Kontak Kami   |   FAQ   |   Link   |   Site Map
   |   Pencarian 

Berita Perwakilan

KBRI Yangon

Hubungan RI–Myanmar Sepanjang Masa

21 Januari 2007

INDONESIA dan Myanmar, dua negara yang secara geografis bertetangga di kawasan Asia Tenggara. Jarak keduanya hanya berkisar 350 mil. Dalam catatan sejarah kemerdekaan dan kaitan emosional, kedua bangsa punya hubungan sangat khusus.
Sejatinya, kedua bangsa memiliki banyak kesamaan. Masyarakat kedua negara multietnis. Indonesia pernah mengalami masalah national building, begitu pula Myanmar. Masyarakat di dua negara ini pernah merasakan dominasi militer sebagai pemimpin pemerintahan. Sejarah mencatat, hubungan bilateral Indonesia-Myanmar telah dibina sejak zaman kemerdekaan (1945).
 
Di bidang politik ditandai dengan dukungan Myanmar kepada Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan. Pada 1947, Myanmar yang saat itu dalam pemerintahan transisi di bawah pimpinan Aung San –ayah pejuang demokrasi Aung San Suu Kyi yang kini menjalani tahanan rumah sejak 2003– mendesak Pemerintah India menyelenggarakan Conference on Indonesian Affairs di New Delhi.
Bahkan, pada tahun yang sama, Myanmar memberikan izin pembukaan Indonesian Office di Yangon, yang merupakan cikal bakal Kedutaan Besar RI di negara itu. Ini sebagai bentuk dukungan Myanmar kepada Indonesia yang ingin mendapatkan pengakuan dunia internasional pascakemerdekaan. Hubungan dan kerja sama bilateral kedua negara secara resmi dimulai sejak 1951. ”Hubungan diplomatik Indonesia dengan Myanmar sudah terjalin 57 tahun.
 
Di masa perjuangan kemerdekaan RI, Myanmar termasuk salah satu negara yang banyak memberikan kontribusi,” ujar Direktur Asia Timur dan Pasifik Departemen Luar Negeri RI Yuri O Thamrin kepada SINDO. Selain itu, Myanmar juga mendukung pembebasan Irian Barat dan sebagai salah satu negara pendiri Konferensi Asia Afrika yang digelar di Bandung pada 1955. Setidaknya, selama masa kemerdekaan kedua negara, banyak kerja sama telah dilakukan.
 
Termasuk pada 26 Januari 1949. Ketika itu, pesawat RI-001 ”Seulawah” yang diterbangkan dari Kalkuta, India, tidak bisa masuk Indonesia karena semua lapangan terbang di Jawa dan Sumatera lumpuh total akibat serangan Belanda. Myanmar secara terbuka mengizinkan pesawat pertama milik RI itu —yang dibeli masyarakat Aceh— mendarat di Mingladon Airport Rangon. Ini awal berdirinya perusahaan penerbangan Indonesian Airways. Setibanya di Myanmar, pesawat itu langsung disewa Union of Burma Airways.
 
Tapi, setelah 1962, pemerintahan demokratis Myanmar berakhir akibat kudeta militer yang dilakukan Jenderal Ne Win.Pemerintah yang bertahan selama 26 tahun ini mengubah ideologi negaranya menjadi sosialis. Sejak itulah hubungan Indonesia-Myanmar mulai terhambat. Meski begitu, hubungan kedua negara tetap terjalin walau tidak terlalu intensif. Saling kunjung pemimpin kedua negara menjadi bukti kuat hubungan kedua bangsa dan negara begitu dekat. Presiden Soeharto bertamu ke Myanmar pada 26 November 1972, 26–29 Agustus 1974, dan 21–23 Februari 1997. Presiden Abdurrahman Wahid pada 7 November 1999.
 
Selanjutnya, Presiden Megawati Soekarnoputri pada 24 Agustus 2001. Sebaliknya, Jenderal Ne Win berkunjung ke Indonesia pada 11–14 Juni 1973 dan 8–13 Juni 1974.Tapi, Ne Win juga pernah berkunjung ke Indonesia pada 23–25 September 1997 dalam kunjungan pribadi atas undangan Presiden Soeharto. Sementara, Than Shwe pada 5–8 Juni 1995, November 1996, dan April 2005.

Pemimpin boleh berganti, tapi hubungan tetap terjalin. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melawat ke Myanmar pada Maret 2006 dalam rangkaian lawatan Asianya. Presiden SBY berada di Myanmar selama dua hari. Sebelumnya, Presiden mengunjungi Brunei dan Kamboja. Di Yangon, SBY melakukan kunjungan kehormatan kepada pimpinan junta militer State Peace and Development Council (SPDC) Than Shwe.
 
Presiden SBY adalah kepala negara ASEAN pertama yang mengunjungi Myanmar, sejak ASEAN secara terbuka menuntut negara itu mempercepat proses demokratisasinya. Di bidang ekonomi, jumlah investasi Indonesia di Myanmar saat ini baru mencapai US$241,5 juta atau menduduki urutan keenam.Volume perdagangan Indonesia-Myanmar tahun 2001–2002 berjumlah US$136,58 juta dan secara terus- menerus turun pada tahuntahun berikut, yang pada 2004–2005 menjadi US$106,01 juta.
(yani a/sunu h)






AksesInvitesPPTM 2013Majalah QuAsPengumuman Rekrutmen CPNS Kemlu Tahun Anggaran 2013
Pidato Pernyataan Tahunan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, DR. R.M. Marty M. NatalegawappidDiplomasi Indonesia 2013ASEAN Selayang PandangLPSE
Pedoman Praktis Pembuatan Pengesahan dan Penyimpanan Naskah PIPanduan Umum Tata Cara dan Kerjasama LN oleh PemdaPerpustakaan Ali AlatasPeluangAyo Kita Kenal ASEAN
QuAs edisi 4BSBI 2014PusdiklatStrategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017Buletin Komunitas ASEAN
next pre
Hak Cipta 2009 Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia | Syarat dan Ketentuan