negeri bebas aktif menjadi penentu kemenangan prinsip “bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa dan, oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.”

Konsep kemerdekaan sebagai hak adalah landasan utama dari tatanan nasional yang dibentuk oleh Undang-Undang Dasar 1945. Padahal, tatanan internasional pasca Perang Dunia II, yang pada waktu itu dirumuskan dalam Piagam PBB, tidak mengakui kemerdekaan sebagai hak. Dengan kata lain, terbentang jarak yang sangat jauh antara tatanan nasional dan tatanan internasional—bahkan perbenturan di antara kedua tatanan itu.

Melalui perjuangan diplomasi, akhirnya bangsa Indonesia bukan saja dapat meraih pengakuan atas kemerdekaannya tetapi bahkan turut merubah tatanan internasional sehingga konsep kemerdekaan sebagai hak menjadi prinsip internasional.

Melalui perjuangan diplomasi, bangsa Indonesia juga telah berhasil memperjuangkan konsep Wawasan Nusantara. Ketika pada tahun 1982 disahkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut, konsep negara kepulauan telah menjadi bagian dari hukum internasional. Dengan demikian, kedaulatan Indonesia menjadi lengkap atas wilayah lautan yang didalamnya terdapat pulau-pulau nusantara—dan tidak lagi seperti pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan.

Melalui perjuangan diplomasi, bangsa Indonesia juga bertekad untuk memberikan kontribusi terbaik bagi perdamaian dunia. Sejak 50 tahun yang lalu, Indonesia terus aktif dalam operasi-operasi pemeliharaan perdamaian. Kontingen-kontingen Garuda yang melibatkan pasukan dan perwira TNI, perwira POLRI serta para diplomat Indonesia telah mendapat banyak apresiasi masyarakat internasional sejak misi UNEF I tahun 1957 di Mesir hingga misi UNIFIL II di Lebanon Selatan mulai tahun 2006. Selain itu, Indonesia juga telah diakui kontribusinya dalam penyelesaian konflik di Kamboja dan Filipina Selatan.

Lebih dari itu, terutama sejak pembentukan ASEAN pada tahun 1967, Indonesia terus memperjuangkan tercapai dan terpeliharanya perdamaian di kawasan Asia Tenggara.

Perlu kita ingat bahwa, pada masa lalu, Asia Tenggara merupakan kawasan yang sarat dengan konflik dan terbelakang ekonominya. Sejak itu, dengan penuh kesabaran dan ketekunan, para pemimpin ASEAN, selama 40 tahun—sejak 8 Agustus 1967—membangun budaya konsultasi antar-pemerintah, menciptakan tata krama dan standar perilaku dalam hubungan antar-negara di kawasan, serta melakukan upaya-upaya pencegahan dan penyelesaian konflik. Karena itu selama 40 tahun terakhir Asia Tenggara telah menikmati suasana relatif aman dan damai. Itu tidak datang dari langit!

Stabilitas dan perdamaian di kawasan telah memungkinkan ASEAN menikmati pertumbuhan ekonomi tinggi untuk jangka waktu yang cukup lama, kecuali terpotong sebentar karena krisis ekonomi 1997. Karena adanya stabilitas dan perdamaian itu pula, masa krisis kini telah kita lewati.

Karena itu pula, sejak KTT Bali tahun 2003, Indonesia mendorong transformasi ASEAN agar negara-negara di kawasan Asia Tenggara lebih mampu menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.

Kini negara-negara ASEAN bekerja keras untuk bersama-sama mewujudkan Komunitas ASEAN pada tahun 2015. Untuk itu, keterlibatan aktif seluruh masyarakat merupakan salah satu faktor utama. Dalam hal ini, generasi muda merupakan segmen masyarakat yang penting.

Karena itu, tema Duta Belia 2007 “One ASEAN, One Future, One Responsibility” memiliki relevansi bagi masa depan bangsa-bangsa Asia Tenggara. Ini merupakan salah satu upaya untuk mendorong keterlibatan aktif generasi muda. Di satu sisi, ada keperluan untuk meningkatkan exposure generasi muda terhadap kiprah ASEAN; tetapi, di sisi lain, juga ada keperluan untuk membuat ASEAN yang lebih relevan dengan kehidupan generasi muda.

Program kunjungan Duta Belia 2007 ke 4 negara ASEAN, yaitu Kamboja, Laos, Vietnam dan Thailand, diharapkan dapat menjadi salah satu medium yang tepat untuk maksud dan tujuan itu.

Departemen Luar Negeri telah melaksanakan program Duta Belia sejak tahun 2003. Duta Belia 2007 terdiri dari para siswa Indonesia yang tergabung dalam Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, siswa-siswa pemenang medali emas Olimpiade Fisika Internasional dan Olimpiade Biologi Internasional, para santri berprestasi serta finalis Duta Muda ASEAN-Indonesia 2007.

Akhir kata, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya kukuhkan 76 (tujuh puluh enam) putera-puteri terbaik bangsa sebagai Duta Belia Indonesia tahun 2007.
 
Wassalaamualaikum wa Rahmatullaahi wa Barakaatuh

Jakarta, 19 Agustus 2007






AksesInvitesPPTM 2013Majalah QuAsPengumuman Rekrutmen CPNS Kemlu Tahun Anggaran 2013
Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. NatalegawappidDiplomasi Indonesia 2013ASEAN Selayang PandangLPSE
Pedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali AlatasPeluangAyo Kita Kenal ASEAN
QuAs edisi 4BSBI 2014PusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Buletin Komunitas ASEAN
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan