Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Siaran Pers

Semiloka Potensi Ekonomi dan Peluang Pasar Indonesia di Afrika

Kamis, 10 Mei 2012

No. 044/PR/V/2012/53

Direktorat Afrika, Ditjen Asia Pasifik dan Afrika bekerja sama dengan FISIP Universitas Brawijaya, Malang menyelenggarakan Semiloka bertema “Potensi Ekonomi dan Peluang Pasar Indonesia di Afrika” yang diselenggarakan pada tanggal 8 Mei 2012 di Universitas Brawijaya, Malang.

Semiloka menghadirkan Duta Besar Wahid Supriyadi, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya Kementerian Luar Negeri dan Prof. Dr. Zainuddin Djaffar, Guru Besar FISIP Universitas Indonesia, sebagai pembicara; serta P.M. Erza Killian dari FISIP UB dan Devanto Sastha Pratomo dari FE UB sebagai penanggap.

Dalam sambutannya, Dekan FISIP Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. H. Darsono Wisadirana, MS menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting bagi dunia akademik dan merupakan bukti kepercayaan Kementerian Luar Negeri kepada FISIP UB.

Tema semiloka kali ini merupakan tema yang cukup strategis mengingat dalam era pasar global, persaingan antar negara akan cukup ketat. Afrika merupakan pasar strategis yang belum digarap dan memiliki potensi besar. Tema ini juga cukup relevan dengan visi FISIP UB sebagai universitas yang bercita-cita mencetak wirausahawan-wirausahawan baru.

Semiloka dibuka secara resmi oleh Sekretaris Ditjen Asia Pasifik dan Afrika, Ratu Silvy Gayatri. Dalam  sambutan pembukaannya, Sesditjen menyampaikan perkembangan terkini di kawasan Afrika yang merupakan antitesa dari stigma negatif yang melekat pada Afrika.

Saat ini, benua Afrika merupakan benua dengan negara-negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6%. Negara-negara Afrika juga semakin stabil dan memiliki pemimpin yang dipilih secara demokratis, memiliki wawasan yang lebih luas dan memilih untuk memperkuat ekonomi daripada memikirkan pertentangan antar etnis yang akan merugikan negara sendiri.

Di samping itu, negara-negara Afrika juga menyadari bahwa terdapat string attached dalam setiap bantuan dari negara-negara bekas kolonialnya selain ketergantungan akan produk-produk dari negara bekas penjajah yang mahal.

Oleh karena itu, para pemimpin Afrika mencari produk-produk dari Asia yang murah dan berkualitas. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka selayaknya Indonesia mencari peluang-peluang di Afrika yang terbuka luas. Berbagai faktor yang mendasari hal tersebut adalah:

1.
Indonesia secara politis sangat dekat dengan negara-negara Afrika karena Indonesia merupakan salah satu negara yang mendukung perjuangan kemerdekaan negara-negara Afrika, termasuk pembukaan hubungan diplomatik dengan negara-negara tersebut.

2.
Banyak produk Indonesia yag sangat dibutuhkan oleh negara-negara Afrika dari consumer goods hingga bahan bangunan untuk infrastruktur dengan mutu dan harga bersaing.

3.
Terdapat peluang untuk melakukan pembelian langsung dari negara-negara tersebut untuk berbagai komoditas yang diperlukan Indonesia.

4.
Peluang untuk melakukan investasi dengan berbagai negara di Afrika dalam berbagai bidang, dari infrastruktur hingga penyulingan kelapa sawit.

5.
Peluang untuk mengirimkan tenaga-tenaga kerja terampil dan ahli dari Indonesia ke Afrika.

Setditjen mengharapkan bahwa tema semiloka ini akan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai pasar di kawasan Afrika, yang selama ini belum dilirik oleh para pengusaha Indonesia.

Selain itu, diharapkan bahwa Afrika sebagai benua masa depan  yang diminati oleh para pengusaha Indonesia dan menjadi pasar utama untuk aneka produk Indonesia ditengah melemahnya pasar-pasar tradisional Indonesia di Eropa dan Amerika Serikat.

Duta Besar Wahid Supriyadi menyampaikan paparan mengenai “Diplomasi Ekonomi Indonesia di Sub-Sahara Afrika”. Dalam paparannya, Duta Besar Wahid Supriyadi menyampaikan bahwa kekuatan sebuah negara tidak tergantung dari luas wilayah maupun jumlah penduduk, namun dari kekuatan ekonominya.

Sejatinya Indonesia merupakan negeri pertama yang menyelesaikan berbagai permasalahan politik dan diplomasi di Asia dan Afrika, namun saat menghadapi permasalahan ekonomi, maka kita selalu tertinggal dari negara-negara tetangga.

Menlu telah menyampaikan bahwa Indonesia perlu mempertajam diplomasi ekonomi yang ditujukan untuk pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Diplomasi ekonomi menjadi prioritas utama dalam menghadapi ketidakpastian situasi ekonomi global dan merupakan bagian dari politik luar negeri saat ini.

