Dubes RI di Manila Yohannes Kristiarto Soeryo Legowo, menerima secara resmi kontingen Pasukan Pengamat Perdamaian RI atau International Monitoring Team (IMT) hari Minggu lalu, (1/06) di KBRI Manila. Berjumlah 15 personil, IMT yang terdiri dari 10 personil unsur militer dan 5 personil sipil disambut hangat Presidential Adviser on Peace Process, Secretary Teresita Deles, dan beberapa perwakilan Pemerintah Filipina.
Hari ini (2/06), kontingen IMT Indonesia didampingi oleh Dubes RI di Manila, akan langsung menuju IMT Headquarter di Cotabato City, Mindanao. Di markas besar IMT, Duta Besar RI Manila akan menyerahkan secara resmi kontingen IMT Indonesia kepada Head of Mission IMT di Cotabato City.
"Kontingen IMT Indonesia akan menjalani program pembekalan selama sekitar 3-7 hari di Cotabato City dan akan disebar ke beberapa team site di Mindanao", demikian dilaporkan dalam rilis KBRI Manila kepada Portal Kemlu.
Dengan bergabungnya Kontingen Indonesia dalam IMT, maka Indonesia telah berpartisipasi aktif di dua tracks perundingan damai di Filipina. Pertama, antara pemerintah Filipina dengan MILF, melalui pengiriman Kontingen IMT Indonesia.
Kedua, antara Pemerintah Filipina dengan Moro National Liberation Front (MNLF), melalui peranan Ketua Komite Perdamaian di Filipina Selatan di bawah kerangka OKI, yang sejak tahun 2007 bertugas me-review implementasi Perjanjian Damai GPH – MNLF tahun 1996.
Dalam proses perundingan damai antara Pemerintah Filipina (GPH) dan Moro Islamic Liberation Front (MILF), sejak tahun 2004, kedua pihak telah sepakat untuk membentuk IMT guna memonitor jalannya perundingan damai, serta untuk menjaga agar tidak terjadi konflik bersenjata di Mindanao.
Selanjutnya pada tanggal 9 Desember 2009, GPH dan MILF secara resmi meminta Indonesia untuk bergabung dengan IMT. Persetujuan Indonesia untuk bergabung dengan IMT secara resmi disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat kunjungan kenegaraan Presiden Filipina, Benigno S. Aquino III, 8 Maret 2011 di Jakarta. (Sumber: KBRI Manila/Ed.PY)