I. ALJAZAIR
Nama Resmi
:
Republik Demokratik Rakyat Aljazair
Bentuk Negara
Republik
Ibu Kota
Alger
Luas Wilayah
2.381.741 km2
Lagu Kebangsaan
Qassaman Bin Nazilat Il-Mohiqat
Populasi
34.895.000 jiwa (estimasi 2009)
Arab dan Kabylie, Chaoui, Tuareg, Beni Mizab
Agama
Islam (99%), lain-lain (1%)
Bahasa
Arab (83%), Amazigh/Berber (17%), Perancis
Mata Uang
Dinar Aljazair (DA); 1 US$=64 DA
Hari Nasional
5 Juli 1962 (Hari Kemerdekaan)
1 November 1954 (Hari Revolusi)
Kepala Negara
Presiden Abdelaziz Bouteflika (dilantik untuk jabatan ketiga kali 18 April 2009)
Kepala Pemerintahan
Perdana Menteri Ahmed Ouyahia (27 April 2009)
Menteri Luar Negeri
Mourad Medelci (27 April 2009)
Sistem Politik
Eksekutif : Presidensil
Legislatif : Bicameral
Partai Yang Memerintah
Koalisi tiga partai:
1. Front Pembebasan Nasional (FLN);
2. Perhimpunan Nasional Demokratik (RND);
3. Gerakan Masyarakat untuk Perdamaian (HMS).
GDP
US$ 156.8 milyar (estimasi 2010)
GDP per kapita
US$ 4,418 (estimasi 2010)
Komoditas Ekspor Utama
minyak mentah, gas alam, fosfat, zaitun, korma
Komoditas Impor Utama
Peralatan industri, produk setengah jadi (kayu, besi, lempengan baja), gandum, susu, gula, mobil, produk obat, suku cadang kendaraan.
Keikutsertaan dalam Organisasi Internasional
OPEC
PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa);
Union du Maghreb Arabe (UMA);
OKI (Organisasi Konferensi Islam);
GNB (Gerakan Non Blok);
Komite Al-Quds.
Links
www.algeria-un.org
www.algeria.com
II. HUBUNGAN BILATERAL
a. Sejarah singkat hubungan bilateral
Hubungan Indonesia - Aljazair telah dirintis sejak masa perjuangan bangsa Aljazair merebut kemerdekaan dari penjajahan Perancis (1954-1962). Indonesia sebagai Ketua dan pemrakarsa GNB (Non Aligned Movement) sesuai dengan politik Iuar negerinya yang bebas aktif telah mendukung perjuangan kemerdekaan Aljazair secara nyata antara lain melalui pembentukan Komite Pendukung Perjuangan Aljazair, Maroko dan Tunisia diketuai oleh PM RI Mohamad Natsir
Presiden RI Soekarno dalam kesempatan kunjungan ke Tunis juga menerima Presiden Aljazair dalam pengungsian Dr. Ferhat Abbas dan mengirimkan bantuan kepada para pejuang Aljazair. Indonesia mengundang wakil-wakil Aljazair untuk hadir sebagai peninjau pada KAA Bandung 1955 yang mengakui perjuangan bangsa Aljazair sebagai hak yang sah untuk memperoleh kemerdekaan. Pada tahun 1956 - 1961 Front Pembebasan Nasional (Front de Liberation National/FLN) Aljazair telah membuka kantor cabang di Jakarta yang dikepalai oleh Lakhdar Brahimi (Menlu Aljazair periode 1990 – 1995) untuk menggalang dukungan masyarakat internasional khususnya dari Negara-negara anggota GNB bagi perjuangan kemerdekaan Aljazair.
b. Kerjasama dan hubungan politik
Hubungan baik kedua Negara antara lain juga dilatarbelakangi oleh beberapa kesamaan seperti Indonesia dan Aljazair berpenduduk mayoritas muslim, sama-sama menganut politik luar negeri yang anti kolonialisme dan aktif mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa yang terjajah. Indonesia merupakan salah satu Negara pertama yang mengakui kemerdekaan Aljazair tanggal 5 Juli 1962 dan KBRI merupakan salah satu Kedubes asing pertama yang dibuka di Alger tahun 1963.
Sejak dibukanya hubungan diplomatik kedua negara, perkembangan hubungan bilateral mengalami pasang surut di berbagai bidang berdasarkan prioritas kepentingan nasional dan kondisi dalam negeri masing-masing.
Dalam berbagai forum internasional, kedua negara senantiasa menjalin kerja sama yang intensif dalam memperjuangkan aspirasi dan kepentingan negara berkembang serta meningkatkan saling pengertian. Kedua negara mempunyai kesamaan pandangan mengenai isu internasional yang menjadi perhatian bersama termasuk memberikan dukungan dalam konteks pencalonan kedua negara di berbagai badan internasional. Kedua negara juga merupakan anggota OKI, G-15, GNB dan Kelompok 77 serta PBB.
c. Kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi
Di bidang ekonomi, nilai perdagangan kedua negara belum mencerminkan potensi kedua negara. Pada tahun 2005-2010, total neraca perdagangan kedua negara termasuk migas surplus bagi Aljazair karena Indonesia mengimpor minyak mentah dari Aljazair. Pada tahun 2009, total nilai perdagangan sebesar US$ 217.610 ribu. Pada periode Januari-Februari tahun 2010 total perdagangan sebesar US$ 20.034 ribu menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2009 sebesar US$ 21.248 ribu. Nilai ekspor Aljazair ke Indonesia sebesar US$ 54.320 ribu dan impor dari Indonesia sebesar US$ 163.289 ribu.
Di sektor infrastruktur, terdapat peluang usaha yang sedang berkembang pesat di Aljazair. Anggaran pembangunan infrastruktur (2009-2014) yang berjumlah US$ 140 miliar dialokasikan untuk percepatan pembangunan ekonomi dan pembangunan infrastruktur kawasan Aljazair Tengah dan Selatan. Salah satu BUMN Indonesia PT.Wijaya Karya saat ini sedang mengerjakan proyek pembangunan jembatan, saluran drainase dan membangun pabrik beton di Aljazair. Aljazair juga menawarkan peluang kerjasama pembangunan jasa di bidang konstruksi seperti infrastruktur publik, perumahan, pelabuhan pipanisasi air dsb senilai Rp. 900 milyar kepada Indonesia. Pemerintah Aljazair melalui Menteri Agama dan Wakaf juga menyampaikan harapannya agar Indonesia dapat berpartisipasi dalam pembangunan mesjid agung Aljazair senilai 1,2 milyar Euro (hampir Rp 16 triliun) yang merupakan mesjid kedua terbesar setelah Masjidil Haram.
d. Kerjasama sosial budaya dan pariwisata
Citra Indonesia yang begitu melekat di masyarakat Aljazair dapat terus ditingkatkan ke bidang sosial dan pariwisata. Beberapa tahun terakhir ini kedua Negara melalui koordinasi instansi terkait secara rutin mengirimkan pelaku pariwisata (antara lain: agen perjalanan dan penerbangan) untuk saling mengunjungi objek dan potensi wisata di kawasan. Hal ini akan meningkatkan awareness di kedua pihak yang pada akhirnya akan menambah kunjungan wisatawan di kedua Negara dimana saat ini masih dirasakan kurang.
I. ALGERIA
Official Name
People’s Democratic Republic of Algeria
Nation System
Republic
Capital
Area
National Anthem
Population
36 million (March 2008)
Ethnic: Arab and Kabylie, Chaoui, Tuareg, Beni Mizab
Religion
Islam (99%), others (1%)
Language
Arab (83%), Amazigh/Berber (17%), French
Currency
Algerian Dinar (DA); 1 US$=64 DA
National Day
5 July 1962 (Independence Day)
1 November 1954 (Revolution Day)
Head of State
President Abdelaziz Bouteflika (installed for the 3rd period on 18 April 2009)
Head of Government
Prime Minister Ahmed Ouyahia (27 April 2009)
Minister of Foreign Affairs
Politic System
Executive : Presidential
Legislative : Bicameral
The Ruling Party
Coalition of three parties:
1. National Liberation Front (FLN);
2. Rassemblement National Democratique (RND);
3. HMS
US$ 156.8 billion (estimasi 2010)
GDP per capita
Main Export Commodity
Crude oil, natural gas, phosphate, olive, dates
Main Import Commodity
Factory equipment, semi-finished products (wood, iron,
Steel plates), wheat, milk, sugar, car, medical product, vehicle spare parts.
Member of International Organization
II. BILATERAL RELATIONS
a. Initiation of Bilateral relationship
The relationship between Indonesia - Algeria has been conducted since the Algerian struggle for independence from colonial France (1954 - 1962). Indonesia as Chairman and the initiator of NAM (Non-aligned Movement) in line with foreign policy namely independent and active, has actively supported Algeria to gain their independence. For that reason Indonesia established Committee of Supporting Independence Struggle of North Africa Countries chaired by Prime Minister of RI Mohamad Natsir.
President of Indonesia Soekarno in the occasion of visiting Tunis also received exiled President of Algeria Ferhat Abbas and delivered the aid to the Algerian combatants. Indonesia invited representatives of Algeria to attend Asia Africa Conference in Bandung on 1955 as observer. Indonesia recognized the struggle of Algerian to be an independent nation as a legal right. In the year 1956 - 1961 National Redemption Front (Front de Liberation National / FLN) Algeria has opened their office in Jakarta which is led by Lakhdar Brahimi (Algeria’s Foreign Minister in period 1990 - 1995) to achieve the support from international community, especially from the members of NAM (Non Aligned Movement).
b. Political Relationship
Good relationship between the two countries was also aroused by some similarities, such as Algeria and Indonesia are a Muslim majority country, equal foreign policy that is anti-colonialism, and actively support the struggle for independence of colonized nation. Indonesia is one of the first countries which recognized the independence of Algeria on 5 July 1962 and is one of the first Embassies opened in Alger on 1963.
Since the diplomatic relations commenced, the development of bilateral relations has grown ups and downs based on national priorities and conditions in each country.In various international forum, the two countries continuously maintain intensive cooperation to argue their aspirations and interests as developing countries and enhance mutual understanding. Both countries shared the same views on international issues that are mutual concerned including giving reciprocal support in the context of both countries’ candidacy in various international bodies. Both countries are also members OIC, G-15, NAM and Group 77 and the United Nations.
c. Economic, trade, and investment cooperation
In the economic field, the trade volume has not yet reflected the potential of both countries. Total volume of the two countries, in the years 2002 – 2007, including oil and gas is surplus for Algeria for Indonesia imported crude oil from Algeria. The total bilateral trade volume in 2009 amounted U.S.$ 217.610 ribu. In the period from January to February 2010, total trade amounted to U.S. $ 20.034.000 decreased than the same period in 2009 amounted to U.S. $ 21.248.000. The Algerian exports to Indonesia amounted to U.S. $ 54.320.000, and imports from Indonesia amounted to U.S. $ 163.289.000.
In the infrastructure sector, there are large business opportunities in Algeria. The budget for infrastructure development (2009 – 2014) amounted to U.S. $ 140 billion is allocated for the acceleration of economic and infrastructure development in the Southern and Eastern Algeria. One of the Indonesian state-owned enterprises PT Wijaya Karya is currently working on bridge projects, drainage channels and to build concrete plant in Algeria. Algeria offers the opportunity cooperation in the field of construction services such as public infrastructure, housing, ports, water pipeline etc valued at Rp.900 billion to Indonesia. Algerian government through the Ministry of Religious Affairs and Endowments also expressed hope that Indonesia can participate in the development of the great mosques of Algeria worth 1.2 billion Euros (nearly USD 16 trillion), which is the second largest mosques after the Grand Mosque.
d. Social cultural and tourism cooperation
Image of Indonesia that is inherent in Algerian people is beneficial to expand the relationship to various fields such as social and cultural cooperation and tourism. In the last few years, both countries through the coordination of relevant authorities routinely send the tourism agent (among other things: tour and travel association) to visit tourism destination and potential in each other’s country. It increased more awareness for both society and will ultimately increase tourist visits in the two countries which is now still deficient.