Tantangan yang perlu dijawab adalah bahwa ada peluang-peluang besar di pasar non-tradisional, namun harus diikuti oleh implementasi dan pelaksanaan di tingkat operasional dengan memanfaatkan posisi politis dan ekonomi yang dimiliki oleh Indonesia.

Wilayah sub-Sahara Afrika merupakan wilayah yang potensial karena angka pertumbuhan ekonomi di tahun 2011 sebesar 5,3% dan 5,5% (2012). Peluang produk Indonesia cukup besar karena adanya pembangunan infrastruktur.

Dengan meningkatnya kerja sama bilateral dan NAASP, Indonesia dapat melakukan penetrasi pasar Afrika secara sistematis dan berkesinambungan. Oleh karena itu, Indonesia perlu memperluas lingkaran konsentris polugrinya hingga Afrika yang sebelumnya sempat terabaikan.

Pembicara kedua adalah Prof. Dr. Zainuddin Djaffar dari FISIP UI yang menyampaikan paparan mengenai “Telaah Masa Depan Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Negara-negara Sub-Sahara Afrika”. Pada pokoknya pembicara menyampaikan bahwa pada tahun 2011 data menunjukkan bahwa Afrika merupakan wilayah yang sangat menjanjikan, hingga lima tahun ke depan  meskipun masih diperlukan diversifikasi ekonomi.

Untuk menciptakan kondisi ekonomi modern di Afrika diperlukan 3 hal yaitu: mobile providers (penyedia layanan yang mobile dan dapat bergerak kemanapun), distributive channels, dan a light touch regulatory framework (aturan yang tidak rumit dan membebani). Regulatory framework menjadi hal yang diperhatikan dan diterapkan di negara-negara Afrika sekarang.

Dalam rangka peningkatan kerja sama ekonomi, negara-negara Afrika menyadari faktor-faktor sebagai berikut: (i). pentingnya kelas wirausahawan yang bersemangat untuk menciptakan industri dan jasa; (ii). negara-negara Afrika yang berkembang dari miskin menjadi kelas menengah; (iii) para pemimpin politik yang pro-bisnis; (iv). perbankan yang berperan untuk mempertahankan pertumbuhan; dan (v). pemerintahan yang menciptakan kondisi yang dapat mendorong semangat kewirausahaan.

Indonesia perlu menerapkan konsep determinasi yaitu mendorong produk-produk dan strategi tertentu untuk memasuki pasar Afrika. Untuk masuk pasar Afrika, Indonesia perlu:

1. Institusi yang perlu memfokuskan diri di Afrika seperti Kemenlu, Kemendag, Kemenparenkraf, Kemhub, Kemenakertrans, Kemenperin.

2.
Perlunya konsep yang out of the box, yang berbeda dengan negara-negara pesaing seperti melalui sektor pendidikan untuk mengembangkan perekonomian Indonesia dengan para mitranya di Afrika.

3.
Determinasi: menghitung kekuatan dan kelemahan kita dalam hal perdagangan.

4.
Kolaborasi: pengembangan business association antara Indonesia dengan negara-negara Afrika. Jangan terlena dengan persamaan religi, misalnya, namun perlu terus menerus melakukan kontak dan komunikasi untuk mendekati mitra dagang.

5.
Empati dan simpati: selain memfokuskan diri pada aspek-aspek perdagangan, Indonesia perlu juga memperhatikan masalah-masalah sosial yang dihadapi oleh negara-negara Afrika.

Dalam sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan yang mengemuka antara lain adalah kaitan antara gejolak politik di kawasan Afrika dengan upaya-upaya Indonesia untuk melakukan penetrasi pasar di Afrika, strategi untuk memasuki pasar Afrika di tengah gencarnya promosi dan upaya  yang dilakukan oleh para kompetitor Indonesia di Afrika serta langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk membangun kepercayaan para pemangku kepentingah dalam memperbesar peluang bisnis di Afrika.

Menanggapi beragam pertanyaan tersebut, para pembicara pada pokoknya menyampaikan bahwa situasi politik tidak memiliki korelasi lurus dengan perdagangan, karena dalam situasi konflik pun, manusia tetap memerlukan berbagai kebutuhan. Yang mutlak diperlukan adalah perubahan mindset dan sikap para pemangku kepentingan dan kalangan dunia usaha Indonesia agar siap memasuki dan berkompetisi di pasar Afrika. (Sumber: Direktorat Afrika—2012).







AksesPPTM 2013Majalah QuAsDiplomasi Indonesia 2010Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. Natalegawa
ASEAN Selayang PandangLPSEPedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali Alatas
Ayo Kita Kenal ASEANPusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Proses dan Tata CaraMarket Info dan Info Pasar
MDGs ReviewPerpustakaan Hukum Kementerian Luar NegeriSekretariat Kabinet Museum Konferensi Asia AfrikaTDRMC
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan