Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Siaran Pers

Hasil-Hasil KTT G20 Seoul, 11-12 November 2010

Selasa, 16 Nopember 2010

No.202/PR/XI/2010/53

"Indonesia Dorong Agenda Pembangunan Menjadi Bagian Integral Kerjasama G20"

 

 

Jakarta, 15 November 2010 - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Seoul, Korea Selatan telah berlangsung tanggal 11-12 November 2010 dan dihadiri oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono serta seluruh Leaders G20 lainnya'. Selain itu, hadir pula negara undangan yaitu Viet Nam (ASEAN), Malawi (African Union), Ethiopia (NEPAD), Spanyol dan Singapura (3G). Kehadiran ASEAN sebagai permanent observer di G20 merupakan hasil dari lobby Indonesia yang disampaikan secara khusus oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada para Leaders G20 pada KTT Pittsburgh tahun 2009 lalu. Sedangkan organisasi internasional yang berpartisipasi adalah PBB, IMF, World Bank, ILO, WTO, OECD, dan Financial Safety Board (FSB). Demikian disampaikan Wakil Menteri Perdagangan RI Mahendra Siregar yang juga Sherpa G20 Indonesia pada konferensi pers hari ini di kantor Kementerian Perdagangan.

Para Leaders G20 telah membahas upaya untuk mempertahankan momentum pemulihan ekonomi dunia termasuk berbagai tantangan yang dihadapi perekonomian dunia saat ini seperti proses konsolidasi fiskal, memperbaiki keseimbangan permintaan dunia (rebalancing global demand), nilai tukar, agenda reformasi struktural, kelanjutan reformasi sektor keuangan dan arsitektur keuangan internasional, Putaran Doha WTO, reformasi IMF, serta isu pembangunan.

G20 menyadari bahwa terlepas dari keberhasilannya dalam mencegah resesi ekonomi global, masih terdapat beberapa resiko yang dapat mengancam pemulihan global. Resiko tersebut antara lain melebarnya ketidakseimbangan permintaan global yang dapat mendorong langkah-langkah unilateral yang mengarah pada proteksionisme yang justru dapat memperburuk ekonomi global. Selama dua hari pertemuan, para Leaders G20 mampu menunjukkan sekali lagi kebersamaan untuk mencapai tujuan bersama menciptakan pertumbuhan yang kuat, seimbang dan berkelanjutan.

Wamendag mengatakan, "KTT G20 berhasil menyepakati Seoul Summit Declaration dan Seoul Action Plan yang menegaskan determinasi G20 untuk semakin memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi makro. Disadari bahwa koordinasi yang lebih erat diperlukan untuk menghadapi perlambatan pertumbuhan global saat ini yang disertai antara lain dengan tingginya pengangguran (terutama di negara maju), tekanan inflasi dan tingginya volatilitas capital inflow (terutama di negara berkembang) dan ketidakseimbangan pertumbuhan. "

KTT G20 mampu meredam perbedaan pandangan terkait ketidakseimbangan permintaan global dengan menyepakati perlunya indicative guidelines untuk mengindentifikasi hal tersebut serta langkah-langkah preventif dan korektif yang perlu dilakukan. Terkait nilai tukar, juga disepakati perlunya menghindari kebijakan meningkatkan daya saing artifisial melalui competitive devaluation yang proteksionis.

KTT G20 menyepakati elemen-elemen utama kerangka regulasi sektor keuangan, termasuk standar permodalan perbankan dan likuiditas perbankan, serta upaya meningkatkan regulasi dan pengawasan bagi systematically important financial institutions, kerangka perdagangan derivative over-the-counter (OTC), pengawasan terhadap hedge funds, serta mengurangi ketergantun'gan system keuangan terhadap credit rating agencies.

           Anggota G20 terdiri dari Argentina, Australia, Brazil, Kanada, RRT, Perancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Inggris, Amerika Serikat serta Uni Eropa.

 

KTT G20 juga mencatat kemajuan besar dalam proses reformasi IMF. G20 berhasil menyepakati IMF quota reform berupa pengalihan quota shares kepada emerging market and developing countries sertaunder-represented countries sebesar 6% sehingga semakin mengarah kepada keseimbangan 50-50 antara negara maju dan berkembang. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan legitimasi, kredibilitas dan efektivitas lembaga moneter dunia tersebut dalam memperhitungkan posisi negara-negara sedang berkembang saat ini yang telah menjadi kekuatan ekonomi dunia yang semakin penting.

Guna meningkatkan ketahanan ekonomi dunia terhadap kemungkinan krisis di masa datang, G20 berhasil memperkuat mekanisme global financial safety nets (GFSN) melalui pengembangan instrumen IMF yaitu Flexible Credit Line (FCL), Precautionary Credit Line (PCL) serta mengeksplorasi Multi-Country FCL, serta meningkatkan kolaborasi dengan pengaturan keuangan regional dimana salah satunya adalah Chiang Mai Initiative Multilateralization yang merupakan skema kerjasama di kawasan ASEAN.

 

Para Leaders juga mendorong penyelesaian perundingan Putaran Doha WTO dengan memanfaatkan semaksimal mungkin window of opportunity yang terbuka pada tahun 2011 dengan melakukan negosiasi across-the board untuk menyelesaikan end game.

Menurut Wamendag, "KTT G20 yang mengambil tema `shared growth beyond crisis' untuk pertama kalinya membahas isu pembangunan secara ekstensif. KTT berhasil menyepakati Seoul Development Consensus dan Multi-Year Action Plan sebagai upaya mendorong pemerataan pembangunan bagi negara berkembang serta low income countries (LICs) dengan menciptakan pusat pertumbuhan baru yang pada akhirnya akan berkontribusi pada keseimbangan global (global rebalancing). Rencana aksi tersebut akan melengkapi upaya pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) tahun 2015."

Dalam intervensinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendorong agar dimensi pembangunan menjadi bagian integral dari G20 Framework for Strong, Sustainable and Balanced Growth. Usulan ini mendapat dukungan luas dan telah dimasukkan ke dalam deklarasi. Dalam konteks pembangunan, Presiden juga mendorong pentingnya financial inclusion dengan memperluas akses finansial bagi penduduk berpendapatan rendah serta UKM. Hal ini selain bertujuan mengentaskan kemiskinan sekaligus dapat mendorong potensi pembangunan yang ada.

Sebagai Co-Chairs G20 Anti-Corruption Working Group, Presiden RI juga menjelaskan kesepakatan yang telah dicapai dalam bentuk Anti-Corruption Action Plan yang berisi antara lain memberlakukan ketentuan hukum terhadap tindak penyuapan internasional, mencegah pejabat yang korup mendapat akses terhadap sistem keuangan global, memperkuat rezim anti pencucian uang, serta mendukung penguasaan kembali hasil-hasil korupsi yang dilarikan keluar negeri.

Secara umum, dalam KTT G20 kali ini Indonesia berhasil memasukkan tiga agenda nasional yang penting kedalam kesepakatan G20 yaitu terkait dengan agenda pembangunan, financial inclusion dan anti korupsi.

Pasca KTT Seoul, keketuaan G20 beralih kepada Perancis. Berbeda dengan 2 tahun terakhir ini yang diadakan dua kali per tahun, maka KTT tahun mendatang direncanakan hanya akan diadakan satu kali KTT pada bulan November 2011.

000

 

 

Lampiran:

 

Butir-butir Kesepakatan Leaders pada KTT G20 di Seoul:

1.       G20 berhasil menegaskan kembali tekadnya untuk mencegah unilateralisme dan mendorong koordinasi bersama untuk menciptakan fundamental bagi ekonomi global yang kuat, seimbang, dan berkesinambungan.

2.       G20 meluncurkan Seoul Action Plan yang meliputi komitmen untuk memperkuat Mutual Assessment Process dari Framework for Strong, Sustainable, and Balanced Growth melalui:

 

a. Melakukan kebijakan makro ekonomi yang terkoordinir, termasuk konsolidasi fiskal, meningkatkan fleksibilitas sistem nilai tukar, menghindari competitive devaluation, mencegah volatilitas nilai tukar yang berlebihan, dan koordinasi untuk memitigasi volatilitas arus modal yang berlebihan.

 

b.  Melakukan reformasi struktural untuk mendorong permintaan global, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan potensi pertumbuhan ekonomi.

c. Mendorong kesinambungan eksternal untuk mengurangi ketidakseimbangan neraca perdagangan global, termasuk dengan menyusun panduan indikatif yang berfungsi sebagai mekanisme untuk mengidentifikasi ketidakseimbangan yang membutuhkan langkah pencegahan dan perbaikan.

3.       G20 mendorong dilanjutkannya proses reformasi IMF khususnya untuk meningkatkan suara dan keterwakilan negara berkembang melalui paket reformasi kuota dan governance yang komprehensif.

4.       G20 sepakat untuk memperkuat jarring pengaman keuangan global dalam rangka mengantisipasi potensi krisis di masa depan.

5.    G20 menyepakati standar likuiditas dan permodalan perbankan, mekanisme pengawasan dan regulasi systemically important financial institutions, kerangka perdagangan derivative over-the-counter (OTC), pengawasan terhadap hedge funds, serta mengurangi ketergantungan sistemkeuangan terhadap credit rating agencies.

6.    G20 meluncurkan Seoul Development Consensus for Shared Growth sebagai kerangka kemitraan G20 dengan negara berkembang untuk meningkatkan potensi pertumbuhan dan membantu terciptanya global rebalancing. Sebagai kerangka operasional, G20 juga meluncurkan Multi YearAction Plan on Development.

7.       G20 meluncurkan Financial Inclusion Action Plan, the Global Partnership for Financial Inclusion, dan SME Finance Framework sebagai upaya untuk meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap jasa keuangan dan meningkatkan potensi UKM.

8.       G20 meluncurkan Anti-Corruption Action Plan.

9.       Negara-negara G20 menugaskan para negosiatornya untuk berupaya lebih keras dan intensif dalam mencapai kesepakatan terkait Doha Development Round.

10.   G20 mendorong tercapainya kesepakatan yang signifikan terkait perubahan iklim dalam  pertemuan UNFCC di Meksiko bulan Desember 2010.

 






AksesInvitesPPTM 2013Majalah QuAsPengumuman Rekrutmen CPNS Kemlu Tahun Anggaran 2013
Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. NatalegawappidDiplomasi Indonesia 2013ASEAN Selayang PandangLPSE
Pedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali AlatasPeluangAyo Kita Kenal ASEAN
QuAs edisi 4BSBI 2014PusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Buletin Komunitas ASEAN
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan