Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Isu-Isu Khusus

Krisis Keuangan Global

Rabu, 22 Juni 2011

stack of money

Krisis ekonomi dan keuangan global pada tahun 2007 merupakan dampak dari tidak berimbangnya sistem arsitektur ekonomi dan keuangan internasional dalam hal regulasi sektor keuangan yang kurang accountable. Krisis kredit perumahan (subprime mortgage crisis) di AS yang diakibatkan lemahnya regulasi keuangan dan tingginya keterkaitan sektor keuangan antar negara, khususnya produk derivatif keuangan, memiliki dampak yang sangat kuat sehingga krisis negara maju meluas ke sejumlah negara berkembang. Efek domino krisis ekonomi tersebut turut menyeret sektor riil dan mengakibatkan terpuruknya perekonomian negara-negara di dunia.

Krisis ekonomi serupa pernah dialami kawasan Asia tahun 1997. Namun, krisis kali ini memiliki dampak dengan skala yang lebih besar sehingga memerlukan penanganan yang lebih menyeluruh dan kerjasama yang lebih intens antara negara-negara di dunia. Lebih lanjut lagi, krisis ekonomi dan keuangan global telah menghambat proses pembangunan terutama negara Least Developed Countries serta menyebabkan kemunduran pencapaian target MDGs.

Namun, seiring dengan diberlakukannya berbagai kebijakan untuk menyelamatkan perekonomian oleh pemerintah masing-masing negara, perekonomian global telah mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan di awal 2010, walaupun proses pemulihan diprediksi masih berjalan lambat mengingat sistem finansial yang masih lemah. Proses pemulihan per kawasan juga tidak merata. Selain itu, perekonomian negara-negara maju menunjukkan kecenderungan ketidakparalelan antara perbaikan di sektor finansial kurang dengan perbaikan di sektor riil, hal tersebut ditandai dengan meningkatnya angka pengangguran.

Tahun 2011 diperkirakan perekonomian dunia akan terus menunjukkan trend positif. Revisi outlook ekonomi global yang dirilis IMF pada 25 Januari 2011 menunjukkan kenaikan perkiraan pertumbuhan ekonomi global dari semula 4,2% menjadi 4,5%. Hal ini terutama disebabkan peningkatan indeks kepercayaan konsumen di AS dan Jepang serta pertumbuhan relatif  tinggi di emerging markets.

Secara umum pemulihan ekonomi global bersifat two speed recovery dengan pertumbuhan lambat di negara maju disertai masih tingginya tingkat pengangguran, sedangkan emerging markets khususnya China, India, Indonesia, dan Turki terus mengalami pertumbuhan tinggi. Namun, perkiraan pertumbuhan positif tersebut masih dibayangi akan berlanjutnya kondisi ketidakseimbangan eksternal dan internal, serta risiko pemulihan ekonomi global yang masih signifikan.

Secara umum beberapa risiko yang membayangi perekonomian global adalah:

a.     Tingginya tingkat utang publik di negara maju khususnya Eropa yaitu Portugal, Spanyol, Italia, dan Belgia yang dikawatirkan dapat “melanjutkan” krisis Yunani dan Irlandia. Hal ini menimbulkan keraguan pasar keuangan mengenai kemampuan Eropa untuk menyelesaikan masalah tanpa menjalani restrukturisasi utang yang signifikan. Walaupun kondisi di Eropa diperkirakan tidak akan menular ke kawasan lain ataupun berdampak ke sektor riil dan secara umum kondisi pasar keuangan di kawasan lain cukup baik.

b.     Meningkatnya tekanan inflasi dan potensi terbentuknya penggelembungan aset di emerging markets akibat derasnya arus modal jangka pendek. Secara khusus potensi koreksi harga properti China menjadi risiko yang cukup signifikan yang dapat memicu pengaruh negatif bagi ekonomi global. Tekanan inflasi juga diperburuk oleh meningkatnya harga komoditas pangan dan energi internasional yang berpotensi mendorong instabilitas politik.

c.     Bagi emerging markets seperti Indonesia, tantangan utama adalah bagaimana mengelola volatilitas arus modal. Aliran modal ke negera berkembang pada tahun 2011 diperkirakan akan sedikit lebih rendah dibandingkan 2010 karena kekawatiran risiko overheating di negara berkembang. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah potensi keluarnya arus modal secara mendadak (sudden reversal), dampak arus modal masuk yang memberi tekanan bagi inflasi, dan penguatan nilai tukar secara berlebihan yang mengurangi daya saing.

Kondisi ketidakseimbangan ekonomi yang dapat menggangu pertumbuhan ekonomi global adalah 1) pemulihan ekonomi yang tidak seimbang di antara negara maju dan emerging markets. 2) ketidakseimbangan domestik yang ditandai oleh tingginya tingkat pengangguran dan melebarnya kesenjangan pendapatan di dalam negeri. Karenanya meskipun telah terdapat perbaikan kondisi perekonomian global sejak krisis ekonomi tahun 2008, namun hal  ini tetap dianggap bukan situasi ideal karena kondisi ini menyimpan risiko yang dapat menghambat laju pemulihan ekonomi global. Pemulihan ekonomi di masa depan diharapkan tidak hanya terfokus kepada perbaikan keadaan makro ekonomi, namun juga penciptaan lapangan kerja dan perbaikan jaminan sosial. Tanpa adanya lapangan pekerjaan yang cukup dan jaminan pendapatan, maka tidak akan tercipta permintaan domestik yang akhirnya tidak terjadi proses pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.

Beberapa tantangan utama bagi kerjasama ekonomi internasional saat ini termasuk di G 20 adalah 1) memelihara koordinasi dan kerjasama kebijakan secara regional dan global; 2) menjaga keberlangsungan fiskal dan menekan risiko perbankan di negara maju; 3) mengantisipasi tekanan inflasi akibat dari meningkatnya harga komoditi dan overheating ekonomi di emerging markets. Secara umum krisis ekonomi dan keuangan global menyediakan kesempatan untuk dapat melakukan reformasi struktur ekonomi internasional dimana negara maju menyadari bahwa sistim ekonomi yang ada perlu direformasi dan membutuhkan partisipasi aktif negara berkembang. Momentum pembentukan kerjasama dan forum baru seperti G20 perlu dimanfaatkan Pemri sebagai salah satu alat politik luar negeri.









AksesPPTM 2013Majalah QuAsDiplomasi Indonesia 2010Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. Natalegawa
ASEAN Selayang PandangLPSEPedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali Alatas
Ayo Kita Kenal ASEANPusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Proses dan Tata CaraMarket Info dan Info Pasar
MDGs ReviewPerpustakaan Hukum Kementerian Luar NegeriSekretariat Kabinet Museum Konferensi Asia AfrikaTDRMC
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan