Sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kerjasama di bidang pelindungan dan pembinaan bahasa-bahasa lokal di kawasan Asia dan Eropa, para pakar bahasa dan budaya dari negara-negara anggota Asia Europe Meeting (ASEM) telah berpartisipasi pada the 1st ASEM Language Diversity Forum di Hotel Borobudur, Jakarta, tanggal 4 – 5 September 2012.
ASEM LDF dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dan diselenggarakan atas kerjasama Badan Nasional Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Direktorat Kerjasama Intrakawasan Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri.
Para pakar dari Inggris, Perancis, Malaysia, Filipina, Bulgaria, Thailand, Australia, Vietnam, China, Indonesia dan UNESCO menjadi narasumber utama dalam diskusi yang terfokus pada 4 (empat) topik utama: Language diversity policies and issues in Asia and Europe; Exchange of best practices in safeguarding and promoting language and cultural diversity; Strategies in protecting and promoting language diversity in relation to sustainable economic development; dan the role of media and ICT in safeguarding and promoting language diversity.
ASEM LDF dihadiri oleh sekitar 20 perwakilan negara Mitra ASEM, UNESCO, serta kepala balai bahasa dan kalangan akademik dari sejumlah provinsi di Indonesia.
ASEM LDF menyepakati bahwa pelindungan bahasa dan budaya yang hampir punah membutuhkan partisipasi aktif komunitas penutur (community-based projects), dukungan kebijakan pemerintah, khususnya di bidang pendidikan dasar, serta kemampuan menguasai perangkat ICT yang tepat dalam mendokumentasikan dan mempromosikan ragam bahasa dan budaya lokal.
Keragaman budaya dan bahasa lokal disamping sebagai sumber informasi warisan budaya juga sebagai identitas nasional dalam rangka membangun potensi soft power yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertahanan dan ketahanan sosio-politik suatu negara.
Disamping itu, berdasarkan berbagai penelitian, kemampuan anak-anak dalam menggunakan bahasa lokal telah terbukti meningkatkan tingkat kesejahteraan, kesehatan, dan kecerdasan lokal rata-rata masyarakat setempat. Hal-hal tersebut pada akhirnya berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang berkesinambungan (sustainable development) dan pencapaian tujuan-tujuan pembangunan sosio-ekonomi lainnya.
Pertemuan di Jakarta ini adalah kali pertama dilakukan dalam forum ASEM dan diharapkan dapat diselenggarakan secara rutin sebagai platform kerjasama dan pertukaran pengalaman di kalangan akademisi dan pembuat kebijakan di bidang pelindungan bahasa-bahasa yang terancam punah di kawasan Asia dan Eropa.
Sebagai salah satu negara dengan keragaman bahasa lokal yang cukup kaya, Pemerintah Indonesia senantiasa menaruh perhatian terhadap pelindungan bahasa-bahasa lokal yang hampir punah (endangered languages).
Ancaman kepunahan bahasa cenderung terjadi pada bahasa-bahasa yang digunakan oleh para penutur yang tinggal di kawasan Indonesia timur, yang biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya pengaruh perkembangan globalisasi, urbanisasi, perkawinan antar etnis, kebijakan penggunaan bahasa lokal dalam sistem pendidikan setempat, dan tekanan bahasa dominan di suatu kawasan.