Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Berita Utama

Terima Parlemen Inggris, Menlu Kemukakan Sejumlah Perkembangan di Kawasan

Rabu, 27 Juni 2012

Menlu Marty M. Natalegawa kemukakan beberapa perkembangan di Asia Tenggara kepada para delegasi Parlemen Inggris yang berkunjung sore ini (27/06) di Gedung Pancasila, Jakarta.

Sejumlah perkembangan seperti kemajuan di Myanmar, Laut China Selatan, isu HAM dan Papua sampai dengan gagasan sebuah kerjasama maritim bagi negara-negara di Lautan Hindia disampaikan Menlu RI dalam pertemuan tersebut.

“Dalam beberapa tahun ke belakang, kita dapat melihat banyak sekali perkembangan yang terjadi di Asia Tenggara, Myanmar contohnya. Perkembangan yang terjadi telah mengubah persepsi dan pandangan banyak pihak, utamanya saat mayoritas berpendapat bahwa Myanmar akan menjadi beban bagi ASEAN”, tutur Menlu Marty.

Menjawab ancaman di kawasan terutama Laut China Selatan dengan semakin meningkatnya peran RRT, dan kepemilikan senjata Nuklir oleh India, Menlu Marty menegaskan bahwa pandangan Indonesia bukan lagi menyempit pada pola perang dingin.

“Bagaimana Indonesia dapat bergerak luwes dalam mendorong dynamic equilibrium adalah yang kita lakukan saat ini. Balance of power, dimana harus ada kekuatan dalam menantang kekuatan yang lain, sudah tidak lagi relevan.”

Dikaitkan dengan persoalan di Laut China Selatan, dimana Filipina dan RRT sempat bersitegang, Menlu Marty menjelaskan bahwa saat ini penggunaan hard power bukan lagi merupakan solusi. Dijelaskan kembali upaya nyata ASEAN dalam merealisasikan kerjasama di Laut China Selatan, dengan disepakatinya Guidelines on DOC, pada 2011 lalu.

Saat ini, ASEAN dan RRT sedang menjajagi pembentukan Regional Code of Conduct (COC). Instrumen ini, menurut Marty, dapat menjadi sarana dalam mengurangi miskalkulasi dan mispersepsi yang menjadi tantangan utama di Laut China Selatan.

Kagum akan perkembangan yang terjadi di Indonesia, beberapa delegasi juga sempat memuji kombinasi yang unik antara Islam, modernitas dan demokrasi di Indonesia.

“Kompabilitas ini dapat menjadi template bagi negara-negara Islam lainnya, khususnya demokrasi yang mulai bergulir di dunia arab saat ini”, ujar Lord Ahmad of Wimbledon, salah satu delegasi dari Partai Konservatif.

Terkait hubungan bilateral Inggris dan Indonesia, Menlu sempat menyampaikan kembali beberapa kesepakatan yang telah dicapai saat kunjungan PM Inggris David Cameron beberapa waktu lalu (11/04) di Jakarta. “Investasi dan perdagangan adalah hal yang senantiasi kita giatkan dan akan terus menjadi prioritas”, tutup Menlu.

Sebelumnya delegasi Parlemen Inggris juga berkesempatan melakukan pertemuan dengan DPR RI, Ketua BKSAP DPR RI,  dan beberapa kementerian terkait di Indonesia.

Kunjungan Parlemen Inggris ke Indonesia pada tahun 2012 ini cukup penting mengingat kunjungan dalam kerangka kerjasama bilateral antara Parlemen Inggris dengan Parlemen Indonesia yang terakhir dilaksanakan lebih dari 20 tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1989.

Delegasi Parlemen Inggris dipimpin oleh Rt. Hon. Anne McGuire MP (Partai Buruh), dan beranggotakan Rt. Hon. John Spellar MP (Partai Buruh); Alun Cairns MP (Partai Konservatif); Andrew Stephenson MP (Partai Konservatif); Lord Ahmad of Wimbledon (Partai Konservatif); Lord Williams of Baglan (Crossbench); dan Ms. Charlie Holloway, Assistant Secretary British Group Inter-Parliamentary Union (BGIPU). (Sumber: KBRI London/Dit. Erbar/Dit. Infomed/PLE/PY)







AksesInvitesPPTM 2013Majalah QuAsPengumuman Rekrutmen CPNS Kemlu Tahun Anggaran 2013
Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. NatalegawappidDiplomasi Indonesia 2013ASEAN Selayang PandangLPSE
Pedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali AlatasPeluangAyo Kita Kenal ASEAN
QuAs edisi 4BSBI 2014PusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Buletin Komunitas ASEAN
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan